Musik Islami Dari Bumi Blambangan

128
Muhammad Iqbal Maulana

BANYUWANGI, (Kabarjawatimur.com) – Ditengah maraknya perkembangan zaman milenial, kesenian pun turut berkembang sesuai selera zaman yang ada pada saat ini. Dari sebagian kecil aliran agama ada yang mengharamkan ada pula yang menghalalkan.

Dari sisi yang mengharamkan sangat-sangat disayangkan sekali ungkapan salah satu ulama bahwasannya musik itu haram, penyanyi haram, toko yang menjual alat musik haram, dan uang dari hasil menyanyi ataupun mengamen haram.

Jika kita tengkok sejarah dari perkembangan agama islam di nusantara, tentunya kita sangat mengenal wali songo.

Beliau adalah Tokoh yang menyebarkan agama islam itu menyebarkan agama islam salah satunya dengan menggunakan media seni, ada yang menggunakan seni wayang Sunan Kalijaga, ada pula yang menggunakan seni musik seperti halnya Sunan Bonang.

Tidak hanya itu saja, seorang pujangga muslim Syekh Jalalludin Ar Rumi pernah suatu ketika diberi pertanyaan, musik apakah yang paling haram syekh? Lantas beliaupun menjawab, suara sendok dan piring yang dipertemukan lalu terdengar oleh telinga orang miskin yang sedang kelaparan.

Musik terbagai menjadi dua yakni musik tradisional dan musik modern. Pada saat ini dunia musik semakin tahun bertambah, semakin pesat pula kemajuannya. Lebih-lebih dunia teknologi informasi yang sudah sangat mudahnya di akses oleh berbagai kalangan.

Dan hal ini menjadikan pesantren pun turut menunjukkan kiprahnya sebagai salah satu pelopor pendidikan di Indonesia yang tertua. Ini membuktikan bahwasannya santri tidak hanya diajarkan untuk bisa mengaji dan mengartikan kitab saja, akan tetapi santri juga di ajak untuk bisa menyiarkan dakwah islamiyah seperti halnya para wali songo.

Musik yang dimainkan pun sangat beragam, ada hadrah yang berisi sholawatan dan diba’, ada gambus yang sudah mengadopsi sebagian irama india dengan lantunan syair-syair kas timur tengah, dan masih banyak lagi musik yang digunakan oleh para santri untuk menyiarkan sebagai media dakwah.

Di Banyuwangi sendiri para santri juga tidak mau kalah dengan para musisi di luar pesantren, hadrah yang pada umumnya menjadi beberapa aliran seperti Al Habsy, Al Banjari, dan Dema’an.

Namun di Banyuwangi memiliki aliran tersendiri yaitu Kuntulan. Bermula dari sejarah penyebaran agama Islam di Bumi Blambangan sendiri memiliki tempat ketika seluruh rakyat menderita penyakit yang tidak dapat disembuhkan, disitulah raja Blambangan mengadakan semacam sayembara untuk siapapun yang bisa menyembuhkan keluarga dan rakyatnya jika wanita akan dijadikan anak, dan jika laki-laki akan dikawinkan dengan putrinya Dewi Sekardadu.

Baca Juga  Terpapar Covid-19, Dokter di Banyuwangi Meninggal Dunia

Kabar itu rupanya terdengar oleh Syekh Maulana Ishak. Upaya untuk mengislamkan Blambangan pun berhasil. Dan raja Blambangan menepati janjinya, namun hal itu tak berlangsung lama. Beberapa waktu setelah perkawinan Syekh Maulana Ishak kembali ke Makkah.

Ancaman terjadi ketika Dewi Sekardadu mulai mengandung. Raja Blambangan menyebarkan isu bahwasanya bayi yang dikandung oleh anaknya akan membawa bencana, mendengar hal itu maka dewi sekardadu membuang bayi itu ke laut lepas dengan pertimbangan dari pada harus terbunuh hidup-hidup oleh pasukan kerajaan.

Selama berbulan-bulan si bayi berada dalam peti dan tertimang air lautan atas keajaiban yang diberikan oleh Allah peti ditemukan oleh seorang janda dan diberi nama Joko Samudro. Sampai ketika joko samudra mulai dewasa ia pun di mondokkan ke pesantren Sunan Ampel tempat dimana abahnya dulu pernah menuntut ilmu.

Loading...

Sunan ampel yang mengetahui sebuah isyarat bahwa Joko Samudro adalah anak dari Syekh Maulana Ishak. Pada saatnya tiba Sunan Giri (Joko Samudro) kembali ke Blambangan untuk melanjutkan perjuangan abahnya. Dan islam pun benar-benar mendapat tempat yang istimewa karena Sunan Giri sendiri masih keturunan raja Blambangan, terlebih agama islam telah mengajarkan untuk menjalin hubungan baik dengan sesama manusia.

Adanya tradisi yang telah mengakar kuat tidak membuat syi’ar islam terbengkalai. akulturasi budaya juga mempengaruhi. Terbukti pasca islam masuk ke Blambangan, kesenian dan budaya yang masih identik dengan ajaran hindu ternyata mampu diakulturasi tanpa harus menafikkan secara keseluruhan, hanya saja yang dianggap menyimpang dan tidak sesuai syari’at perlu dihilangkan.

Hal ini dibuktikan dengan masih adanya beberapa upacara adat yang sejak dulu sudah dilakukan. Seperti upacara petik laut, kebo-keboan, rebo wekasan, bersih deso, dsb.

Semua tradisi yang dilaksakan telah dikemas dengan warna islam, mulai dari do’a-do’a sampai tata cara tanpa suatu tekanan yang dapat membuat ke aslian tradisi menghilang secara keseluruhan. Begitu pula dengan budaya tarian turut diakulturasi dengan inovasi yang berunsur islam. Seperti halnya Kesenian hadrah kuntulan juga lahir tidak terlepas dari sejarah perkembangan Islam di Banyuwangi.

Sebelumnya, hadrah kuntulan ini bernama seni hadrah barjanji. Menurut beberapa seniman kuntulan berasal dari kata kuntul, yakni nama sejenis unggas berbulu putih yang biasa terbang secara berkelompok pada siang hari, yang selanjutnya warna putih ini dijadikan sebagai warna busana yang dipakai para pemainnya menandakan kesucian hati dan fikiran.

Baca Juga  Ini Daftar Polisi di Jatim yang Dimutasi Tugas

Sementara itu, beberapa seniman yang lainnya seperti Hasan Singodimayan, Andang CY, dan Sudibjo Aries berpendapat bahwa nama kuntulan secara etimologis berasal dari bahasa arab kuntubil yang artinya terselenggara pada malam hari. Kata tersebut berkaitan dengan aktifitas santri setelah belajar mengaji, yaitu untuk melepaskan rasa jenuh pada malam hari mereka mengadakan kegiatan dengan melontarkan pujian-pujian yang berbentuk syair barjanji dengan diiringi rebana disertai gerakan-gerakan yang monoton.

Pementasan seni hadrah kuntulan berupa tarian (penari laki-laki) yang diiringi dengan rebana ditingkahi vokal berjanjen atau asroqolan. Pada awal kelahirannya, di saat pementasan semua penarinya adalah laki-laki karena masyarakat menganggap tabu dan melanggar ajaran agama Islam jika tarian tersebut diperagakan oleh perempuan. Gerakan yang digunakan juga sangat sederhana, yaitu gerakan yang menggambarkan orang shalat, wudu’, adzan dan perpaduan seni beladiri asli Banyuwangi yaitu pencak sumping.

Dalam perkembangan selanjutnya, seni hadrah kuntulan mengalami berbagai penyempurnaan, baik dalam instrumen musik, tarian, busana, maupun penampilan wanita dalam pementasan. Seiring permintaan zaman kini kesenian islam Banyuwangi tidak hanya tersaji dengan hadrah kuntulan saja, melainkan juga masih ada tari rodad syi’iran, dan tari kundaran yang memiliki unsur cerita tentang kegiatan sosial dan keagamaan.

Jika Sunan Kali Jogo berdakwah dengan pagelaran wayangya, sunan bonang dengan gamelan Jawa yang membahana, maka orang Blambanganpun juga bisa berdakwah dengan produksi seni yang menjadi ciri khas Banyuwangi. Hal ini dibuktikan dengan perhatian khusus oleh pemerintah untuk melestarikan kesenian ini mulai menempati posisi terpenting sebagai aset kebudayaan yang perlu disuarakan ke penjuru negri, bahwa dengan kesenian asli daerah juga berperan penting sebagai syiar agama. Dalam menyampaikan pesan dakwah seperti sabda Rosulullah Saw ballighu a’ny walau ayat yang artinya sampaikanlah ajaran dariku meski satu ayat.

Kini dengan banyaknya santri yang berasal dari Banyuwangi menjadikan musik kuntulan lebih dikenal oleh kalangan Pesantren diluar Banyuwangi sebab mereka para santri sangatlah merasa bangga, bahwa musik dari tanah kelahirannya juga bisa dijadikan media dakwah untuk melanjutkan perjuangan para wali sembilan. Selamat hari musik, semoga hidup makin asik untuk selalu bermunajah kepada sang kholiq. (*)

Penulis adalah Muhammad Iqbal Maulana, alumni Ikatan Santri dan Alumni Salafiyah Syafi’iyah (IKSASS) Sukorejo-Situbondo, asli kelahiran Banyuwangi.
Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, dan bukan menjadi bagian tanggungjawab redaksi Kabarjawatimur.com

Loading...

Tinggalkan Balasan