Foto: Istimewa

BANYUWANGI, (Kabarjawatimur.com) –  Kepala Desa (Kades) Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, Vivin Agustin, mengaku tidak mengetahui soal perizinan homestay Mojo Surf Camp Pulau Merah.

“Kami belum bisa koordinasi, kami tak ke yang bersangkutan dulu,” ucapnya, pada Rabu (5/2/2020).

Padahal, tempat usaha di Dusun Pancer tersebut disinyalir milik investor asing. Dan diduga mempekerjakan Warga Negara Asing (WNA). Namun anehnya, meski sudah lama berdiri diwilayahnya, Vivin, mengaku tidak tahu menahu tentang hal tersebut.

“Nanti kami tak mencari info,” katanya kepada wartawan.

Komentar yang sama juga disampaikan oleh Camat Pesanggaran, Sugiyo Dermawan. Dia mengaku tidak tahu menahu siapa pemilik homestay Mojo Surf Camp Pulau Merah.

“Homestay disitu mayoritas tidak memiliki izin, lahannya milik Perhutani,” ujarnya kepada wartawan.

Baca Juga  Kabur ke Nganjuk, Pelaku Pembunuhan Dibekuk Jatanras Polrestabes

Sementara itu, Dinas PU Binamarga Cipta Karya dan Penataan Ruang Banyuwangi, juga menegaskan bahwa pihaknya tidak pernah mengeluarkan Advice Plan untuk pembangunan homestay Mojo Surf Camp Pulau Merah.

Dilihat dari lokasi, tempat usaha yang disinyalir milik WNA ini berdiri diatas tanah negara tanpa izin. Tepatnya tanah negara dibawah pengelolaan Perhutani KPH Banyuwangi Selatan yang kini sedang proses Tukar Menukar Kawasan Hutan (TMKH) dengan masyarakat Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi.

Loading...

“Sudah ada kesepakatan dari panitia TMKH, tapi mestinya tidak ada penambahan bangunan baru sampai proses TMKH selesai,” jelas Administratur Perhutani KPH Banyuwangi Selatan, Nur Budi Susatyo.

Namun sayang, Zainal Arifin, selaku pengelola homestay Mojo Surf Camp Pulau Merah menolak berkomentar. Warga Desa Ringintelu, Kecamatan Bangorejo, yang juga mantan Calon Legislatif (Caleg) Partai Nasdem Banyuwangi, ini justru mengaku tidak mengenal wartawan.

Baca Juga  Pengakuan Bohong Kades Vivin Tentang Program Air Bersih Pulau Merah

“Saya nggak kenal sama wartawan!, kalau memang bener sampeyan wartawan, pasti sampeyan nengokin warga pancer yang sampai hari ini bertahan, kalau memang mau wawancara, kita ketemu, saya tunggu ditenda warga pancer,” katanya

“Saya senang komentar kalau ketemu sampeyan, saya di pancer, saya tunggu dipancer, kita ketemu ya, biar enak. Kalau komentar tapi nggak pernah ketemu sampeyan saya sangat keberatan,” tambahnya.

Atas kejadian ini, masyarakat berharap ada ketegasan dari pemerintah daerah maupun aparat penegak hukum. Sebagai bukti bahwa penegakan supremasi hukum di Banyuwangi, benar-benar tidak tebang pilih. (*)

Reporter: Rochman

Loading...
Berita sebelumyaDuh! Baru Dipasang PJU di Patarongan Torjun Sudah Mati
Berita berikutnyaHomestay ‘Mojo Surf Camp’ Pulau Merah Diduga Jual Miras Ilegal Dekat Tempat Ibadah, PHDI Banyuwangi Desak Aparat Tindak Tegas

Tinggalkan Balasan