Selama 18 Tahun Warung Kasih Umat Katolik Layani Umat Muslim Berpuasa

JEMBER, (Kabarjawatimur.com) – Kepedulian sosial dan toleransi antar umat beragama di Kabupaten Jember masih sangat kental. Salah satu potret toleransi dan kepedulian sosial ditunjukkan oleh Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) Cabang Jember.

Bertahun-tahun WKRI Jember telah menampung donasi dari para jemaat Katolik di Jember untuk membuka Warung Kasih, yang melayani menu berbuka bagi kalangan muslim dari kelompok ekonomi sederhana yang biasa mencari rizki di sekitar Gereja Katolik Santo Yusuf.

Setiap bulan Ramadhan tiba, Warung Kasih dibuka di samping gereja yang berdekatan dengan Masjid Jamik Al-Baitul Amin dan Alun-Alun Jember yang merupakan pusat kota Jember. Kegiatan sosial ini sudah rutin 18 tahun digelar oleh jemaat Katolik Jember. Warung kasih hanya sekali tidak dibuka yakni pada puasa tahun lalu, akibat wabah pandemi Covid-19.

Namun tahun ini dibuka lagi karena banyak umat muslim yang menginginkan warung sosial ini dibuka lagi.

“Karena banyak saudara-saudara seperti tukang becak yang biasa mangkal di sekitar yang bertanya tentang kelanjutan mengapa Warung Kasih tahun ini masih tutup. Semula kami berencana meniadakan lagi, tetapi mereka berkomitmen untuk menjaga jarak dan taat prokes,” ucap Valentina Indarti, Ketua Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) Cabang Jember yang menjadi penyelenggara rutin Warung Kasih, Selasa (20/4/2021).

Setelah melalui pertimbangan dan proses diskusi, WKRI yang menyalurkan donasi dari jemaat Katolik di Jember memutuskan untuk kembali membuka Warung Kasih pada bulan puasa tahun ini, dengan tetap menjaga protokol kesehatan.

“Mereka harus pakai masker. Kalau tidak membawa, kami sediakan. Kita juga sediakan cuci tangan sebelum masuk halaman,” terang Valentina.

Loading...

Namun layanan warung ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, jika biasanya menu berbuka dijual dengan harga amat murah untuk kaum dhuafa seperti tukang becak dan pedagang asongan, kali ini panitia memutuskan untuk menggratiskan seluruh menu berbuka. Selain itu, penempatan menu juga mengikuti protokol kesehatan.

“Karena pandemi, kita gratiskan saja semuanya. Selain itu, kalau tahun lalu, mereka biasa mengambil di piraing, kali ini kita bungkus dalam nasi bungkus dan dimakan di rumah. Jadi potensi berkerumun bisa diminimalisir,” papar Valentina.

Warung Kasih ini akan buka selama empat hari dalam seminggu, dimulai hari Senin kemarin hingga Kamis. Setiap harinya, panitia yang merupakan ibu-ibu jemaat Katolik menyediakan 200 nasi bungkus.

“Semuanya bersumber dari donatur, kita tidak menghitung berapa nominalnya setiap hari,” tutur Valentina.

Tidak hanya warga muslim, saat Warung Kasih Ramadan tidak buka pada puasa tahun lalu, para donatur jemaat Katolik juga sempat mempertanyakannya.

“Karena keinginan para donatur ntuk berbagi ini sangat besar,” lanjut Valentina.

Semangat untuk berbagi itu pula, yang membuat Warung Kasih bisa konsisten diadakan selama 18 tahun terakhir.

“Sebelum ini kami juga membagikan sembako dan pakaian layak pakai ke pelosok-pelosok desa,” pungkas Valentina.

Rahma, seorang penjual keliling yang biasa berjualan di sekitar alun-alun, merasa terbantu dengan adanya Warung Kasih ini. Ia membawa serta beberapa bungkus nasi untuk dimakan bersama anggota keluarganya di rumah.

“Apalagi di sini lebih bersih dan juga gratis,” ujar istri tukang becak ini sembari tersenyum.

Reporter: Rio

Loading...
Berita sebelumyaKapolri dan Dirut BPJS Kesehatan Sepakat Tingkatkan Pelayanan Kesehatan Pengguna Jalan
Berita berikutnyaKapolda Jatim Beri Pemaparan Polres Blitar Jelang Perayaan Idul Fitri

Tinggalkan Balasan