Tebang Tanaman Tebu Tanpa Izin Kades Klatakan Dilaporkan Polisi

38

JEMBER,(kabarjawatimur.com) –Kepala Desa Klatakan Ali Wafa dilaporkan polisi. Ali Wafa diduga menebang tebu tanpa izin pemilik tanaman. Tanaman yang ditebang secara sepihak tersebut tumbuh di atas tanah kas desa (TKD) Desa Klatakan.

TKD seluas 47,5 hektare di Dusun Penggungan, Desa Klatakan, Kecamatan Tanggul, selama ini ditanami tanaman tebu oleh penyewa warga Desa Paleran, Kecamatan Umbulsari, bernama Haji Marzuki.

Marzuki tidak sembarangan menanami lahan tersebut. Pada awal tanam masa, pengusaha tersebut menyewa kepada pemerintah desa setempat secara resmi hingga masa tebang terakhir tahun 2022.

Namun, secara sepihak dan tanpa izin secara arogan, Kades Klatakan Ali Wafa memerintahkan orang untuk menebang tebu yang tidak pernah dia tanam.

Akibatnya sebagai penyewa Marzuki melapor kepada polisi dengan tudingan Kades Ali Wafa melakukan pencurian.

Marzuki yang diwakili kuasa hukum Didik Muzani menyebutkan yang dilakukan kepala desa adalah tindakan ilegal dengan delik pencurian.

“Jadi awal adanya kejadian ini. Klien kami H. Marzuki menang lelang atas pengelolaan TKD di wilayah Desa Klatakan seluas 47,5 hektare. Padahal klien kami mengelola lahan tanah itu sejak tahun 2020-2022.

Kala itu klien kami menang lelang pengelolaan TKD yang dilakukan oleh Panitia Lelang Desa Klatakan yang sudah memenuhi aturan. Kala itu Kades lama Ramlan dilanjutkan oleh PJ Kades Wiwid. Sudah memenuhi mekanisme dan regulasi lelang,” kata Didik saat dikonfirmasi sejumlah wartawan, Kamis (1/9/2022).

Didik menjelaskan, dengan dasar memiliki hak untuk mengelola lahan penyewaan TKD itu. Kliennya pun mengelola lahan seluas 47,5 hektare itu.

Baca Juga  Satlantas Polrestabes Surabaya Patroli dengan Puluhan Motor Listrik

“Sebagaimana rekomendasi dari inspektorat Kabupaten Jember berdasarkan disposisi bupati yang menyatakan bahwa legalitas hak sepenuhnya adalah milik klien kami,” kata Didik.

Namun saat akan melakukan masa tebang terakhir tahun 2022. Secara tiba-tiba Kades Klatakan Ali Wafa melakukan penebangan lahan tanaman tebu lebih dulu tanpa izin.

“Padahal dokumen kami lengkap dan dasar sandaran hukum perdataan kami juga. Tapi adanya kepala desa baru di Klatakan. Pak Ali Wafa. Tiba-tiba serta merta tanpa izin yang berhak yakni klien kami. Melakukan penebangan tanaman tebu itu,” ungkapnya.

Loading...

“Tentunya dengan kondisi itu, kami merasa tindakan kades itu adalah bentuk pencurian. Penebangan lahan tanaman tebu itu dilakukan oleh orang suruhan Kades Ali Wafa. Bernama H. Suhud orang Sumberbaru,” sambungnya.

Bahkan dari informasi yang diketahui oleh Didik, lanjutnya, orang suruhan Kades untuk menebang itu sudah membayar sejumlah uang sebagai kompensasi.

“Nah karena tindakan itu. Kami pun membuat laporan polisi adanya dugaan tindak pidana pencurian. Terkait kejadian ini, klien kami juga sudah menunjuk kuasa hukumnya kepada kami. Kami akan memproses ini,” ujarnya.

Terkait tudingan tersebut, dikonfirmasi terpisah Kades Klatakan Ali Wafa mengatakan bahwa tindakan yang dilakukan olehnya sudah benar.

“Kalau memang itu milik H. Marzuki ya suruh tebang itu ji Marzuki. Tapi kalau bukan haknya ya jangan. Betul saya sebagai kades di sini. Saya tidak pernah sengketa lahan tanah dengan siapa pun. Selain itu, jika disampaikan punya dokumen. Dokumen Ji Marzuki itu apa? Punya dokumen apa tidak? Nyewanya ke siapa? Kepada siapa. Kalau memang itu punya ji Marzuki, apakah ji Marzuki mengelola lahan tanah itu. Ngasih pupuk atau apapun lain sebagainya,” ujar Ali saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon.

Baca Juga  Jalan Tol dan JLS di Jember Harus Segera Direalisasi

Namun kata Ali, terkait pengelolaan lahan yang dilakukan di lahan TKD yang dilakukan oleh H.Marzuki seluas 47,5 hektare. Pihaknya malah mengaku tahu jika yang mengelola adalah H.Marzuki.

“Saya terpilih sebagai Kades dan dilantik oleh Bupati Haji Hendy tahun 2021 tanggal 17. Tanggal 20 saya ngantor, tanggal 22 saya lihat ada aset desa yang ada di Klatakan. Aset desa di Klatakan itu, menurut data itu 54 hektare. Yang 65 hektare di dusun Gadungan. Saya tanya kepada PJ Kades (lahan di Klatakan dan Dusun Gadungan) dia yang menyewakan. Karena PJ kades punya hak, ya saya serahkan haknya,” ucap Ali.

“Kemudian Saya tanya ke TKD di Dusun Penggungan (Desa Klatakan), seluas 47,5 hektare. Saya tanya yang mengelola siapa dan ada yang bekerja saya diberhentikan. Saya tanya katanya yang mengelola Ji Marzuki. Setelah itu saya bilang kepada bapaknya (pekerja yang mengelola lahan). Ini yang nyewa suruh ke saya. Saya tunggu di kantor jam 2 tapi tidak datang dan malah ke kantor polisi. Saya diajak koordinasi di sana (kantor polisi) dan saya tidak mau,” sambungnya.

Namun kemudian ditanya atas dasar apa Kades melakukan penebangan tanaman tebu di Lahan H. Marzuki?

“Maaf saya ada pelayanan mas,” ucapnya singkat. (*)

Reporter: Rio

Loading...
Artikulli paraprakHUT Koperasi Kareb, Bupati Bojonegoro Sambut Kedatangan Gubernur Jatim
Artikulli tjetërOtopsi Korban Bunuh Diri di Polsek Tambaksari Tak Diijinkan Istri

Tinggalkan Balasan