Peternak Sapi: Dinas Peternakan Jember Lamban, Sapi Terserang PMK Makin Banyak

1

JEMBER, (Kabarjawatimur.com) – Dinas Peternakan Jember terkesan lamban menangani penyebaran virus penyakit mulut dan kuku atau PMK. Saat ini serangan PMK semakin meraja lela di beberapa wilayah di Kabupaten Jember.

Namun anehnya disaat para peternak sapi membutuhkan perhatian khusus dari Dinas Peternakan, hingga kini belum terlihat kerja nyata dinas tersebut.

Saat ini warga yang memiliki sapi bingung, pasalnya sudah beberapa cara penyembuhan dilakukan namun belum ada hasilnya.

Di Desa Paseban misalnya puluhan sapi terjangkit penyakit mulut dan kuku (PMK) bahkan sudah ada yang mati. Kondisi ini sudah meresahkan warga pemilik sapi. Sementara petugas dari Dinas peternakan hanya melakukan sosialisasi.

Warga selama ini banyak berharap dari petugas Dinas Peternakan Jember ketika sosialisasi namun nyatanya petugas jarang membawa obat. Alasannya mereka tidak banyak memiki anggaran tidak haha itu jumlah obat.

Baca Juga  Akomodir Tuntutan Warga Mengare, JIIPE Gresik Minta Jeda Waktu 3 Hari

Yanto Salah seorang warga dusun Bulurejo Desa Paseban Kecamatan Kencong, Kabupaten Jember mengatakan, sapinya sudah beberapa hari terinfekisi.

“Sudah lima hari sapi saya mengalami sakit seperti ini malah sekarang tidak bisa berdiri sebab kukunya sakit dan bengkak.

Loading...

“Berbagai cara sudah saya lakukan untuk menyembuhkan mulai meminumkan jamu rempah rempah hingga mendatangkan tenaga kesehatan hewan, mau disuntik dokter hewan tidak berani karena sapinya lemas dan tidak bisa berdiri,” kata.

Senada dengan itu Ponijan yang juga warga setempat merasa frustasi. Dirinya berharap petugas Dinas Peternakan berupaya maksimal untuk menanggulangi serangan PMK.

“Sapi saya mulai kemarin juga tidak bisa berjalan, segala obat pun sudah saya lakukan namun sampai saat ini belum mendapatkan hasil,”katanya.

Baca Juga  Di Surabaya, 30 Menit Mobil INCAR Jaring 500 Lebih Pelanggar

“Saya berharap agar pemerintah segera memberikan penanganan khusus untuk menanggulangi penyakit mulut dan kuku ini agar cepat sirna sehingga warga para peternak sapi bisa tenang tidak was was lagi,” harapnya.

Ponijan juga mengatakan ternak sapi miliknya tersebut harta miik keluarga. Namun karrena serangan virus tersebut Ponijan terancam merugj jika ternaknya mati atau tidak laku dijual.

“Sapi merupakan tabungan bagi kami masyarakat Desa karena bila ada kebutuhan mendadak bisa cepat untuk dikeluarkan atau dijual, kalau terjangkit seperti sekarang dengan adanya PMK kita semua jadi resah,”tambah Ponijan.

Sementara itu Kepala Dinas Perternakan Andi Prastowo hingga berita ini ditulis tidak merespon upaya konfirmasi melalui telepon. (*)

Reporter: Rio

Loading...
Artikulli paraprakSIG Berangkatkan 113 Jemaah Haji Gresik Kloter 18 dan 21

Tinggalkan Balasan