Kasus Kayu Jati Ilegal Perhutani KPH Banyuwangi Selatan, Wartawan Dilarang Masuk Djawatan Benculuk

214
Barangbukti, puluhan kayu jati ilegal yang diamankan di Djawatan, Benculuk, Banyuwangi. (FOTO:Kabarjawatimur.com)

BANYUWANGI, (Kabarjawatimur.com) – Yoga James Dwi Betara, tersangka kasus kayu jati ilegal Perhutani KPH Banyuwangi Selatan, diduga mendapat perlakuan khusus. Mandor TPK Ringintelu, tersebut hingga kini belum juga ditahan. Padahal jelas-jelas telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Polsek Siliragung, Banyuwangi.

Yang terjadi, oleh pihak Perhutani KPH Banyuwangi Selatan, Yoga James Dwi Betara, hanya diganjar mutasi. Dari jabatan Mandor TPK Ringintelu, digeser ke kantor Djawatan Benculuk. Menjadi staf Waka ADM Perhutani KPH Banyuwangi Selatan, Hari Jatmiko.

Indikasi perlakuan khusus terhadap Yoga James Dwi Betara, makin kentara ketika awak media datang ke kantor Djawatan Benculuk. Dia yang jelas-jelas sedang bermasalah, malah dengan santai tidak berdinas.

“Yoga gak masuk,” ucap Tohir, pegawai Perhutani yang berkantor di Djawatan Benculuk, Selasa (9/6/2020).

Makin mencurigakan, para pegawai BUMN Perhutani KPH Banyuwangi Selatan yang berkantor di Djawatan Benculuk, mendadak kompak melarang wartawan masuk. Bahkan mereka terang-terangan memasang wajah tidak bersahabat. Nampak sekali rasa keberatan, entah apa yang disembunyikan.

Dalih mereka menolak kedatangan para jurnalis, karena Djawatan Benculuk ditutup selama pandemi Covid-19.

“Bohong kalau tutup, wong saya tiap hari melihat sendiri pengunjung keluar masuk, bohong itu,” cetus O, warga sekitar.

Usut punya usut, selain menjadi tempat mutasi Yoga. Ternyata kantor Djawatan Benculuk adalah tempat diamankannya barang bukti puluhan kayu jati ilegal milik Yoga James Dwi Betara. Si Mandor TPK Ringintelu, Perhutani KPH Banyuwangi Selatan. Pantas saja.

Namun sayang, terkait kondisi ini, Waka ADM Perhutani KPH Banyuwangi Selatan, Hari Jatmiko, belum bisa dikonfirmasi wartawan. Dia sedang tidak ada dikantor Djawatan Benculuk. Ketika dihubungi via telepon dia juga tidak menjawab.

Seperti diketahui, pengungkapan kasus 80 balok kayu jati ilegal di Banyuwangi, ini berawal dari informasi masyarakat. Selanjutnya, pada 11 Mei 2020, petugas Polhut Perhutani KPH Banyuwangi Selatan, yang dipimpin Pengda Aris Rofiq Hidayat SH, berhasil mengamankan puluhan balok kayu jati tanpa dokumen resmi tersebut.

Loading...

Barang bukti ditemukan di dua lokasi berbeda. 50 Balok di pekarangan rumah milik Tum di Desa Sukorejo, Kecamatan Bangorejo. Sedang 30 balok ditemukan di pekarangan rumah Yoga James Dwi Betara, pegawai Perhutani KPH Banyuwangi Selatan, di Desa Siliragung, Kecamatan Siliragung.

Karena TKP kayu jati ilegal berada didua Kecamatan berbeda. Maka proses hukum pun dilakukan di Polsek Bangorejo dan Siliragung.

Laporan yang masuk ke Polsek Siliragung, balok kayu jati tanpa dokumen milik Yoga, diduga berasal dari Petak 57a dan 57b, RPH Senepo Utara, BKPH Pesanggaran, Perhutani KPH Banyuwangi Selatan.

Namun kepada petugas, pegawai TPK Ringintelu tersebut membantah jika balok kayu jati miliknya berasal dari lahan Perhutani. Melainkan dari hasil pembelian dari Katiman, warga Desa Barurejo, Kecamatan Siliragung. Tapi, saat ditunjukan Nota Angkut dan barang bukti, Katiman, tidak mengakui jika balok kayu jati itu darinya.

“Itu bukan dari saya pak, entah itu didapat (Yoga) dari mana,” ungkap Kapolsek Siliragung, AKP Sumono, melalui Kanit Reskrim, Ipda Sutomo, menirukan pengakuan Katiman.

Dijelaskan juga, dari hasil gelar perkara, Polsek Siliragung langsung meningkatkan status Yoga menjadi tersangka.

Dan dalam kasus ini, Surat Penyitaan barang bukti juga belum dapat diterbitkan. lantaran Saksi Ahli dari Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur, atau petugas yang ditunjuk belum bisa dihadirkan.

Kasus puluhan balok kayu jati ilegal yang disinyalir hasil ilegal logging milik Yoga James Dwi Betara, pegawai TPK Ringintelu, Perhutani KPH Banyuwangi Selatan, ini menjadi sorotan publik Bumi Blambangan. Termasuk anggota Komisi VI DPR RI, Sonny T Danaparamita. Bahkan dia meminta Kepala Divisi Regional Perhutani Jawa Timur, Oman Suherman, untuk memantau langsung pengusutan kasus ini.

“Saya sangat kecewa, kepercayaan yang diberikan oleh negara kepadanya (Yoga) malah digunakan untuk merusak negara sekaligus merusak isinya. Hal ini sangat bertentangan dengan upaya Menteri BUMN yang sedang berbenah memperbaiki BUMN,” katanya terkait kasus kayu jati ilegal Perhutani KPH Banyuwangi Selatan. (*)

Reporter: Rochman

Loading...
Artikulli paraprakGubernur Khofifah Sebut Surabaya Raya Belum Aman untuk Normal Baru
Artikulli tjetërBelum Kelar Nyanyi Satu Lagu, Pemuda ini Diteriaki Maling dan Lari ke Gang Buntu

Tinggalkan Balasan