Mendadak Hutang Gendut, Anggota KSP MAJU Srono Kalang Kabut

1102
Ilustasi uang

BANYUWANGI, (Kabarjawatimur.com) – Lagi-lagi anggota Koperasi Simpan Pinjam (KSP) di Banyuwangi, merasa dirugikan. Kali ini menimpa anggota KSP MAJU (Megah Artha Jaya Sumberayu), Srono, atas nama Suwardi, warga Dusun Sukomukti, Desa Kebaman, Kecamatan Srono.

Petani usia 70 tahun tersebut langsung shock lantaran jumlah hutang sang adik, Bambang Sugiyanto, dengan agunan sertifikat tanah miliknya mendadak membengkak menjadi Rp 300 juta. Padahal sepengetahuan dia, jumlah hutang hanya Rp 150 juta saja.

Transaksi utang piutang ini terjadi pada akhir tahun 2014. Saat itu Bambang Sugianto, adik dari Suwardi, mengalami kesulitan keuangan. Dan berniat untuk hutang Rp 150 juta, di KSP MAJU Srono, dengan agunan meminjam sertifikat tanah miliknya.

Tak tega dengan keluh kesah si adik, Suwardi mengijinkan surat bukti kepemilikan tanah pesawahan miliknya untuk dijadikan jaminan hutang tersebut. Karena agunan milik Suwardi, maka perjanjian hutang dan tanda tangan pun dilakukan olehnya. Seolah yang hutang adalah dia.

“Saya dan istri saya tanda tangan, dan uangnya juga saya terima, Rp 150 juta,” kata Suwardi, Minggu (7/6/2020).

Sekitar bulan April 2015, Marketing KSP MAJU Srono, Broto, bersama petugas bagian kredit, kembali datang kekediaman Suwardi, di Dusun Sukomukti, Desa Kebaman, Kecamatan Srono.

“Saat itu saya dimintai tanda tangan, mereka bilang untuk perpanjangan, dan saya tidak menerima uang seperti tanda tangan yang pertama, tapi tahu-tahu sekarang KSP MAJU bilang bahwa hutang saya Rp 300 juta. Ya saya kaget, istri saya langsung sakit, lha kami tidak pernah menerima uang Rp 300 juta itu,” ungkapnya.

Baca Juga  Jelang New Normal, PT BSI Luncuran Program Pelatihan Green Operator

Atas kejadian ini, Suwardi, mengaku sangat dirugikan. Terlebih belakangan, pihak KSP MAJU Srono, menyampaikan bahwa pembayaran angsuran atas hutang tersebut bermasalah alias macet. Yang berimbas adanya denda hingga menyebabkan jumlah tanggungan hutang makin membengkak hingga Rp 500 juta lebih.

“Kalau hutang yang pertama, Rp 150 juta, saya mengakui, saya memang menerima uang tersebut kemudian saya serahkan adik saya (Bambang Sugianto). Tapi hutang yang disebut menjadi Rp 300 juta, saya tidak pernah menerima uang sejumlah itu dari petugas KSP MAJU, padahal kontraknya atas nama saya,” cetus Suwardi.

Loading...

“Jika hutang atas nama saya, lalu uang oleh pihak KSP MAJU diserahkan ke pihak lain tanpa sepengetahuan saya, lalu ujug-ujug saya ditagih, apakah itu bisa dibenarkan,” imbuhnya.

Lebih parah, akibat hutang tanpa disertai proses serah terima uang tersebut, kini Suwardi sekeluarga merasa diteror oleh Manajer KSP MAJU Srono, Rifki. Yang mana ditengah bencana nasional Covid-19, dia terus saja menagih. Dan diduga telah mengeluarkan ancaman akan melelang agunan tanah seluas 2 hektar lebih milik Suwardi, jika hutang tak kunjung dibayar.

Baca Juga  Gugus Tugas Banyuwangi Akan Gelar Patroli Untuk Kembali Disiplinkan Warga

Yakni hutang berjatuh tempo bulan April 2016, yang tidak pernah ada proses serah terima uang sesuai yang tertera dalam kontrak utang piutang tersebut.

“Dengar tanah saya mau dilelang oleh KSP MAJU, istri saya jadi sakit-sakitan,” ungkap Suwardi.

Dikonfirmasi terpisah, Marketing KSP MAJU Srono, Broto, menjelaskan bahwa pada April 2015, dia datang kerumah Suwardi, bersama petugas bagian kredit, untuk meminta tanda tangan. Berbeda dengan pengakuan Suwardi, menurutnya saat itu dia sudah menjelaskan bahwa tanda tangan tersebut untuk pengajuan hutang baru, sebesar Rp 300 juta.

Namun Broto mengakui bahwa saat itu tidak terjadi proses serah terima uang pinjaman.

“Saya hanya diberi tugas oleh manajer (saat itu dijabat oleh Popi) untuk minta tanda tangan, untuk serah terima uang pinjaman saya tidak tahu, entah oleh manajer diserahkan langsung kepada pak Bambang (adik Suwardi), atau bagaimana, saya tidak tahu,” katanya.

Sementara itu, Manajer KSP MAJU Srono, Rifki, belum bisa dikonfirmasi. Ketika dihubungi via telepon dia tidak menjawab. Begitu juga saat diberi pertanyaan lewat pesan Whatsapp.

Atas polemik KSP yang kesekian kalinya, masyarakat berharap kepedulian Pemerintah Daerah Banyuwangi. Termasuk Kementrian Koperasi, untuk turun kelapangan dan membantu berbagai permasalahan yang menimpa masyarakat. Khususnya kasus yang dialami anggota KSP MAJU Srono ini. (*)

Reporter: Rochman

Loading...

Tinggalkan Balasan