Medis RSU Dr. Soewandi Sepelekan Pasien BPJS, Hingga 1 Jiwa Melayang

283

SURABAYA (kabarjawatimur.com) – Pasien bernama Suparto (63) warga Jl. Kapas Baru gg.X No.87 yang kesehariannya sebagai pengayuh Bentor (becak motor) harus merenggang nyawa saat tiba di ruang IGD RSU Dr. Soewandi (Tambak Rejo) Surabaya pada Sabtu (22/9/2018) pagi.

Sakit yang dialami oleh Suparto sebelum meninggal dunia menurut para dokter RSU Dr. Soewandi dikarenakan hanya kerusakan pada tenggorokan dan pita suara.

Namun berbeda yang dialami oleh 3 anak pasien, keterangan yang dilontarkan oleh ketiga anak pasien saat merawat ayahnya (Suparto), ada kemungkinan mengalami sakit tenggorokan hingga menyerang ke salah satu fungsi saraf.

“Sudah hampir 2 minggu ayah kesulitan makan dan kalau tidur ngorok sepeti ada penyumbatan di pernafasan,” ujar anak ketiga pasien bernama Sukirno (22).

Upaya ketiga anak pasien Suparto untuk mengobatkan ke klinik dan puskesmas ternyata tidak ada hasil. Melihat kondisi sang pasien bertambah kritis lantas Purniasari dan Pendik (kedua anak pasien) harus memeriksakan ke Rumah sakit terdekat RSU Dr. Soewandi, dengan proses BPJS kesehatan.

Karena pada waktu itu bertepatan hari libur Nasional pada Selasa (11/9/2018), maka pasien diperiksakan ke IGD RSU Dr. Soewandi.
Selama pemeriksaan pasien, ditangani oleh salah satu petugas IGD bernama Dr. D. Pratama pihaknya memberikan ketegasan bahwa pasien tidak kritis. Penilaian dokter D. Pratama bahwa pasien masih tergolong sadar saat diajak komunikasi. 

Salah satu tenaga medis IGD RSU Dr. Soewandi menyimpulkan pasien BPJS tidak kritis

Namun anak pertama dari pasien bernama Purniasari (34) mengajukan untuk si ayah (pasien) agar dilakukan rawat inap di Rumah Sakit, menginggat kondisinya tergolong memburuk. 

Namun permintaan itu di tolak oleh sang dokter, dengan alasan pasien mengunakan proses pengobatan BPJS.

“Pada saat itu saya kecewa dengan pelayan dan keterangan dokter itu, bagaimana tidak ayah saya sudah 2 minggu tidak mendapatkan asupan makanan, dan ayah kerap muntah kalau sedang makan, kok malah bilang bukan pasien kritis,” ujar Purniasari.

Baca Juga  Bupati Anna Dorong Siswa SMKN Se-Bojonegoro Terus Berinovasi Ciptakan Alat

Hal serupa dilontarkan oleh anak nomer dua bernama Pendik (28), dokter D. Pratama memberikan keterangan bahwa di unit IGD tempatnya orang kritis jadi alangkah baiknya pasien yang tidak kritis jangan didaftarkan ke IGD.

Loading...

“Saya juga kecewa dengan apa yang diutarakan oleh dokter itu, kalau ayah saya tidak kritis tidak mungkin pada hari libur nasional nekat membawa ayah saya ke sini (IGD), saya tiap hari melihat ayah saya miris dengan kondisi seperti itu malah dokter itu bilang tidak kritis,” geram Pendik.

Namun dokter IGD memberikan surat rujukan ke spesialis THT (telinga hidung tenggorokan), untuk dipergunakan pada Rabu (12/9/2018). Masih mengunakan proses pengobatan BPJS yamg dilakukan oleh Suparto saat memeriksakan diri ke klinik THT.

Pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter Dr. Eri C.Y kepada Suparto pada Rabu (12/9/2018), kembali tidak mendapatkan hasil yang memuaskan bagi keluarga pasien.

Dimana saat pemeriksaan pihak klinik THT hanya memberikan resep obat untuk penghilang rasa sakit tenggorokan. Dan pihak klinik THT mengutarakan bahwa untuk proses pemeriksaan mengunakan BPJS tidak bisa secara mudah pasien mengajukan rawat inap.

“Sempat saya dengar keterangan salah satu dokter bahwa untuk penguna BPJS sang pasien harus kritis dulu baru rawat inap, kok dokter RSU Soewandi sini menyepelekan urusan nyawa ya,” tegas Purniasari.

Dengan keterangan yang dilontarkan dokter klinik THT, kedua anak pasien yaitu Pendik dan Purniasari memprotes keras, hingga pihak klinik THT memberikan surat rujukan agar pasien melakukan foto Ronzen dan cek darah.

Baca Juga  Kemenag Sebut Ada Wacana Kenaikan Biaya Haji

Hingga hasil foto dan cek darah selesai tidak ada keterangan lanjutan dari pihak pihak RSU Dr. Soewandi.

Dan 1 minggu kemudian Sabtu (22/9/2018) sang pasien mengalami koma dan dilarikan kembali ke RSU Dr. Soewandi, namun setibanya di IGD pasien sudah menghembuskan nafas terakhir.

Meninggalnya pasien Suparto salah satu dokter IGD bernama Dr. Diah sempat menegur anak pasien bernama Purniasari. Dengan kondisi pasien yang sudah seperti ini kenapa pihak keluarga baru membawa sang pasien hari ini kesini.

Dengan teguran sang dokter, Purniasari geram dan kembali mengumpat para dokter IGD.

“Apa memang saya tidak pernah kesini saya sudah dua kali ke Rumah Sakit ini dan sudah saya peringatkan bahwa ayah saya kritis mamun tidak dihiraukan, apa karena saya mengunakan BPJS ?, kalau seperti ini bagaimana ?,” jawaban geram yang dilontarkan oleh Purniasari kepada dokter IGD.

Dengan jawaban tegas dan geram yang dilontarkan Purniasari, dokter Diah mencoba meredam kemarahan Purniasari dengan akan membantu memproses dan mengeluarkan surat kematian secara cepat.

Dengan cerita diatas terkait pelayanan kesehatan bagi pasien mengunakan BPJS, yang diberikan tergolong tidak standart ternyata masih berlaku.

Beberapa tahun yang lalu masyarakat memberikan label RSU Dr. Soewandi adalah Rumah sakit dengan pelayanan buruk, sehingga pemerintah mencoba untuk merubah pemikiran masyarakat dengan meningkatkan pelayanan ruang kesehatan dan pelayanan tenaga medisnya.

Namun hal tersebut kembali terulang, standart pelayanan medis yamg diterapkan oleh tenaga medis RSU Dr. Soewandi kembali dipertanyakan?

Semoga sanak keluarga kita tidak mengalami hal yang sama dialami oleh almarhum Suparto.

Reporter.   :  Rusmiyanto

Editor.        :  Budi 

Loading...
Artikulli paraprakNekat, Pria Surabaya ini Ngaku Polisi dan Bersenpi
Artikulli tjetërGara-gara Senggolan Motor, Warga Kangean Tewas Dibacok Tetangga

2 KOMENTAR

Tinggalkan Balasan