Sensasi Es Legendaris Dawet ‘Bung’ di Banyuwangi Sudah Buka Sejak 1958

333
Bung Suryo saat melayani pembeli (FOTO:Kabarjawatimur.com)

BANYUWANGI, (Kabarjawatimur.com) – Jika anda suka dengan sensasi aneka es yang legendaris jangan lupa mampir di stand es dawet milik Bung Suryo. Ya, ternyata kuliner ini cukup lama dirintis, yakni sejak tahun 1958.

Es dawet ini sebenarnya diberi nama Goyang Lidah yang berlokasi di jalan raya Banyuwangi-Jember, tepatnya di simpang empat Lateng, masuk Dusun Krajan, Desa Bubuk, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi.

Sensasi rasanya yang segar dan nikmat membuat minuman ini begitu disukai diberbagai kalangan baik dari anak-anak sampai orang dewasa. Dawet ini cukup terkenal. Bahkan, masyarakat menyebutnya dengan sebutan dawet Bung. Kenapa ya ?.

Pemilik usaha es dawet, Bung Suryo mengatakan, usahanya ini sebelumnya dirintis orang tuanya dengan cara berdagang keliling masuk ke Desa-desa sejak tahun 1958. Hingga pada akhirnya, diturunkan kepadanya hingga sekarang.

Baca Juga  Smart Kampung Plus, Program Peningkatan Kesejahteraan Desa ala Ipuk Fiestiandani
Loading...
Es Dawet Goyang Lidah ‘Bung’ (FOTO:kabarjawatimur.com)

Nah, berjalannya waktu, Saperi, orangtua Bung Suryo ternyata sangat mengidam ngidamkan sosok bapak Proklamator Indonesia, Ir. Soekarno. Bahkan, sangking kecintaannya terhadap Presiden pertama Indonesia itu, Saperi rela mengikuti Kongres Pemuda di Jakarta pada tahun 1962.

“Bapak dulu memang sangat ngfans pada Pak Karno,” kata Bung Suryo, Selasa (7/7/2020).

Sesekali, sepulang dari Jakarta naik kereta, masih Bung Suryo, bapak di gerbong kereta menirukan gaya dan ciri khas Pak Karno saat berpidato dihadapan orang banyak.

“Jadi di kereta itu manggil teman temannya saat di gerbong ‘Bung, Bung, Bung… ‘. Mangkanya sampai sekarang nama bung itu saya teruskan dan terkenal sebutan es dawet bung,” jelas Bung Suryo sembari tersenyum.

Baca Juga  Blusukan ke Cluring, Ipuk Sampaikan Program Tabungan Pelajar dan Peningkatan Insentif GTT

Es dawet merupakan minuman yang terbuat dari tepung beras dan biasanya dicampur dengan santan kelapa. Lebih segar biasanya pembeli juga mencampurnya dengan tapai. (*)

Reporter: Rochman

Loading...

Tinggalkan Balasan