Menteri KKP RI: Kualitas Sidat di Indonesia Sangat Baik

101
Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas saat memanen sidat di Banyuwangi. (FOTO: Rochman/Kabarjawatimur.com)

BANYUWANGI, (Kabarjawatimur.com) – Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Edhy Prabowo meninjau tambak budidaya sidat, di Desa Bomo, Kecamatan Blimbingsari, Banyuwangi, Jawa Timur.

Dalam kunjungan kerjanya kali ini, Edhy Prabowo juga didampingi oleh Tenaga Ahli Utama Kedeputian IV Kantor Staf Presiden Ali Mochtar Ngabalin, Perwakilan DPR RI, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.

Edhy Prabowo mengatakan, sidat memiliki harga jual yang mahal. Selain mahal, kualitas sidat yang dimiliki Indonesia sangat baik. Meski sidat berasal dari Zaragoza, Spanyol. Edhy menyebut benihnya paling besar lari ke Indonesia.

“Ini kita dapat anugerah anakan sidat selalu muncul di perairan Indonesia di waktu-waktu tertentu. Hampir setiap tahun jumlahnya sangat besar,” ucap Edhy saat kunjungan di PT Iroha Sidat Indonesia (ISI) Banyuwangi, Jum’at (10/7/2020).

Edhy menegaskan, semua ini merupakan wujud pemanfaatan sumber daya alam yang ada di Indonesia. Karena setelah besar Sidat akan kembali lagi ke daerah asalnya. Untuk itulah sidat harus dimanfaatkan dan dibesarkan menjadi industri Unagi.

“Indonesia merupakan negara penghasil sidat yang paling besar di dunia. Namun, nilai ekspor keluar negeri produk sidat indonesia masih peringkat10. Peringkat nomor satu adalah negara Cina,” jelasnya.

“Nilai yang paling hebat, kualitas dan harganya paling mahal daripada semua Unagi yang ada,” tegasnya,” imbuhnya.

Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Edhy Prabowo dan Tenaga Ahli Utama Kedeputian IV Kantor Staf Presiden Ali Mochtar Ngabalin. (FOTO: Rochman/Kabarjawatimur.com)

Di perairan Indonesia khususnya di daerah muara sungai pada saat musim tertentu sangat banyak potensi sidatnya. Pihkanya yakin yang dikembangkan ini tidak hanya sidat dari Banyuwangi. Tapi dari wilayah Indonesia termasuk dari Sulawesi, Pelabuhan Ratu dan seluruh pantai selatan Jawa.

Baca Juga  Program 'Banyuwangi Tangguh' Polresta Dapat Apresiasi dari Pemkab

Edhy Prabowo berjanji akan membantu produktivitas budidaya ikan sidat agar terus tumbuh. Dia juga meminta perusahaan melibatkan masyarakat dalam pengembangan usahanya. Hal seperti ini menurutnya harus didukung.

Loading...

“Kami siap membantu segala macam bentuk perizinan termasuk pemasaran dan kemudahan-kemudahan lainnya untuk melakukan kegiatan usaha,” tegasnya.

Sekedar diketahui, berdiri sejak 2012, ISI memiliki komitmen untuk menyediakan produk sidat berkualitas dengan standar Internasional didukung oleh proses produksi yang terintegrasi, proses pemilihan dan pengawasan yang ketat, dan proses budidaya yang bertanggung jawab serta berkelanjutan.

Berlokasi di Desa Bomo dan Karang Tekok, Jawa Timur, dengan total luas area operasional 45,01 hektar, ISI memiliki fasilitas tambak budidaya, processing serta cold storage. Hasil budidaya kemudian diolah lebih lanjut menjadi produk bernilai tambah untuk didistribusikan ke pasar domestik maupun internasional.

“Selain proses produksi terintegrasi, kami juga menerapkan budidaya sidat yang berkelanjutan mealui sistem restocking. Kami selalu memastikan bahwa sidat yang kami budidayakan akan kami kembalikan ke alam. Sejak tahun 2015, kami mengembalikan lebih dari 250 ribu ekor sidat ke habitatnya,” Ardi Budiono, Head of Aquaculture Division JAPFA.

Produk ikan sidat diolah dengan menerapkan standar produksi dan kualitas mutu internasional sehingga dapat diterima di pasar luar negeri. Tidak hanya sidat, JAPFA secara kontinu telah mengekspor produk perikanan sejak 1992. Pada Januari hingga Juni 2020, Divisi Aquaculture JAPFA telah mengekspor senilai Rp 216 miliar produk budidaya perikanan berupa produk budidaya perikanan berupa produk olahan sidat, tilapia dan udang yang didistribusikan 14 negara di benua Amerika, Eropa, Afrika dan Asia.

Baca Juga  Cara Memulai Usaha dengan Modal Pinjaman Online

Walaupun Indonesia tengah dilanda pandemi COVID-19, komitmen JAPFA untuk terus menjaga rantai pasokan pangan terus berlanjut. Tentunya, operasional dijalankan dengan mengutamakan keamanan dan keselamatan semua pihak sesuai dengan protokol kesehatan sehingga tetap dapat memenuhi permintaan ekspor.

“Ekspor merupakan langkah strategis yang diambil perusahaan saat ini. Hal ini juga sejalan dengan program pemerintah dalam meningkatkan perekonomian Indonesia. Karenanya, JAPFA maupun anak usahanya terus menjaga standar kualitas mutu dan layanan produk guna memenuhi permintaan pasar dalam dan luar negeri, serta mendukung program pemerintah Indonesia mencapai target ekspor Perikanan Indonesia,” ucap Ardhi.

Mewujudkan prinsip 3P (People, Planet, Profit), Divisi Aquaculture JAPFA juga akan mengembangkan fasilitas eduwisata bekerjasama dengan pemerintah Kabupaten Banyuwangi. Di fasilitas eduwisata ini, pengunjung dapat melihat secara langsung proses budidaya sidat dan udang.

Selain itu, pengunjung juga dapat melihat proses pengolahan sidat secara virtual. Pengunjung pun dapat membeli produk olahan sidat sebagai buah tangan menikmati langsung.

Selain itu, Divisi Aquaculture JAPFA bekerjasama dengan Kindai University Jepang dan Universiti Malaysia Sabah. mendirikan Research and Development Centre yang nantinya akan menjadi pusat riset dan pelatihan budidaya perikanan.

Melalui fasilitas ini, diharapkan industri budidaya perikanan Indonesia dapat semakin berkembang dan membawa dampak positif bagi masyarakat. (*)

Reporter: Rochman

Loading...

Tinggalkan Balasan