Peran Guru dalam Membangun Karakter Siswa di Sekolah

0

Oleh
Nur Hidayati*)

“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”
(HR. Al-Baihaqi dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu).

Sidoarjo (Kabarjawatimur.com) Beberapa pakar atau para ahli Pendidikan telah mendefinisikan kata “Belajar” dari berbagai sudut pandang. Dari sudut pandang Psikologis, Slameto mendefinisikan belajar merupakan suatu proses perubahan, artinya perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Perubahan-perubahan tersebut akan nyata dalam seluruh aspek tingkah laku.
Dari sisi lain, Piaget menyampaikan bahwa belajar itu adalah pengetahuan yang dibentuk oleh individu. Pengetahuan tersebut terbentuk karena individu melakukan interaksi secara terus-menerus dengan lingkungannya.

Selanjutnya lingkungan tersebut mengalami perubahan, dengan adanya interaksi yang dilakukan secara terus-menerus maka fungsi intelektual dari individu akan semakin berkembang.

Berdasarkan beberapa definisi yang telah disampaikan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa sesungguhnya belajar itu merupakan suatu proses yang dialami oleh individu dalam melakukan interaksi secara terus-menerus dengan lingkungannya.

Dari proses tersebut maka individu secara sadar akan mengalami perubahan secara signifikan menuju pada tataran yang lebih baik.

Sementara itu makna pembelajaran yang diuraikan oleh Miarso merupakan usaha pendidikan yang dilaksanakan secara sengaja dengan tujuan yang telah ditetapkan terlebih dahulu sebelum proses dilaksanakan, serta pelaksanaanya terkendali.

Di sisi lain Gintings juga berpendapat bahwa pembelajaran itu pada hakekatnya upaya memotivasi dan memberikan fasilitas kepada siswa agar dapat belajar sendiri.

Selanjutnya Dimyati dan Mujiono juga berpendapat bahwa pembelajaran adalah suatu persiapan yang dilakukan oleh guru guna menarik dan memberi informasi kepada siswa, sehingga dengan persiapan yang dirancang oleh guru pada akhirnya dapat membantu siswa dalam mencapai tujuan.

Artinya dalam pembelajaran itu sendiri sejatinya ada dua unsur yang sangat berperan. Dua unsur tersebut adalah guru dan siswa.

Dengan demikian siapakah guru itu? Guru adalah orang tua kedua bagi para siswa, setelah kehadiran orang tuanya di rumah. Guru adalah sosok yang dapat membentuk jiwa dan watak siswa.

Guru mempunyai kekuasaan untuk membentuk dan membangun kepribadian siswa sehingga kelak menjadi orang yang berguna bagi agama, nusa dan bangsa. Guru memiliki peranan yang sangat penting dalam mempersiapkan manusia susila yang diharapkan dapat membangun bangsa dan negara.

Dalam Undang-undang guru dan dosen disebutkan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarakan, melatih, menilai dan mengevaluasi siswa pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan menengah.

Baca Juga  Mahasiswa KKN Bantu Vaksinasi Serentak BIN Daerah di Jember

Guru sebagai pengajar, maka ia akan merencanakan program pengajaran, melaksanakan program yang telah disusun dan melaksanakan penilaian setelah program tersebut dilaksanakan. Guru sebagai pendidik, maka ia akan berperan mengarahkan siswa pada tingkat kedewasaan yang berkepribadian mulia.

Guru sebagai pemimpin, maka sejatinya ia bertugas untuk memimpin dan mengendalikan diri sendiri, siswa dan masyarakat terkait bagaimana upaya pengarahan, pengawasan, pengorganisasian, pengontrolan, partisipasi atas semua program yang dilakukan.

Oleh karena itu peran guru tidak bisa dipandang remeh, karena guru yang memiliki kompeten akan lebih mampu menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan akan lebih mampu mengelola kelasnya sehingga hasil belajar siswa dapat dicapai secara optimal.
Peran guru dalam membangun karakter siswa sangatlah penting.

Loading...

Arahan guru menjadi petunjuk jalan bagi kegiatan siswa. Guru diharapkan menjadi suri tauladan bagi siswanya. Sebagaimana yang telah dipaparkan oleh Ngaimun Naim (2009: 6-7) tentang karakter yang seharusnya dimiliki oleh guru. Menurutnya seorang guru hendaknya menjadi orang yang memiliki wawasan yang luas, apa yang disampaikan oleh guru harus merupakan sesuatu yang benar dan memberikan manfaat.

Seorang guru harus mengedepankan sikap yang obyektif dalam menghadapi setiap permasalahan. Seorang guru hendaknya memiliki dedikasi, motivasi, dan loyalitas yang tinggi, memiliki kualitas dan kepribadian moral yang baik. Satu hal yang tak kalah penting, yakni guru harus melek informasi dan teknologi.

Karakter semacam ini sudah menjadi sebuah keniscayaan bagi seorang guru yang hadir di depan siswa tidak hanya mengajar, akan tetapi harus mampu mendidik dan melatih. Guru tidak hanya mampu memberikan penjelasan secara verbal akan tetapi juga mengungkapkannya secara visual dan berusaha untuk mengkondisikan siswanya agar melakukan.

Dengan demikian secara tidak langsung menjadikan siswa tidak hanya tahu, akan tetapi siswa juga faham dan bisa.
Ternyata menjadikan siswa tahu, faham, dan bisa saja tidak cukup untuk menjadi bekal dalam hidupnya.

Namun seorang guru harus mampu mendidik dan menanamkan nilai-nilai moral kepada siswa. Jika guru bermaksud untuk menanamkan nilai-nilai moral kepada siswa, maka ada beberapa tips yang dapat dilakukan oleh guru.

Pertama hadirlah sebagai orang yang memberikan pengajaran tentang nilai, seorang guru harus mampu menginspirasi siswanya dengan nilai-nilai kebaikan seperti kesabaran, kejujuran, pantang menyerah dalam menyelesaikan masalah dan sebagainya.

Baca Juga  Kapolsek Baru Harapkan Kekompakan Layani Masyarakat Kedungadem

Kedua hadirlah sebagai role model, artinya mampu menjadi contoh sebagai orang yang beretika yang memiliki rasa hormat, dan tanggung jawab yang tinggi baik di dalam maupun di luar kelas. Disadari atau tidak guru adalah menjadi pusat perhatian bagi para siswa.

Oleh karena itu guru harus mampu menjaga sikap dan perilaku dimanapun dan kapanpun supaya dapat memberikan contoh yang baik.

Ketiga hadirlah sebagai motivator. Menilai siswa dari segi akademis memang penting, namun perlu diingat bahwa menghargai kebaikan yang dilakukan oleh siswa juga menjadi sesuatu hal yang sangat penting. Bentuk apresiasi atas usaha yang telah dilakukan oleh siswa dapat menjadi motivasi tersendiri bagi siswa.

Keempat hadirlah sebagai seseorang yang mengajarkan sopan santun. Sopan santun perlu disampaikan kepada siswa, dengan harapan mereka mampu menjaga sikap dan mengetahui mana yang salah dan mana yang benar. Jika kebetulan siswa melakukan keasalahan, maka guru jangan menghakimi dan langsung memberikan label yang kurang baik kepada mereka.

Seorang guru perlu melakukan pendekatan kepada siswa, kadangkala bukan siswa sengaja bertindak tidak sopan, akan tetapi karena mereka belum tahu bagaimana cara bertindak yang sopan dan santun itu.
Kelima hadirlah sebagai seorang yang mampu menanamkan jiwa leadership.

Jiwa kepemimpinan wajib dimiliki oleh setiap siswa. Guru diharapkan mampu memberikan contoh bagaimana sikap kepemimpinan yang baik, jangan pernah bosan untuk membantu siswa melatih jiwa kepemimpinan mereka. Seperti memberi kesempatan mereka untuk menjadi pemimpin kelas atau ketua kelompok saat belajar.

Melakukan refleksi setelah melakukan kegiatan dan lain sebagainya.
Pada akhirnya guru harus mampu membangun karakter pribadinya sebelum melakukan upaya untuk membangun karakter siswa di sekolah.

Karena pada hakekatnya guru menjadi role model bagi siswanya, sehingga apapun yang dilakukan oleh guru, dianggap oleh siswa sesuatu yang paling baik dan paling benar. Guru sebagai orang yang digugu dan ditiru memiliki maksud bahwa guru adalah orang yang dapat dipercaya dan dapat dijadikan teladan dalam setiap sikap dan tindak tanduknya.

Oleh karena itu, sebelum guru berupaya membangun karakter siswa, seyogyanya guru mampu menjadikan dirinya sebagai contoh yang baik bagi siswanya di sekolah.


*) Penulis adalah Guru MTsN 4 Sidoarjo,
Jawa Timur

Loading...
Artikulli paraprakJajaki Pembukaan Rute Domestik dan Internasional Khusus Umroh

Tinggalkan Balasan