Warga Sampangan Muncar Keluhkan Debu Sisa Pembakaran Pabrik Pengalengan Ikan

166
FOTO: Ilustrasi cerobong asap

BANYUWANGI, (Kabarjawatimur.com) – Warga di RW 3, Dusun Sampangan, Desa Kedungrejo, Kecamatan Muncar, Banyuwangi, mengeluh. Mereka merasa terganggu akibat banyaknya debu hitam pekat, yang diduga berasal dari sisa pembakaran sejumlah perusahaan pengalengan ikan diwilayah setempat.

Masyarakat paling terdampak debu hitam pekat tersebut ada di RT 02 dan 03, RW 3, Dusun Sampangan, Desa Kedungrejo. Atau pemukiman warga disekitar PT Sumber Yala Samudra.

Tak heran, pada Jumat, 22 Mei 2020 lalu, dua orang perwakilan warga, Muhammad Taji dan H Sunarto, bersama Kepala Dusun (Kadus) Sampangan, Anton Ansori, Babinsa dan Bhabinkamtibmas, mendatangi PT Sumber Yala Samudra. Tujuanya untuk silaturahmi sekaligus menanyakan tentang proses pembakaran.

Karena setahu warga, PT Sumber Yala Samudra, saat produksi, untuk pembakaran menggunakan batu bara.

“Saat itu entah kenapa, pihak PT Sumber Yala Samudra, menolak untuk menunjukan tungku pembakaran, dan hanya menunjukan video saja. Dan mereka menuding penyebab debu pekat adalah PT Sari laut,” ucap Muhammad Taji, Sabtu (30/5/2020) malam.

Baca Juga  Masa Karantina Usai, 171 Santri Dinyatakan Sembuh

Dari gelagat penolakan menunjukan tungku pembakaran tersebut, masyarakat makin meyakini bahwa penyebab polusi beruba debu pekat hitam yang sering mengotori pemukiman itu berasal dari cerobong asap PT Sumber Yala Samudra.

Tudingan tersebut bukan tanpa alasan. Karena warga setempat sering mendapati limbah batu bara dialiran air yang masuk ke perumahan. Dan saluran tersebut airnya dari PT Sumber Yala Samudra.

Loading...

“Kalau Sumber Yala bilang gak pakai batu bara, masyarakat punya bukti dan tahu semua. Lha limbah batu bara itu sering ikut ke saluran air. Air itu dari Sumber Yala, sebagai kompensasi pembangunan IPAL,” ungkapnya.

Dan waktu itu, lanjut Taji, karena pihak PT Sumber Yala Samudra, menuding bahwa polusi debu hitam pekat berasal dari PT Sari laut, warga pun langsung bertandang. Oleh PT Sari Laut, perwakilan warga bersama perangkat desa, diajak melihat langsung tungku pembakaran.

“Kita melihat sendiri, di PT Sari Laut, untuk pembakaran mereka menggunakan kayu bakar,” cetus Taji.

Baca Juga  Wakapolda Jatim Terkesan dengan Kemajuan Banyuwangi

“Masyarakat sini kan juga paham, cerobong asap PT Sari Laut itu jauh dari pemukiman warga, tapi kalau cerobong asap PT Sumber Yala, ya diatas pemukiman kita,” imbuhnya.

Dikonfirmasi terpisah, Pimpinan PT Sumber Yala Samudra, David Wijaya Tjoek, menjelaskan bahwa polusi debu hitam pekat yang mengotori pemukiman masyarakat bukan berasal dari perusahaannya. Namun berasal dari pabrik disekitar.

“Karena asap hitam itu, karyawan kami dan gedung kami juga jadi korban,” katanya.

Untuk PT Sumber Yala Samudra, demi meminimalisir dampak polusi pihaknya sudah tidak menggunakan kayu bakar atau solar untuk proses pembakaran. Bahkan, untuk cerobong asap sudah menerapkan teknologi Instal Water Tanure, sehingga yang keluar dari cerobong hanya uap air.

“Insya Allah IPAL kami sudah memenuhi standar,” ungkap pria yang juga Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Banyuwangi ini. (*)

Reporter: Rochman

Loading...

Tinggalkan Balasan