Terlibat Pungli Kabapas Jember Terancam Dipecat

0

Jember,(kabarjawatimur.com) – Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia akhirnya memproses kasus pungutan liar atau pungli yang melibatkan Kepala Balai Pemasyarakatan (Bapas) Jember Wahyu Andayati (WA)

Berdasarkan informasi dari sumber terpercaya yang diterima awak media, WA hari Selasa (23/8/2022) dipanggil ke Kemenkumham di Jakarta untuk menjalani pemeriksaan.

Setelah dari Jakarta, WA jalani pemeriksaan lanjutan di Kantor Wilayah Jawa Timur.

Saat jalani pemeriksaan di kantor Kanwil, WA tidak sendiri menjalani pemeriksaan terkait pemotongan gaji stafnya. Ada empat staf Bapas Jember yang ikut menjalani pemeriksaan antara lain inisial S, E, G dan C.

“Kemarin Kabapas Jember dipanggil ke Jakarta untuk menjalani pemeriksaan di Kemenkumham,” kata sumber tersebut.

Baca Juga  Warga Jember Gelar Jalan Sehat Hingga Karnaval Rayakan Peringatan Kemerdekaan

Tidak hanya terkait kasus pungli berdalih kesepakatan, WA juga diperiksa terkait dugaan kasus asusila dan pemotongan anggaran Litmas (penelitian masyarakat).

Kasus yang menimpa WA tersebut ternyata sempat viral karena diunggah ke sosial media oleh salah seorang warga net atau netizen.

Pihak Kanwil Kemenkumham Jatim juga telah membuat berita acara pemeriksaan atau BAP.

Loading...

“Sudah diperiksa di kanwil, hasilnya positif melanggar. Sudah di BAP dan dikirim ke pusat, tinggal tunggu keputusan dari pusat,” jelas sumber tersebut.

Praktis karir WA saat ini berada diujung tanduk, tinggal menunggu keputusan dari Kemenkumham.

Pasalnya jika kasus tersebut terbukti, WA terancam hukuman non job bahkan bisa diberhentikan dengan tidak hormat.

Baca Juga  Empat Kendaraan Terlibat Kecelakaan Beruntun di Mentoro Tuban, Begini Kronologinya

Sementara Kakanwil Kumham Jatim Zaeroji saat dikonfirmasi melalui pesan whatsapps belum merespon.

Sebagai infomasi usai menjadi Kabapas Kelas II A Jember, instansi yang dipimpin WA banyak permasalahan.

WA dikenal otoriter sehingga menimbulkan disharmonis antar staf. Akibatnya seorang pegawai ada yang mengundurkan diri akibat tidak tahan dengan gaya kepemimpinannya yang cenderung merendahkan pegawai.

Kasus pungli berupa pemotongan gaji pegawai berdalih untuk membayar pegawai honorer. Padahal anggaran gaji tenaga honorer sudah masuk dalam DIPA.

Sedangkan untuk kasus asusila, menurut informasi yang diperoleh di lapangan WA diduga menjalin hubungan terlarang dengan staf berinisial R yang sudah beristri. (*)

Reporter: Rio

Loading...
Artikulli paraprakGegara ini, Siswa SMKN 2 Jember Tendang Leher Temannya Hingga Tewas

Tinggalkan Balasan