Sindikat Praktik Aborsi yang Melibatkan Oknum ASN dan Polisi Berhasil Diungkap

10

BLITAR, (Kabarjawatimur.com) – Aksi kejahatan yang dilakukan oleh oknum Aparatur Sipil Negara (ASN) dan seorang Polisi ini memang tidak patut ditiru. Betapa tidak, keduanya diduga telah menyutradarai praktek aborsi seorang pelajar.

Dua orang yang kini ditahan di Mapolres Blitar adalah AT (52) warga Kelurahan/Kecamatan Sutojayan. AT tercatat sebagai ASN yang berdinas di Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blitar. Sedangkan oknum anggota Polisi adalah AN (35), warga Desa Pagerwojo Kecamatan Kesamben.

Kapolres Blitar AKBP Ahmad Fanani Eko Prasetya mengatakan, AT dan AN ditahan lantaran dianggap berperan penting dalam kasus aborsi yang telah dilakukan seorang pelajar. Dimana, pelajar tersebut adalah korban persetubuhan yang dilakukan oknum ASN Dinas Perhubungan Kabupaten Blitar.

“Setelah disetubuhi korban hamil, hingga akhirnya pelaku persetubuhan yakni GN (56) mengantarkan korban untuk melakukan aborsi di tempat praktek AT,” terangnya.

Baca Juga  Tambah Dua Lagi, Sudah Delapan Napiter di Jatim Bebas Selama 2022

Ahmad Fanani melanjutkan, kasus ini terungkap setelah dilakukan penyelidikan atas kasus persetubuhan oknum ASN terhadap anak angkatnya. Ternyata, saat itu pelaku meminta korban persetubuhan untuk mengaborsi kandungannya dengan mengantarkannya ke tempat praktek tersangka AT melalui AN.

“AT menjadi pelaku aborsi sudah sejak tahun 2003. Ia juga mematok harga sekitar Rp 2 juta hingga Rp 3 juta,” ungkapnya.

Loading...

Selain menahan AT lanjut Ahmad Fanani, petugas juga menyita barang bukti diantaranya sediaan medis berupa obat-obatan dan alat medis, berupa spekulum yang biasa digunakan untuk membuka organ kewanitaan.

“Dalam melancarkan aksinya, AT dibantu seorang oknum polisi anggota polsek yang berperan yang menunjukkan lokasi praktek kepada calon pengguna jasa,” terangnya.

Ahmad Fanani menambahkan, dalam kasus ini telah ditetapkan empat orang tersangka. Mereka adalah GN (ASN Dishub), korban persetubuhan yang sempat hamil.

Lalu tersangka utama adalah AT sebagai pelaku aborsi. Kemudian AN, oknum polisi yang membantu melancarkan praktek aborsi.

Baca Juga  Polisi Hanya Dapat 90 Butir Pil dari Pekerja Pabrik ini

“Pelaku utama aksi aborsi ini dijerat dengan pasal 194 junto 75 UU Republik Indonesia nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan dengan ancaman hukuman 10 tahun penjara,” pungkasnya.

Kepada kabarjawatimur.com , AT mengaku mayoritas pasiennya adalah pasangan muda-mudi yang tidak menghendaki kehamilan. Dirinya saat itu hanya memberi obat yang biasanya diruntuhkan bagi orang sesudah melahirkan sehingga membuat janin yang ada dalam kandungan gugur.

“Saya hanya memberi obat, dan tidak ahli sebenarnya dalam masalah ini,” katanya.

Dari hasil kejahatannya, AT mengaku mendapat keuntungan yang tidak sedikit. Sebab, obat yang diberikan dibeli seharga Rp 50 rb. Sementara dirinya menarik upah sebesar Rp 2,5 jt.

“Saya membeli obat seharga Rp 50 ribu,” ucapnya. (*)

Reporter: Gilang Bahtiar

Loading...
Artikulli paraprakJelang ‘Nataru’ Puluhan Kilo Sabu Gagal Beredar, Bandarnya Ditembak Mati Polisi
Artikulli tjetërRekapitulasi Suara Pilkada Gresik Rampung, Gus Yani – Bu Min Unggul

Tinggalkan Balasan