OTT Pungli Parkir di Bangkalan Dilimpahkan ke Inspektorat

84
Kapolres Bangkalan AKBP Rama Samtama Putra didampingi Kasatreskrim AKP David Manurung saat diwawancarai awak media

BANGKALAN, (Kabarjawatimur.com) – Kasus dugaan pungutan liar (Pungli) retribusi parkir di Pasar Blega Bangkalan terus bergulir.

Satgas Saber Pungli yang terdiri dari Polres Bangkalan, Inspektorat, dan Kejaksaan Negeri (Kejari) Bangkalan menggelar ekspos perkara, pada Selasa (15/10/2019).

OTT Pungli Restribusi Parkir

Kapolres Bangkalan, AKBP Rama Samtama Putra menerangkan, operasi tangkap tangan (OTT) terhadap 9 pegawai pasar Blega itu dilakukan pada hari Senin (14/10/2019) kemarin pukul 10:00 WIB. Mereka di OTT saat berkumpul menghitung uang hasil penarikan parkir.

Kemudian para pegawai pasar tersebut diperiksa Unit Tipikor Polres Bangkalan. Yang diperiksa terdiri dari 3 orang berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN), dan 6 orang pegawai berstatus Tenaga Harian Lepas (THL). Mereka diperiksa selama 10 jam di ruang Satreskrim Polres Bangkalan.

“Kemarin kita menindaklanjuti laporan dari masyarakat mengenai praktik pungutan liar retribusi parkir yang ada di pasar Blega,” terang Rama, pasa Selasa (15/10/2019) kepada awak media di Mapolres Bangkalan.

Mantan Ditreskrimsus Polda Jatim itu menjelaskan, praktik Pungli tersebut sudah diintai sejak lama oleh tim tindak Saber Pungli dari Satreskrim Polres Bangkalan.

Baca Juga  Menolak Diperiksa, Ternyata Ngempit Narkoba dalam Dubur

Modus yang diterapkan para pelaku dengan cara memungut retribusi parkir tanpa ada karcis yang diberikan kepada pengguna jasa parkir, baik kepada pedagang maupun pengendara yang berlalu-lalang di pasar Blega.

“Praktik ini sudah berlangsung lama, sekitar 2 tahunan,” imbuhnya.

Barang Bukti yang Disita Polisi

Loading...

OTT yang dilakukan Satgas Saber Pungli Bangkalan berhasil menyita beberapa barang bukti (BB), seperti berupa uang sebesar Rp 665 ribu hasil Pungli retribusi parkir.

Tak hanya itu, Polisi juga berhasil menyita barang bukti uang sebesar Rp 4 juta hasil Pungli retribusi hewan besar seperti sapi atau kerbau di Pasar Blega.

“Dan juga hasil pungutan retribusi hewan besar sapi dan kerbau tanpa karcis itu sebesar 4 juta rupiah, dan beberapa bendel karcis yang tidak digunakan, artinya karcis itu dipegang tapi tidak diberikan kepada pengguna,” jelas pria asal Sidoarjo itu.

Baca Juga  Generasi Bebas Stunting, Bupati Bojonegoro Harapkan Sinergisitas Semua Pihak

Kasus Dilimpahkan ke Inspektorat

Setelah menggelar ekspos perkara dengan Pokja Yustisi yang terdiri dari Polres, Inspektorat, dan Kejari Bangkalan, kemudian kasus tersebut dilimpahkan ke Inspektorat Kabupaten Bangkalan untuk terus ditindaklanjuti.

Hal itu dilakukan, lantaran pelaku yang terlibat adalah pegawai negeri sipil (PNS) dan mengacu pada Peraturan Pemerintah (PP) nomor 53 tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil.

Rama menjelaskan, pihaknya tidak melanjutkan ke-tahap penyidikan, karena mengacu pada konstruksi undang-undang Tipikor, jika barang bukti yang disita terlalu kecil dan tidak sesuai dengan cost atau biaya yang dilakukan saat proses penyidikan, penuntutan maupun peradilan, maka tidak dilanjutkan pada tahap penyidikan.

“Kalau barang bukti itu kecil, saya pikir itu tidak berimbang dan tidak sebanding dengan cost yang dikeluarkan, saat proses penyidikan, penuntutan maupun peradilan, karena yang saya tahu Peradilan Tipikor hanya ada satu di Jawa Timur yakni di Surabaya,” tegasnya. (*)

Reporter: Rusdi

Loading...
Artikulli paraprakTemuan Granat Tangan Gegerkan Warga Lebak Indah Regency Surabaya
Artikulli tjetërIni Keadaan dan Motif Suami Bakar Istri di Surabaya

Tinggalkan Balasan