Tidak Bisa Menulis, Siswa Difabel di Bondowoso Tak Boleh Sekolah

52
M. Hendra Afriyanto (tengah) bersama orang tua.

JEMBER, (Kabarjawatimur.com) – Kisah pilu dialami Muhammad Hendra Afriyanto, pelajar kelas VII di SMP Negeri 2 Tamanan, Bondowoso, Jawa Timur. Cita-citanya untuk mendapatkan pendidikan harus terhenti.

Baru beberapa hari menikmati bangku SMP, pelajar berkebutuhan khusus ini harus menerima kenyataan: diminta mundur oleh guru dan kepala sekolah. Keterbatasan fisik Hendra dianggap guru pihak sekolah sebagai kendala untuk mengikuti pendidikan di sekolah tersebut. Akibat peristiwa tersebut, bocah disabilitas daksa ini traum, bocah polos ini hanya bisa menangis.

Peristiwa pilu anak dari kuli bangunan ini bermula saat Senin (03/08/2020) lalu diminta datang ke sekolah. Saat itu, Hendra dan orang tuanya diminta untuk menghadap ke sekolah oleh sang guru.

“Saya ditelepon hari Minggu, suruh ke sekolah. Katanya mengumpulkan tugas. Saya agak heran, karena biasanya pengumpulan tugas hari Selasa. Kok ini Senin. Tetapi kata gurunya, ini khusus untuk Hendra,” ujar Asyati, ibunda Hendra saat dikonfirmasi di rumahnya, di Desa Sumber Kemunging, Kecamatan Tamanan, Bondowoso pada Selasa (4/8/2020).

Sejak diterima di SMPN 2 Tamanan pada pertengahan Juli lalu, Hendra sebagaimana rekan-rekannya mengikuti pembelajaran dari rumah, sesuai protokol kesehatan. Guru memberikan tugas dan dikumpulkan oleh siswa beserta orang tua setiap hari Selasa.

Begitu tiba di SMPN 2 Tamanan, Asyati dan Hendra menghadap ke seorang guru wali kelas. Setelah menyerahkan tugas sang anak, guru tersebut mengajak Asyati dan buah hatinya itu untuk berbincang.

“Saya lupa namanya, karena masih beberapa minggu sekolah. Pokoknya guru honorer,” ujar Asyati.

Sang guru menanyakan kemampuan fisik sang anak untuk mengikuti pendidikan di sekolah tersebut. Sebab, kedua tangan Hendra sejak bayi tidak bisa digerakkan secara optimal, sebagaimana anak-anak lainnya, atau difabel daksa. Sehingga untuk menulis dan mengerjakan PR, sang ibu yang harus menuliskannya.

“Saya jawab, memang dari SD sudah seperti itu. Tapi dia secara akal, bisa mengikuti pelajaran seperti anak-anak lainnya. Dia bisa membaca, bahkan punya nilai matematika yang menonjol saat di SD,” jawab Asyati.

Sayangnya, jawaban Asyati itu tidak bisa diterima oleh sang guru.

“Guru tersebut bilang, terus gimana kalau ujian. Masak ibu yang mau nulis,” tutur Asyati, menirukan ucapan sang guru.

Baca Juga  Adies Kadir: Komisi III Setujui Usulan Tambahan Anggaran Kemenkumham Rp 1,46 T

Setelah itu Asyati dan anaknya diajak menemui kepala sekolah dan beberapa orang guru. Dalam pertemuan tersebut, salah seorang guru menjelaskan kepada Asyati, bahwa pihak sekolah kesulitan jika Hendra tetap bersekolah di SMPN 2 Tamanan. Sebab, tidak ada guru khusus inklusi yang sanggup mendidik Hendra. Saat itu pula, Asyati mulai merasakan, bahwa pihak sekolah secara halus meminta agar buah hatinya itu mengundurkan diri dari sekolah tersebut.

“Saat itu saya jawab, apakah berarti di sekolah ini tidak sanggup mengajar anak saya dengan kondisi seperti ini. Kemudian salah seorang guru menyarankan agar anak saya dipindahkan saja ke Sekolah Luar Biasa (SLB),” ujar Asyati.

Dengan berat hati, Asyati yang masih didampingi Hendra, mengiyakan “saran” dari kepala sekolah dan jajaran guru di SMPN 2 Tamanan. Ia menyetujui saran agar anaknya mengundurkan diri dari sekolah tersebut dan pindah ke sekolah. Pengunduruan diri itu langsung diterima oleh pihak sekolah.

Loading...

“Mereka langsung bilang, lebih enak sekolah di SLB,” ujar Asyati.

Saat itu pula, Asyati mengembalikan sejumlah buku pelajaran milik buah hatinya, kepada sekolah. Dialog itu begitu membekas di benak Hendra, bocah yang semula sangat antusias untuk sekolah di SMPN 2 Tamanan. Sebab, dia menyaksikan sendiri ucapan permintaan dari guru agar dia keluar dari sekolah.

“Pulang sekolah, anak saya langsung menangis cukup lama. Beberapa jam menangis,” ujar Asyati yang juga tak kuasa menahan air mata selama wawancara.

Kepada awak media, Asyati yang didampingi oleh Suyadi, suaminya, mengaku kesulitan untuk menyekolahkan anaknya di Sekolah Luar Biasa (SLB). Sebab, SLB di Bondowoso hanya ada di pusat kota. Sedangkan rumah mereka, ada di pelosok selatan Bondowoso. Sedari awal, Suyadi-Asyati berharap buah hatinya bisa sekolah di SMPN 2 Tamanan, karena hanya berjarak sekitar 10 menit perjalanan motor dari rumah mereka.

“Pekerjaan saya sebagai kuli bangunan harus bekerja dari pagi hingga sore hari. Kita kendala transportasi dan anak saya ini harus ada yang antar jemput kalau dia sekolah di kota. Saya tidak bisa bekerja dan biaya transportasinya akan lebih mahal kalau harus menyekolahkan di SLB yang ada di (pusat) kota (Bondowoso),” tutur buruh dengan gaji harian sekitar Rp 65 ribu per hari ini.

Baca Juga  Penjualan Ritel Daihatsu Capai 65.767 Unit

Suyadi menyesalkan pihak sekolah yang meminta anaknya keluar dari sekolah, ketika proses pendidikan sudah berjalan.

“Padahal, sejak awal, kita sudah sampaikan secara terbuka, kondisi keterbatasan fisik anak saya ini kepada guru. Saat itu, SMPN 2 Tamanan tidak mempermasalahkan. Kenapa baru sekarang dipermasalahkan,” sesal Suyadi.

Terpisah Kepala SMPN 2 Tamanan, Murtaji, saat dikonfirmasi wartawan membantah pihaknya meminta Hendra untuk mengundurkan diri dari sekolah. Ia menyebut, justru orang tua Hendra sendiri yang berinisiatif meminta untuk anaknya mundur dari SMPN 2 Tamanan.

“Tidak benar itu. Jadi kemarin orang tuanya datang ke sekolah, minta konsultasi. Ibunya sendiri kok, yang bilang, ingin memindahkan anaknya ke SLB,” ujar Murtaji saat dikonfirmasi melalui telepon pada Selasa (04/08) pagi.

Murtaji menegaskan, kedatangan orang tua Hendra ke sekolah, murni atas inisiatif sendiri, bukan karena dipanggil pihak SMPN 2 Tamanan. Atas permintaan “pengunduran diri” Hendra itu, pihak sekolah mengaku masih akan merapatkannya.

“Ini kita masih koordinasi, tapi tetap sekolah di sini. Memang sekolah di Bondowoso, harus menerima, memang di sini, ada yang seperti itu, tapi bisa menulis. Sudah ya, saya masih ada urusan rapat, nanti kita sambung lagi ya,” ujar Murtaji dengan sedikit gugup dan langsung menutup telepon.

Beberapa jam usai Kepala SMPN 2 Tamanan dikonfirmasi, Suyadi-Asyati mengaku didatangi 3 orang guru SMPN 2 Tamanan. Saat berkunjung ke rumah Hendra itu, tiga orang guru SMPN 2 Tamanan itu menyampaikan permohonan maaf. Mereka juga membawa kembali buku pelajaran milik Hendra yang sebelumnya sudah dikembalikan kepada pihak sekolah.

“Gurunya meminta agar Hendra sekolah di SMPN 2 Tamanan. Kalau saya terserah anak saya. Tetapi anak saya sepertinya masih trauma, waktu gurunya datang, dia masih nangis. Masih sakit hati dan emosi karena mendengar ucapan gurunya kemarin,” pungkas Suyadi dengan pasrah. (*)

Reporter: Rio

Loading...

Tinggalkan Balasan