PJB Ciptakan Inovasi Trichompos Guna Tingkatkan Produktifitas Petani Kopi

22
petani Probolinggo menjalankan inovasi trichokompos

SURABAYA (Kabarjawatimur.com) – PT PJB melirik petanikopi di Desa Andungbiru di lereng Gunung Argopuro, dengan membantu pembuatan trichokompos.

PJB dan Corporate Social Responsibility (CSR) Unit Pembangkitan Paiton membantu inovasi penjemuran kopi komunal dan mendorong strategi pemasaran yang berhasil meningkatkan penjualan kopi.

Desa Andungbiru, Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo merupakan salah satu desa penghasil kopi jenis robusta maupun arabika. Dari daerah berketinggian ± 900-1300 mdpl dengan curah hujan rata-rata 293-300 mm, tiap tahun masyarakat petani kopi dapat menghasilkan sekitar 145,6 ton kopi dalam bentuk green bean.

Inovasi penjempur kopi trichokompos merupakan wujud kepedulian PT PJB kepada para petani kopi yang terimbas pada saat pandemi Covid-19 mulai menyerang.

Direktur Utama PT PJB, Gong Matua Hasibuan turut menyampaikan kontribusi PJB dalam mendampingi petani kopi di Desa Andungbiru.

Seluruh unit PJB yang tersebar di penjuru Indonesia telah berkomitmen untuk dapat hadir dan memberikan kebermanfaatan di sisi masyarakatnya.

Baca Juga  Basis Narkoba Kunti Digrebek, Polisi Amankan Pelaku dan Barang Bukti

PJB UP Paiton ini juga telah memecahkan permasalahan di Desa Andungbiru dengan menghadirkan terobosan dari hulu hingga ke hilir di pertanian kopi.

“Saya yakin, melalui terobosan ini, petani kopi di Desa Andungbiru dapat terbantu dengan meningkatnya kualitas dan kuantitas produksi kopi serta mengangkat perekonomian di tengah pandemi,” ujarnya.

Loading...

Dengan bantuan yang diberikan turut membantu kesulitan petani kopi, hal tersebut diutarakan oleh Suto, Ketua Kelompok Putra Kramat pertanian di Desa Andungbiru merasa terbantu dengan inovasi yang diberikan menggingat di masa pandemi ini tidak saja memberikan beban kesehatan disini, namun juga seiring peningkatan harga pupuk yang mencapai 29,20% dari tahun sebelumnya mengakibatkan pemupukan seringkali diabaikan.

“Imbasnya produktivitas dan kualitas tanaman kopi pun menurun,” ujarnya

Menurutnya, pada panen tahun 2021 petani hanya mampu mendapatkan rata-rata 220 Kg/Ha. Jumlah ini menurun jauh jika dibandingkan dengan hasil pada tahun sebelumnya yang mencapai 400 Kg/Ha.

Baca Juga  Michael Harap Tidak Ada Kabar Menyesatkan Menjelang Musda Partai Demokrat

Berawal dari permasalahan inilah PJB ikut terlibat aktif dalam memecahkan permasalahan tersebut dan memberikan manfaat pagi petani kopi Desa Andungbiru. Melalui Inovasi pembuatan trichokompos atau pupuk organic, penjemuran kopi komunal, hingga inovasi dalam penjualan produk kopi, berbagai masalah utama petani tersebut bisa diatasi.

PJB menghadirkan inovasi trichokompos atau pupuk organik yang dihasilkan dari bahan limbah kulit kopi dilakukan untuk menyelesaikan kelangkaan dan kenaikan harga pupuk.

Para petani diajari bagaimana membuat trichokompos dilengkapi dengan bantuan peralatan sehingga bisa memproduksi pupuk secara mandiri. Dengan Biaya Sekitar Rp 170.000 dapat menghasilkan 500 kg pupuk trichokompos atau setara dengan Rp 340/Kg. Harga ini 10 kali lebih murah bila dibandingkan dengan harga pupuk kimia/anorganik yang mencapai Rp 3.400/Kg.

Reporter : Yanto

Loading...
Berita sebelumyaJember Kembali Gelar Festival Cerutu Internasional
Berita berikutnyaDPRD Banyuwangi Segera Sikapi Permasalahan PT IGG

Tinggalkan Balasan