Potret ‘Merdeka Belajar’ di Masa Adaptasi Kebiasaan Baru di Banyuwangi

218
Peserta didik di Rumah Baca RLI mengumpulkan bendera merah putih. (FOTO:Dok Rumah Literasi Indonesia)

BANYUWANGI, (Kabarjawatimur.com) – Pada masa adaptasi kebiasaan baru pandemi Covid-19 kegiatan belajar-mengajar sempat dihentikan sementara oleh pemerintah. Belakangan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) pun mulai diterapkan secara daring.

Di Banyuwangi terdapat sebuah rumah baca di bawah yayasan yang dinamai Rumah Literasi Indonesia (RLI), berdiri sejak 19 Oktober 2014. Kini juga terdapat tempat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), berdiri di atas lahan seluas 880 meter persegi.

Founder Rumah Literasi Indonesia, Tunggul Harwanto

Pendirinya sekaligus Ketua Pengurus Yayasan RLI Tunggul Harwanto (33) yang tinggal di Dusun Gunung Remuk, Desa Ketapang, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi ini mengatakan, telah mengaplikasikan konsep yang mirip program ‘Merdeka Belajar’ yang dicanangkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Anwar Makarim. Sebuah Ihtiar mewujudkan pembelajaran yang berkemandirian.

“Memang, inisiasi sejak awal Rumah Baca RLI itu sudah menganut beberapa konsep berkaitan merdeka belajar,” katanya, Senin (31/8/2020) melalui sambungan telepon.

Kegiatan di Rumah Baca itu salah satunya di masa pandemi Covid-19 ini berbasis komunitas, yaitu Sekolah Pengasuhan Berbasis Komunitas (SPBK). Kedua, kata pria kelahiran Negara, Bali pada Januari 1987 itu, membuat kelas daring, Literatalk, mendiskusikan segala hal terkait metode maupun model dan media pembelajaran.

“Ketiga, setiap bulan kita bikin nobar (nonton bareng). Kami terpaksa menyelenggarakan itu karena teman-teman butuh media belajar supaya lebih kreatif dan inovatif juga mengurangi kebosanan anak,” jelasnya.

Tak hanya itu, pria yang mengambil jurusan Magister Kodekteran Keluarga di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Jawa Tengah menambahkan, RLI juga mengadakan kegiatan Luar Jaringan (Luring) yang melibatkan beberapa komunitas literasi yang telah berjejaring dan kekurangan sumber belajar.

“Program Books Buster. Setiap buku donasi yang masuk kepada kita itu kita bagikan secara langsung komunitas-komunitas yang telah berjejaring dengan kita,” ujarnya.

Pertama, semangat yang diusung di Rumah Baca RLI, kata dia, setiap orang dengan tanpa melihat latar belakangnya bisa mengakses sumber belajar yang ada. Belajar tentang pembelajaran inklusif.

Kedua, anak-anak atau peserta didik dapat mendesain dan menentukan sumber belajarnya sendiri di Rumah Baca. Selain itu, juga bisa berbagi sumber belajar dan dikembangkan.

“Selanjutnya setiap relawan bisa menjadi guru. Dan setiap relawan ini juga butuh ditingkatkan kapasitasnya, maka perlu ikut kegiatan-kegiatan seminar melalui literatalk,” ujarnya.

Baca Juga  Iseng Rekam Wanita Mandi, Pria di Surabaya Ditangkap Polisi

“Itu yang kami tangkap dari program ‘Merdeka Belajar’ dari Mas Menteri Nadiem termasuk juga partisipasi publik,” imbuhnya.

Menurutnya, dalam dunia pendidikan diperlukan adanya kolaborasi. Nah, konsep merdeka belajar yang dapat tangkap itu melibatkan orangtua anak, sekolah, kemudian melibatkan lingkungan. Dan lingkungan ini adalah peran Rumah Baca, mewujudukan konsep ‘Merdeka Belajar’.

Berkaitan dengan program dari Kemendikbud, Tunggul mengaku, sudah mendorong Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi untuk menelurkan berbagai macam program. Salah satunya yang patut diapresiasi program ‘Banyuwangi Ayo Mengajar’ di masa adaptasi kebiasaan baru ini.

Namun, pelaksanaannya beberapa waktu yang lalu, menyisakan beberapa catatan dan kritikan. Sebab, lanjutnya, acara seremonial sebelum pembelajaran dilakukan para siswa dibuat menunggu sekitar 3 jam.

“Saya tetap memberikan kritik dan saran karena lepas dari konsep awal. Mereka masih mengejar kuantitas, melihat banyaknya sekolah tanpa melihat bagaimana kualitas pembelajaran selama di sekolah itu. Tapi itu, merupakan inisiasi yang menarik dan perlu diapresiasi. Tinggal secara teknis perlu kita dorong supaya pembelajarannya itu merdeka,” paparnya.

“Karena, anak-anak disuruh datang jam 7 ke sekolah tapi harus menunggu sampai jam 10 selesai seremonial. Sedangkan kualitasnya gak bisa kita lihat,” tambahnya.

Sementara itu, untuk tolak ukur ‘Merdeka ‘Belajar yang ada di Rumah Baca RLI adalah pendidikan karakter. Jadi semua kurikulum pembelajaran harus berbasis pendidikan karakter, nilai-nilai kearifan lokal. Salah satu tandanya ada kelas tematik selama tiga kali dalam sepekan.

Loading...

Selain itu, juga ada partisipasi warga, seberapa besar orangtua terlibat, berapa jumlah orangtua yang mau terlibat dalam setiap proses pembelajaran serta sumber belajar. Misalnya, melalui film, alam, pertanian dan lingkungan.

“Jadi 3 sumber tadi yang harus kita tingkatkan,” katanya.

Kelas Berkebun untuk Mencintai Indonesia

Relawan Rumah Literasi Indonesia mengecek tanaman organik. (FOTO:Dok Rumah Literasi Indonesia)

Salah satu kelas tematik yang diterapkan di Rumah Baca RLI yakni mengajarkan kepada anak-anak cara melestarikan, mencintai termasuk bagaimana merawat lingkungan. Di kegiatan ini, Kelas Berkebun dipilih untuk mengajarkan kepada anak-anak, relawan, walimurid untuk mencintai Indonesia hingga akhir.

Setelah kelas tematik ini berjalan di dua tahun pertama, Yayasan RLI mendapatkan atensi dari salah satu depo milik Pertamina yang ada di bilangan Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi.

Baca Juga  Aksi ke Empat Korban Cewek, Jambret ini Dibekuk

“Setelah kita melakukan aktivitas akhirnya kita bisa berkolaborasi dengan salah satu BUMN setempat, Pertamina. Pertamina ini mendorong komunitas lokal untuk bisa memanfaatkan kearifan lokal lewat bertanam,” terangnya.

Kebetulan di masa pandemi ini, Tunggul mulai menyadari, bahwa kegiatan itu menjadi media belajar yang menarik. Karena memang, tidak hanya belajar merawat, tapi juga mengedukasi bahwa ketahanan pangan itu harus diperhatikan. Kebiasaan menanam, menurutnya, harus ditumbuhkan sejak dini, sehingga kegiatan ini justru menjadi kekuatan baru Rumah Literasi Indonesia yang dinamai Rumah Berkebun Hidroponik.

“Di sana ada relawannya, anak-anaknya, dan semua orang bisa belajar, termasuk kita juga mengandalkan dari sisi profil atau bisnisnya. Jadi ini bisa menambah sumber pendanaan di Rumah Literasi Indonesia untuk berkegiatan,” ucap dia.

Rumah Baca RLI Dirundung Covid-19

Anak-anak diajarkan patuh protokol kesehatan. (FOTO: Dok. Rumah Literasi Indonesia)

Di sisi lain jumlah warga yang terpapar Covid-19 di Banyuwangi terus meningkat. Termasuk, salah satunya, salah seorang warga di Desa Ketapang yang dekat dengan lokasi Rumah Baca RLI terkonfirmasi Covid-19. Hal itu mengakibatkan aktivitas pembelajaran di rumah baca dihentikan sementara selama satu minggu, sembari menunggu perkembangan selanjutnya. Ditambah, salah seorang tetangga rumah baca dikabarkan telah melakukan interaksi.

“Hari-hari ini tidak boleh ada aktivitas di Rumah Literasi ini. Karena situasi pandemi ini. Kemarin ada yang positif dan ada yang interaksi juga di daerah kami. Akhirnya satu minggu ini kami melakukan evaluasi dulu bagaimana perkembangannya,” ungkapnya.

Dari kejadian itu, masyarakat di sekitar Rumah Baca RLI menjadi waspada dan meningkatkan kepatuhan untuk menerapkan protokol kesehatan. Kegiatan-kegiatan belajar mengajar seperti sekolah PAUD, bermain, panggung literasi, kelas berkebun dihentikan sementara selama sepekan.

Kegiatan Panggung Literasi di Rumah Baca RLI (FOTO:Dok Rumah Literasi Indonesia)

Tunggul dan anak didik Rumah Baca RLI serta masyarakat di Dusun Gunung Remuk berharap kepada pemerintah dapat sesegera mungkin menemukan dan membuat vaksin dari wabah ini.

“Kalau memang aman Insya Allah minggu depan baru boleh ke rumah baca. Sementara ini mengurangi aktifitas di rumah baca,” pungkas Tunggul. (*)

Penulis: Ahmad Hafiluddin

Loading...
Artikulli paraprakIsukan Kebakaran dan Viral, Pria ini Dibekuk Polisi Surabaya
Artikulli tjetërDuh! Langit Banyuwangi Berpotensi Bahaya, ada Pesawat Menabrak Layang-layang

Tinggalkan Balasan