Tidak Ada Paksaan Beli Beras ASN

0

JEMBER, (Kabarjawatimur.com) – Beberapa hari terakhir publik Kabupaten Jember gaduh. Penyebabnya pengadaan beras untuk seluruh ASN Pemkab Jember yang dikelola olah sebuah koperasi. Ada rumor bupati memaksa ASN untuk membeli beras tersebut pasca munculnya surat edaran bupati agar ASN menggunakan tunjangan berasnya untuk dibelikan beras itu.

Keberadaan koperasi bernama Koperasi Jember Harmoni Sejahtera atau KJHS disebut-sebut koperasi siluman meski mengelola pengadaan beras bulanan ASN senilai Rp. 2 miliar.

Meski demikian Ketua KJHS Arismaya Parahita sendiri pernah dipanggil oleh Komisi B DPRD Jember untuk dimintai keterangan dalam rapat dengar pendapat. Arismaya Parahita dikenal publik sebagai mantan kepala Dinas Koperasi dan UMKM yang pensiun per 1 Juni 2022.

Dalam rapat tersebut Arismaya mengungkapkan pendirian koperasi diinisiasi oleh Bupati Hendy Siswanto. Tujuannya untuk menjaga stabilisasi harga padi petani. Padi tersebut kemudian diolah menjadi beras oleh 9 penggilingan padi yang telah bekerjasama dengan
Koperasi KJHS.

Baca Juga  VLH Kabupaten Layak Anak, Bupati Bojonegoro Harapkan Target Tercapai

Saat Komisi B melakukan sidak kantor koperasi ternyata alamat yang ditunjuk oleh ketua koperasi adalah kantor BPOM Jember. Kondisi ini menambah kecurigaan dewan. Terlebih ditemukan juga beras dalam untuk ASN itu berkutu.

Terkait kegaduhan tersebut Sekda Mirfano mengatakan apa yang terjadi adalah bagian dari dinamika masyarakat.

Loading...

“Ini bagian dari kecintaan elemen masyarakat terhadap koperasi. Tidak menjadi masalah. Yang penting bagaimana padi petani bisa diserap oleh 9 penggilingan padi bisa memenuhi permintaan beras koperasi sesuai levelnya yakni medium,”katanya.

“Berasnya enak koq saya juga sudah beli koq berasnya enak. Istri saya juga beli untuk restonya,”tambahnya.

Sementara itu ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan atau KTNA Sucipo mengatakan munculnya beras ASN tersebut atas usulan dari anggota organisasi yang dipimpinnya.

Baca Juga  Jadi Korban Begal, Driver Ojol Luka Parah

“Karena harga beras sering anjlok kemudian kita rapat dengan kepala Dinas Pertanian Holtikultura dan tanaman Pangan. Kemudian kita rapat akhirnya muncul analisa produk yang kemudian kita laporkan ke bupati,” kata Sucipto menjelaskan kronologis munculnya ide beras tersebut.

Dari pertemuan dengan Bupati Hendy Siswanto tersebut, muncul ide agar ASN membeli beras dari 9 RMU (rice miling unit) atau penggilingan padi yang selama ini dibina oleh dinas.

“Tidak ada koq paksaan untuk membeli sebenarnya dari bupati. Hanya menyarankan saja, juga terkait harga bupati atau dinas tidak ayang ikut campur,”katanya.

“Semestinya harga perkilonya dengan dipaking 5 kiloan harganya 9200, tapi kita jual 9000 saja dengan kualitas medium. Justru KTN yang mensubsidi 100 hingga 200 perkilonya,”sambungnya. (*)

Reporter: Eko

Loading...
Artikulli paraprakParah, Solar Bersubsidi di Tuban Dikuras Para Mafia

Tinggalkan Balasan