PPSA Balita Sidoarjo Minta Korban Perkosaan Tidak Gugurkan Kandungan: Serahkan Pada Kami!

76

SIDOARJO, (Kabarjawatimur.com) – Menyikapi kasus-kasus pemerkosaan di Jawa Timur, Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Perlindungan Pelayanan Sosial Asuhan Balita Sidoarjo Provinsi Jawa Timur, Dwi Antini, menyayangkan keputusan rata-rata korban untuk menggugurkan kandungan.

Menurutnya, selain menggugurkan kandungan berisiko tinggi membahayakan keselamatan jiwa calon ibu dan juga merampas hak hidup janin.

Ditemui di kantornya, dia menegaskan kepada korban pemerkosaan maupun keluarga yang tidak berkeinginan memelihara bayi atau anak dengan alasan apapun untuk menyerahkan bayi dan anak mereka kepada pihaknya.

“Kami menerima laporan dan anak dari kasus penelantaran lebih tinggi di tahun ini. Tahun lalu ada sebanyak 43 anak yang dibuang atau ditinggalkan sembarangan,” ucap Dwi Antini, pada Rabu (23/10/2019).

Di tahun 2019 ini, lanjutnya, hingga pertengahan tahun saja, pihaknya sudah menerima 31 anak. “Belum lagi yang diserahkan secara sukarela. Saya juga meyakini angka ini akan terus bertambah,” tambahnya.

Baca Juga  Syaifuddin Minta Skema Pembiayaan Perpres 80 Direvisi

Berdasarkan data yang diterima kabarjawatimur.com, setidaknya total anak yang berada di bawah asuhan Perlindungan Pelayanan Sosial Asuhan Balita Sidoarjo Provinsi Jawa Timur saat ini ada sebanyak 55 anak. Angka tersebut terdiri dari 31 laki-laki dan 24 perempuan.

Loading...

“Prosedur penyerahannya pun tidak sulit. Hanya perlu menghubungi kami, dan kami akan datang menjemput. Ini lebih baik dari pada digugurkan. Kami berkewajiban menjaga mereka dan berwenang mencarikan orangtua adopsi. Jadi kehidupan si anak lebih terjamin,” papar Dwi.

Hanya saja, masih Dwi, meskipun misalnya ayah dari bayi tersebut tidak mau mengakui anaknya, si ibu tetap wajib mencantumkan identitas asli anak. “Anak ini lahir dari ibu yang bernama siapa,” katanya.

Begitu pula dengan keluarga yang mungkin karena alasan ekonomi tidak mampu mengurus anaknya. Saat penyerahan bisa mengonfirmasi apakah anak ini memang diikhlaskan untuk orangtua adopsi atau nanti suatu saat ingin dikembalikan kepada orangtua kandung.

Baca Juga  Iseng Rekam Wanita Mandi, Pria di Surabaya Ditangkap Polisi

“Kami mengedepankan rasa kemanusiaan dan terlepas dari segala ketentuan hukum yang akan menjerat orangtuanya, si anak tetap berhak hidup secara layak dan mendapatkan kasih sayang karena mereka tidak berdosa. Yang bersalah itu kedua orangtuanya,” ucap Dwi.

Pihaknya menambahkan pendaftaran adopsi bisa dilakukan secara online melalui website www.psabsidoarjo.wordpress.com atau melalui email di [email protected]

Untuk diketahui, hak hidup anak Indonesia dijamin oleh pemerintah melalui UU No 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan anak, UU No 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan sosial dan UU No 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas UU No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan anak. (*)

Reporter: Viane Cara

Loading...
Artikulli paraprakIbu Hajjah Diperdayai Pria asal Sidoarjo, Motor Raib Digadaikan
Artikulli tjetërMbah Mojo Warga Jember ini 30 Tahun Tinggal di Kuburan

Tinggalkan Balasan