Polda Jatim Gagalkan Penyelundupan Lobster ke Singapura

31
Polda Jatim menggagalkan pengiriman benur yang diduga akan dijual ke Singapura

SURABAYA (kabarjawatimur.com) – Tingginya angka peminat makanan jenis Lobster, membuat para pengusaha udang raksasa itu harus menyediakan bahan sebanyak mungkin. Bahkan, cara ilegal pun ditempuh demi mendapatkan keuntungan yang tinggi. Seperti halnya DA alias BLS (45) asal Dusun Ketawang, Desa Tasikmadu, Watulimo, Trenggalek, Jawa Timur.

Entah sudah mengerti tentang aturan dan undang-undang yang berlaku di Indonesia atau tidak tentang perikanan, pria paruh baya itu kini harus menjadi tahanan di Mapolda Jatim. DA yang telah dianggap melanggar UU RI Nomor 31 Tahun 2004 itu, telah menjalankan bisnis ilegal fishing sejak lama dengan skala pengiriman hingga keluar negeri.

Ditangkapnya DA berwal pada hari Senin tanggal 10 Oktober 2016, dirinya membeli Benur (Baby Lobster) dari seorang pengepul SKR di Prigi, Trenggalek. Setelah Benur terkumpul, DA memasukkannya kedalam kantong plastik yang diisi dengan air dan oksigen dengan jumlah 250 ekor perbungkus. Lalu, kantong-kantong plastik itu disimpan kedalam 4 karton yang kemudian dilakban cokelat.

Berdasarkan pengakuannya, DA berencana akan mengirimkan Benur tersebut ke Surabaya. Dengan menggunakan sebuah mobil Avanza putih dengan Nopol AG 448 YH yang dikemudikan oleh WN. Setelah itu, sesampainya WN di Desa Kedung Waru Tulungagung, dirinya bertemu dengan SJ alias UTG selaku kurir dan AK sopir yang bersama SJ untuk menyerahkan 4 karton berisi Benur tersebut.

Baca Juga  Destinasi Wisata Bojonegoro Dilengkapi Kuliner Sebagai Penunjang

Namun sayang, ketika hendak akan melakukan penyerahan Benur, ketiganya didatangi petugas dari Direktorat Kriminal Khusus Kepolisian Daerah Jawa Timur. Akan tetapi petugas tidak menangkapnya begitu saja, melainkan menyuruh UTG untuk melanjutkan pengiriman dengan diikuti petugas.

Tak berkutik, UTG pun melanjutkan sehingga didapatlah seseorang yang akan menerima pengiriman itu yakni HR alias BGl orang suruhan DA yang rupanya sudah menunggu di Mc Donald Sepanjang Sidoarjo menggunakan mobil Xenia putih dengan Nopol N 1769 XE.
Direskrimsus Polda Jatim, Kombes Pol. Adityawarman mengatakan, kegiatan fokus penyelidikan terhadapan dugaan ilegal fishing bibit Benur yang menyasar wilayah Trenggalek, telah diamankan sebanyak 54 ribu ekor Baby Lobster.

Loading...

“Jenisnya macam-macam ada jenis mutiara, juga ada jenis pasir,” katanya kepada kabarjawatimur.com),Rabu, (12/10/2016).

Dijelaskan pula oleh Adityawarman bahwa, bibit Benur itu apabila dipasaran harganya berkisar antara Rp 40 sampai dengan 50 ribu rupiah. “Jadi dengan harga itu, bisa mencapai Rp 3 miliar (4 karton dengan jumlah 54 ribu benih). Tersangka adalah pengepul, tujuan akan dibawa ke Jakarta ke jaringan pemodal lebih besar. Indikasi akan di ekspor keluar negeri,” jelasnya.

Sementara itu, Kasi Pengawasan, Pengendalian dan Informasi Dinas Perikanan, Wiwit Supriyono memaparkan, penyelundupan benih lobster melanggar Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 01 tahun 2015 tentang pelarangan penangkapan lobster, kepiting dan rajungan dibawah ukuran.

Baca Juga  Kartini Street Food, Favorit Warga Bojonegoro

“Ukuran 200 gram, dengan karapan 300 cm, boleh dikirim. Selama ini masuk ke Vietnam dan Singapore. Bila dibawah ukuran itu berarti tidak boleh,” paparnya.

Senada dengan Wiwit, Pengawas Konservasi Laut DKP Provinsi Jatim menegaskan, bahwa tindakan yang sudah dilakukan oleh tersangka DA adalah tindakan yang membahayakan kelestarian laut. “Oleh karena itu, kami selalu berkolaborasi dengan pihak Polda Jatim untuk bersama-sama menjaga kelestarian laut, seperti yang telah diamanatkan didalam UU Perikanan nomor 45 tahun 2009,” tegasnya.

Dari hasil ungkap kasus benih Lobster tersebut, petugas mengamankan barang bukti berupa 54 ribu benih Benur (Baby Lobster) jenis mutiara dan pasir, 1 unit tabung oksigen, 1 kardus es batu, 1 pack plastik bening, 1 buah jerigen 20 liter, 1 buah aerator atau gelembung udara, 5 unit handphone, 4 buah dompet, 1 buah buku pemasukan dan pengeluaran, dan 1 buah penggaris besi.

Akibat perbuatannya dalam menjalankan bisnis ilegal fishing itu, kini DA ditetapkan sebagai tersangka dan dijerat dengan Pasal 86 ayat (1) Jo. Pasal 12 ayat (1), Pasal 92 Jo. Pasal 26 ayat (1), Pasal 100 Jo. Pasal 7 ayat (1) huruf m UU RI nomor 31 tahun 2004 tentang perikanan Jo. UU RI nomor 45 tahun 2009 tentang perubahan atas UU RI nomor 31 tahun 2004.

Penulis : Ekoyono, Editor : Budi, Publisher : Gunawan

Loading...
Artikulli paraprakAsyik Nyabu, Tak Sadar Diintai Polisi
Artikulli tjetërPermen Mengandung Narkoba Beredar Di Surabaya

Tinggalkan Balasan