Program Pertanian Terpadu Bantu Petani Banyuwangi Tingkatkan Hasil Produksi

231
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, Ketua KTNA Michael Edy Hariyanto, bersama Pupuk Kaltim Panen padi disawah. (FOTO:Rochman/Kabarjawatimur.com)

BANYUWANGI, (Kabarjawatimur.com) – Peran BUMN di bidang pupuk sangat penting dalam ketahanan pangan di Indonesia dalam masa pandemi covid-19 atau corona. Melalui program Demonstration Plot (Demplot), Pupuk Kaltim membantu pengembangan budidaya padi di Banyuwangi, Jawa Timur.

General Manager Pemasaran PSO Pupuk Kaltim, Muhammad Yusri mengatakan, demplot merupakan kemitraan dari pupuk kaltim. Demplot ini bertujuan untuk memotivasi petani dalam bercocok tanam secara organik dan menggunakan teknologi untuk meningkatkan hasil produksi khususnya tanaman padi sawah.

“Kami sedang mengembangkan konsep pertanian kelanjutan untuk meningkatkan produtifikas demi mendapatkan keuntungan dan kesejahteraan pada petani. Ini juga kewajiban kita terhadap ketahanan pangan nasional,” kata Yusri usai panen dilahan sawah di wilayah Dusun Krajan, Desa Bubuk, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi, Sabtu (11/7/2020).

Panen demplot ini, kata Yusri, merupakan pertama kalinya uji konsep kemitraan dengan kerja sama dengan Dinas Pertanian sebagai pengawal dan petani melakukan budidaya pertanian. Bahkan, di daerah lain, pupuk kaltim sudah bekerjasama dengan mitra kelompok tani, dan BumDes.

Baca Juga  Dinilai Aman, Polisi Turunkan Jumlah Personil Pengamanan Sidang MSAT
Panen padi disawah menggunakan mesin. (FOTO:Rochman/kabarjawatimur.com)

“Ini merupakan pembelajaran pada petani. Bukan cocok tanam saja, tapi bisnis juga. Apabila para petani tidak memiliki modal, pupuk Kaltim juga bisa mengandeng dengan perbankan melalui dana KUR,” cetusnya.

Loading...

Menurutnya, Banyuwangi sangat bagus dengan program ini. Dalam sekali panen saja bisa mencapai 8,8 ton per hektar. Namun jika memakai metode biasanya, tanpa demplot hanya berkisar 6 ton per haktar. Jadi ada selisih 2 ton per hektar. Maka dari itu ada kenaikan. Terlebih harga gabah jika dirupiahkan Rp. 4.500 per kilogram, ada kenaikan sekitar Rp. 9 juta pada petani.

Tentunya, pemupukan ini juga memakai pupuk non subsidi, diantaranya pupuk urea, NPK, pelangi, dan hayati. Terpenting, petani juga harus memakai pupuk organik.

“Pupuk organik itu pupuk penting, tujuannya adalah untuk memperbaiki sifat fisik dan struktur pada tanah,” paparnya.

Baca Juga  Kartini Street Food, Favorit Warga Bojonegoro

Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Banyuwangi, Michael Edy Hariyanto menyampaikan, program pupuk kaltim ini berguna meningkatkan produksi pertanian. Dalam hal ini, pihaknya sangat getol dalam produksi pertanian di Bumi Blambangan lebih tambah naik.

“Intinya program ini untuk menambah penghasilan petani. Bahkan, tanah desa dan aset Pemkab bisa dibuat percontohan untuk memakai pupuk yang berimbang yang direkomendasikan oleh Dinas pertanian,” jelas Michael yang juga Wakil Ketua DPRD Banyuwangi.

Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas menegaskan, belajar yang paling cepat adalah turun dilapangan. Kini harga gabah rentang relatif aman, hal ini juga menguntungkan para petani.

“Mari program ini didorong dan difasiltasi. Apalagi ada model kerjasama dengan BumDes, karena banyak sekali aset aset desa yang selama ini hanya dikelola secara konvensional,” tegasnya. (*)

Reporter: Rochman

Loading...
Artikulli paraprakKecanduan Judi Online, Seorang Sarjana Nekat Nyuri Motor di Pantura Gresik
Artikulli tjetërHadir Perdana, Ponpes Sumber Terang Suguhkan Konsep Kampung Inggris di Gresik

Tinggalkan Balasan