Sumitro Hadi, sang maestro Jejer Gandrung. (Istimewa)

BANYUWANGI, – Berbicara tentang perkembangan kesenian musik dan tari Banyuwangi tidak akan jauh dengan sosok yang satu ini. Sumitro Hadi atau lebih dikenal dengan Pak Mitro sang maestro tari Jejer Gandrung Banyuwangi ini sudah tidak asing di telatah Bumi Blambangan, pasalnya karya-karya beliau selalu menjadi rujukan baik akademik maupun non akademik.

Tidak sedikit karya dan prestasi yang pernah diraih oleh pimpinan Sanggar Tari Jingga Putih ini, mulai dari kancah Nasional hingga Internasional sudah pernah tercapai tentu untuk mencapai semua itu tidaklah mudah.

Perjuangan dan kegigihan untuk terus melestarikan kesenian Banyuwangi diawali dari bergabungnya dengan kelompok Angklung Dwilaras Gladag pada tahun 1967. Pada saat masih bersekolah di SPG Pandan, keberaniannya melakukan revitalisasi tarian Jaran Goyang pada tahun 1969 menjadi salah satu catatan debut langkahnya.

Tari Jaran Goyang yang diiringi dengan music angklung, merupakan hasil besutan seniman LKN : Parman, Suparni dan Arifin dirubah Sumitro Hadi sesuai dengan kreasinya. Perubahan pada durasi fragmentasi yang lebih singkat dan jumlah penari dari 14 menjadi hanya berjumlah 2 orang penari, diterima sangat baik dan antusias oleh seniman dan masyarakat pada saat itu.

Keberaniannya melakukan revitalisasi tari-tarian pergaulan yang ada, menjadi modal awal pengabdiannya. Termasuk juga diantaranya Tari Padhang Bulan yang merupakan ciptaan Wim Arimaya dengan iringan musik angklung gendhing Kertas Mabur (versi awal lagu Padhang Bulan), dirubahnya menjadi lebih kuat idiom Using untuk menghilangkan nuansa Serampang Duabelas.

Tari-tari berthema pergaulan Banyuwangi, seperti : Tari Jaran Goyang, Tari Padhang Bulan, Tari Ciblungan, Tari Layangan Pedotmenjadi semakin berakar karena tangan dinginnya.

Baca Juga  Pelaku Pembobolan Puluhan SD dan SMP di Jombang Diringkus Polisi

Berangkat sebagai pendidik (guru) di sekolah Sekolah Menengah Pertama (SMP) 2 Rogojampi sekaligus mengajar di SPG (Sekolah Pendidikan Guru) Pandan, terus tak henti mengajarkan ilmu tarinya kepada murid-muridnya. Bahkan, Sumitro Hadi juga pernah menjabat sebagai Kasi Kesenian pada Dinas Pendidikan Banyuwangi, serta pernah bertugas di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi hingga pensiun.

Pada tahun 1975, Sumitro Hadi dipercaya sebagai koordinator Duta Seni dari Banyuwangi dalam rangka Parasamya Purnakarya Nugraha.

Parsamya Purna Nugraha yang artinya Anugerah atas pekerjaan yang baik atau sempurna untuk (kepentingan) semua orang tersebut, adalah sebuah tanda penghargaan yang diberikan kepada Provinsi Jawa Timur pada saat itu berhasil menunjukkan hasil karya tertinggi pelaksanaan Pembangunan Lima Tahun dalam rangka meningkatkan kesejahteraan seluruh rakyat.

Sebanyak 700 orang melakukan parade, dan menari massal Jaran Buto secara kolosal dengan iringan Angklung Daerah, dan menampilkan fragmen Janger Penobatan Bhre Wirabumi di Tambaksari Surabaya.

Koreografer dan Pimpinan Sanggar Tari Jingga Putih Gladag Rogojampi ini, memang cukup berperan mendorong kemajuan seni Tari kreasi tradisional di Banyuwangi. Namun selain itu, Sumitro Hadi juga telah ikutan berperan mendorong kelahiran musik angklung pengiring tari kreasi pertama bersama arranger Soetedjo Hadi yang difungsikan sebagai musik pengiring tari yang diciptakannya.

Sumitro Hadi telah menciptakan tari, musik, lagu sebanyak 100 (seratus) macam, dan dua album karyanya bersama arranger Soetedjo Hadi telah menjadi masterpiece angklung, yaitu : “Instrumental Tari Blambangan Vol.1 dan 2”

Baca Juga  Pohon Besar Tumbang, Jalur Gumitir Banyuwangi - Jember Macet 2 Jam
Loading...

Dalam ingatan yang masih lengket, beliau pernah berpesan kepada generasi muda di desanya pada saat latihan music perdana di sanggarnya “orang itu akan halus budinya dan tebal rasa tau dirinya kalau sudah belepotan dalam masalah seni. Jadi, bukan seniman kalau masih punya rasa iri, dengki, dan nafsu serakah dan angkara”.

Dan kini sang maestro telah berpulang, berbagai karya, pemikiran, dan perjuangan akan tetap dikenang oleh para generasi penerus seiring dengan jejak yang telah beliau torehkan demi kemajuan dan perkembangan seni dan budaya Bumi Blambangan.

Beliau telah kembali kepada kesejatian sang pemilik kuasa sementara karya besar akan tetap ada dan menjadi jejak bahwa beliau sangat luar biasa. Sabtu 26 Desember 2020 di RSU Blambangan, Langit Banyuwangi Berduka tepat pukul 10:00 WIB, jenazah beliau tiba dan disemayamkan di TPU Desa Gladag Krajan. Semoga almarhun diterima segala amal kebaikkannya dan diampuni segala kesalahannya oleh Allah Swt.

Allahummaghfirlahu warhamhu wa ‘afihi wa’fu anhu. Selamat jalan mbah mitro, karya panjenengan abadi. Terimakasih atas segala perjuangan yang telah panjenengan berikan untuk kelestarian budaya Banyuwangi.

Kita adalah milikNya. Dan hanya menunggu waktu kita juga akan sama. Hanya amal dan karya yang tersisa. Bahwa kita semua pernah ada.

Iqbal Maulana

-Penulis adalah Muhammad Iqbal Maulana atau Xball Ariyaza, salah satu Keluarga Sumitro Hadi, dan Perintis “Gladag Art Village”
-Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, dan bukan menjadi bagian tanggungjawab redaksi Kabarjawatimur.com

Loading...
Berita sebelumyaHore! Kapal Lintas Ketapang-Lembar Resmi Beroperasi
Berita berikutnyaTarik Wisatawan dengan Terapkan Prokes, Ini yang Dilakukan Pengelola Wisata di Jember

Tinggalkan Balasan