Mbah Tameng Jati Sang Penyebar Agama Islam Di Desa Sudah

363

BOJONEGORO(kabarjawatimur.com),- Berbagai Tempat wisata Religi di Bojonegoro seperti Wali Kidanga ,dan yang lainnya makam Mbah Tameng Jati lah yang kondisinya kurang di kenal oleh masyarakat Luas.

Jika kita mendengar kata Malo, otomatis sebagian orang akan berfikir tentang beberapa destinasi wisata yang berada di sana, salah satunya adalah wisata budaya Wali Kidangan. Namun, selain Wali Kidangan ternyata di sana ada salah satu makam penyebar islam, yang banyak masyarakat sekitar belum mengetahuinya.

Makam Mbah Kiyai Tameng Jati atau dengan nama lain Mbah Abdurrohman Hadi yang terletak di Desa Sudah Kecamatan Malo Kabupaten Bojonegoro Jawa timur,jika Anda dari Pendopo Kantor Kecamatan Malo belok ke Selatan melewati Desa Rendeng terus ke selatan kurang Lebih 1 km di sana anda akan Menemukan sebuah Cungkup Makam Mbah Tameng Jati.

Salah satu penjaga makam yang sekaligus adik dari Juru kunci makam tersebut, Fathul Mu’in mengatakan, dengan adanya makam ini, banyak masyarakat sekitar yang selalu datang untuk berziarah, namun banyak masyarakat yang tidak tahu siapa Kiyai Tameng Jati sebenarnya dan berasal dari mana.

“Masyarakat hanya sekadar mengetahui kalau beliau adalah salah satu penyebar islam pada zaman dahulu di desa ini dan sekitarnya,” ungkapnya.

Dibandingkan dengan masyarakat sekitar, banyak penziarah yang bersal dari luar kabupaten, bahkan luar Provinsi Jawa Timur, yaitu dari Jawa Tengah dan Jawa barat.

Dengan banyaknya peziarah yang datang ke makam Kiyai Tameng Jati, Fathul Mu’in bingung, karena banyak peziarah yang berasal dari luar daerah, sehingga ia mempunyai keinginan untuk mengetahui siapa sebenarnya Kiyai Tameng Jati.

Bersama dengan teman-temanya, Fathul Mu’in mencari sumber-sumber dari masyarakat sekitar, namun banyak yang tidak mengetahui. Kemudian, ia beserta teman-temanya mendapatkan informasi dari seseorang yang sudah tua yang dirasa mengetahuinya, tetapi hanya sekilas saja. Laki-laki tua tersebut mengatakan, bahwa Kiyai Tameng Jati berasal dari barat, yaitu Ngrabek Arab.

“Nama orang tua tersebut adalah Mbah Kasmani, namun beliau sekarang sudah meninggal sekitar beberapa bulan yang lalu, Mbah Kasmani dulunya adalah seorang yang sangat suka menyendiri atau bisa disebut tirakat,” lanjut Mu’in panggilan akrabnya.

Baca Juga  Lomba Nglenyer Dance, Fasilitas Ekspresi Kreativitas Anak Muda Bojonegoro

Mbah Kasmani dulu bercerita, kalau Kiyai Tameng Jati tidak sendirian dalam menyebarkan agam islam yang dibantu dua sahabatnya, yaitu Kiyai Sepet Jati dan Kiyai Dimar Jati.

Namun, Mbah Kasmani tidak menjelaskan siapa nama asli Kiyai Sepet Jati dan Kiyai Dimar Jati.

“Setelah berhasil mengislamkan masyarakat Sudah dan sekitarnya, Kiyai Sepet Jati dan Kiyai Dimar Jati Lelono (pindah) ke barat, untuk menyebarkan islam lagi, namun entah ke barat mana,” ujar Mu’in yang menyampaikan cerita dari Mbah Kasmani.

Mbah Kasmani juga tidak tahu persis bagaimana cara penyebaran islam kepada masyarakat di sini, namun katanya, ketiga penyebar islam tersebut mempunyai kelebihan masing-masing.

Kalau Kiyai Dimar Jati berperan dalam bidang dakwah. Kiyai Sepet Jati bisa disebut panglima perang, ketika perang beliau selalu di depan sendiri. Sedang, Kiyai Tameng Jati mempunyai kelebihan indra keenam, yang mana ketika akan ada perang beliau sudah mengetahuinya.

Loading...

“Kiyai Tameng Jati sendiri tidak mempunyai keturunan,” lanjut Fatkhul Mu’in.

Selain itu, Fatkhul Mu’in juga menceritakan, tentang pernah ada kiyai asal Pondok Pesantren (Ponpes) yang pernah ziarah ke sini, bersama puluhan jemaahnya naik tiga bus mini, namun ia lupa tidak bertanya siapa nama kiyai itu dan dari pondok mana.

Kiyai tersebut mengatakan, besok pada waktu yang akan datang, sejarah dari Kiyai Tameng Jati akan terungkap. Ketika dikasih tahu tentang hal itu, Fatkhul Mu’in merasa senang, sehingga tidak sempat menanyakan bagaimana kiyai tersebut bisa mengetahuinya.

“Setelah sekitar 2 tahun tersebut, para rombongan jemaah baru mau ke sini,” kata Fatkhul Mu’in, menirukan sang sopir.

Ketika baru sampai di utara jembatan Malo, lanjut Fatkhul Mu’in bercerita, sopir itu berkata kepada kiyai, “Pak Kiyai sudah ketemu satu makam walinya,” sambil menunjuk plang nama dari Wali Kidangan.

Akan tetapi kiyai tersebut tidak mau, karena ingin berziarah ke makam leluhur yang lebih tua dulu, yaitu makam Kiyai Tameng Jati.

“Otomatis penyebar islam yang paling tua di Malo adalah Kiyai Tameng Jati,” ucap Fatkhul Mu’in saat berada di rumahnya.

Baca Juga  Plat Nomor Jadi Putih Tulisan Hitam, Mengapa?

Setelah itu, sopir tersebut memberitahu catatan-catan penyebar islam di Kecamatan Malo kepada Fathul Mu’in, yang ternyata ada tiga makam penyebar islam yang sangat hebat, yaitu Kiyai Tameng Jati, Kiyai Zakariya dan Wali Kidangan.

Kiyai tersebut juga sempat bertanya kepada Mu’in tentang kondisi makam yang sudah ada perubahan, yang dulunya hanya sebuah gundukan tanah, namun sekarang sudah ada renofasi, seperti sudah dibuatkan bangunan cungkup kecil untuk tempat makamnya dan beralaskan keramik.
Ketika ditanya tentang hal tersebut, sontak Mu’in langsung kaget, dan bertanya balik kepada kiyai tersebut.

“Njenengan pun bakdo ten mriki to yi (Anda sudah pernah ke sini Pak Kiyai),” tanya ayah satu anak ini, namun kiyai tersebut menjawab bahwa belum pernah ke sini sama sekali.
Oleh karena itu, Mu’in berfirasat, bahwa kiyai tersebut bukan kiyai sembarangan, karena bisa mengetahui makam Kiyai Tameng Jati, padahal tidak pernah datang sebelumnya ke Malo.

Untuk Haul sendiri, rencananya Mu’in ingin mengadakannya, karena kesulitan dari segi pendanaan dan juga kesulitan ketika ingin membuat proposal pengajuan dana, lantaran masih bingung tentang sejarah Kiyai Tameng Jati sendiri.

“Sehingga kami hanya mengadakan tahlil di tempat makam Kiyai Tameng Jati bersama masyarakat yang percaya kepada beliau setiap malam Jumat pahing saja,” pungkasnya.

Di tempat terpisah Amari Selaku Kepala Desa Sudah ingin memberikan Suatu penghormatan yang lebih kepada penyebar agama islam pertama kali yaitu Mbah Kyai Tameng Jati,namun Apa Daya Keuangan atau pendanaan yang minim sampai saat ini keinginan itu belum terwujud.

” Dalam kepemimpinan saya ini saya ingin mencoba memberikan sesuatu yang berbeda dengan apa yang ada di Desa sudah ini mas,mungkin dalam bentuk acara Grebek Suro di makam Mbah Kyai Tameng Jati,namun itu semua terhalang Dana,meskipun demikian aku akan mencoba dan terus berusaha untuk itu semua” pungkas Kades kepadakabarjawatimur.com.

Reporter : Agus Jaya
Editor : Budi
Publisher : Gunawan

Loading...
Artikulli paraprakTiga Seri Nubia Smartphone, Resmi Diluncurkan di Surabaya
Artikulli tjetërKioshat Pilih Makanan Organik Cinta Lingkungan dan Alam Semesta

Tinggalkan Balasan