Pungli Pelabuhan Gilimanuk, Khusus Untuk Angkutan Penumpang Orang

21

GILIMANUK-(kabarjawatimur)
Pungli (pungutan liar) genjar genjar diberantas di jajaran kesatuan dan kepemerintahan Republik Indonesia.
Dengan pemberantasan Pungli yang telah mengakar ditubuh Polri dan jajaran Kepemerintahan, masih dirasa sulit untuk diberantas.

Kenapa seperti itu? Dan apakah pemberantasan Pungli sudah menyeluruh?
Dari beberapa tayangan yang disajikan oleh media masa, hal tersebut telah dilakukan.
Namun masih ada kekurangan dengan pemberantasan pungli yang sementara masih disorot di tingkat kota besar di Indonesia terutama di kepulauan Jawa.

Sedangkan untuk beberapa pulau di luar Jawa dirasa belum dimaksimalkan.
Mengapa seperti itu? Hal tersebut terbukti dengan temuan pada Jumat (18/11/2016) sekitar pukul 07.00 WITA.

Beberapa menit sebelum berita ini diturunkan, ditemukan pungutan liar yang dilakukan oleh pihak hukum Polri di jajaran Polda Bali.
Pengutan liar yang dilakukan kepada rombongan bus pariwisata yang mengangkut 30 jurnalis media masa.
Rombongan yang mengunakan bis pariwisata dengan nopol H….(XX), menyeberang mengunakan kapal fery dari Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi sekitar pukul 05.30 WIB dan tiba di Pelabuhan Gilimanuk, Bali pukul 07.00 WIB WITA.

Loading...
Baca Juga  Cabuli Pelajar 17 Tahun Dengan Modus Ajak Main Game, Pelaku Gagahi 3 Kali

Sekeluarnya bis rombongan wartawan yang melalui pintu keluar Pelabuhan Gilimanuk, langsung dihadang oleh anggota Kepolisian.
Berhentinya bus tersebut lantas anggota Polri mengadahkan tangan, dan seketika itu juga disambut dengan pemberian selembaran uang dari kernet bus rombongan wartawan.
Namun untuk beberapa angkutan barang atau truck yang keluar dari kapal tidak dicegat oleh pihak kesatuan Polri.

Hal tersebut menjadikan pertanyaan dari sejumlah rekan media yang ada di dalam bus.
Dari pertanyaan berhasil terjawab setelah kenet dan supir bus pariwisata memberikan jawaban.
“Hal tersebut biasa, mendingan yang tadi itu hanya satu kesatuan saja yaitu Polisi, biasanya Sat Pol PP dan juga Dinas Perhubungan atau TNI,” ujar Kenet.

Baca Juga  Kembangkan Pariwisata Daerah, Menparekraf Apresiasi Kinerja Bupati Bojonegoro

Saat dipertanyakan kembali oleh awak media terkait besar biaya pungli atau tarikan tidak resmi, sang supir memberikan keterangan, bahwa untuk tarikan biasanya sekitaran antara Rp. 15 ribu hingga Rp.20 ribu.
“Yang ditarik adalah angkutan penumpang orang sedangkan barang tidak, itu dilakukan sebagai penganti dari pemeriksaan identitas, dan membayar supaya cepat tidak diperiksa,” akui Supir.

Reporter. : Rusdi
Editor. : Budi
Publisher: Gunawan

Loading...
Artikulli paraprakCuri Motor, Kabur Dikejar Polisi, Menyerah Setelah di Dor
Artikulli tjetërPenjual Nasi Bungkus Tertangkap Bisnis PSK Online

Tinggalkan Balasan