Para peserta Parade Budaya saat menunggangi kuda dan iring-iringan serta aneka jajanan tradisional yang disuguhkan kepada para pengunjung.

GRESIK, (Kabarjawatimur.com) – Demi melestarikan tradisi dan memperkenalkan potensi desa, Wisata Alam Gosari (Wagos) Kabupaten Gresik menggelar ‘Parade Budaya’ mulai dari iring-iringan kuda, cikar (sapi) hingga jajanan tradisional dengan peserta berseragam bak pasukan kerajaan.

Tak hanya itu, kegiatan yang digelar di Desa Gosari, Kecamatan Ujungpangkah, Gresik ini juga melibatkan warga setempat untuk kerja bakti membersihkan sendang, memandikan sapi, tarian gerabah hingga pencak silat. Meski begitu, kegiatan ini tetap menerapkan protokol kesehatan.

Ketua Pengelola Wagos Misbakhud Dawam menjelaskan, kegiatan ini dilaksanakan untuk mengangkat kembali potensi budaya dengan melibatkan Pokdarwis, Karang Taruna, Ibu-ibu PKK dan unsur perangkat desa setempat. Secara kebetulan kegiatan ini digelar jelang Bulan Suci Ramadhan.

Loading...

“Melalui parade budaya ini, kita ingin mengangkat perekonomian desa salah satunya melalui jajanan tradisional. Kita juga kenalkan desa ini punya wisata alam dan budaya yang harus dilestarikan dan dikenalkan ke masyarakat dan pengunjung,” ujar Dawam, Minggu (4/4/2021).

Baca Juga  Bupati Gus Yani Lantik Achmad Washil Sebagai Sekda Gresik Baru

Aneka jajanan tradisional yang dijual dalam Parade Budaya kali ini antara lain, kucur, lemper, tape ketan, tetel, apem, juadah, kue lumpur, lupis, onde-onde dan lain sebagainya. Hal ini bertujuan membangkitkan ekonomi masyarakat.

“Total ada sekitar 15 jenis jajanan tradisional yang dijual ke pengunjung Wagos. Biasanya digelar rutin setahun sekali, namun karena antusias masyarakat cukup tinggi maka ke depan akan dilaksanakan setiap bulan atau seminggu sekali,” ungkapnya.

Miftah, salah seorang pengunjung asal Tuban mengaku event ini sangat bagus dan bisa bernostalgia dengan sejumlah budaya yang disuguhkan. Bahkan, paling menarik adalah aneka kuliner yang mulai langka.

“Tadi saya mencoba mencicipi tape ketan dan tetel. Rasanya gurih dan manis. Enak sekali rasanya. Sepertinya ini adalah makanan mbah saya dahulu,” ucap wanita berparas cantik ini.

Baca Juga  Warga Serbu Vaksinasi di Lapangan THOR Surabaya

Hal senada juga diungkapkan oleh pengunjung lain Khanif Rosidi. Selain berwisata budaya dengan mengetahui aktivitas masyarakat pedesaan. Ada puluhan spot selfie yang semakin lengkap dan banyak.

“Tadi saya melihat ada tarian serta pencak silat. Ada juga tradisi unik dari peternak yang memandikan sapi di sendang. Bagi orang yang hidup di perkotaan seperti saya, hal ini sangat menarik,” ucapnya. (*)

Reporter : Azharil Farich

Loading...
Berita sebelumyaKLB Demokrat ‘Abal-Abal’ Ditolak Kemenkumham, Kader di Banyuwangi Syukuran
Berita berikutnyaKapolri Bersyukur Puncak Perayaan Paskah Berlangsung Lancar dan Aman

Tinggalkan Balasan