‘Jaran’ Itu Kuda Dan ‘Buto’ Itu Raksasa

54

BANYUWANGI, (kabarjawatimur.com) OPINI – Angkat topi untuk Banyuwangi. Tepuk tangan untuk Banyuwangi dan acung jempol tinggi-tinggi untukmu Banyuwangi atas digelarnya Festival ‘Jaranan Buto’ di halaman Terminal Jajag ini.

Langit biru malam di Banyuwangi ikut mendengar suara tetabuhan magis yang mengiringi gerak rancak seni tradisi ‘Jaranan Buto’.

Hangatnya tanah di bumi Banyuwangi ikut terhentak oleh kaki-kaki kekar para penari tradisi itu.

Festival ‘Jaranan Buto’ jika diurai kata dasarnya menjadi ‘jaran’ adalah kuda, dan ‘buto’ itu raksasa.

Dan, jika aku diizinkan untuk menyimbolisasikan ‘Jaranan Buto’ itu dalam konteks social sehari-hari antara ‘pemimpin’ dan ‘yang dipimpin’ di kabupaten ini barangkali menjadi beragam pertanyaan yang butuh jawaban jujur dan apa adanya.

Loading...
Baca Juga  Warga Glenmore Kembali Soroti PT IGG

Mungkinkah dalam demokrasi di kabupaten ini bisa terjadi seorang peminpin berlaku seperti ‘buto’ yang berkarakter raksasa serakah kemudian ‘menghisap’ darah rakyatnya sendiri?

Atau mungkinkah seorang pemimpin ketika diberi amanat oleh rakyat tapi justru ia memperlakukan rakyatnya seperti ‘jaran’ dan ‘diperkuda’ hak-hak kedaulatannya?

Langit malam semakin larut. Dan, suara gamelan pentatonik yang dipadu oleh hentak-hentak kaki penari ‘Jaranan Buto’ itu semakin harmonis.

Semakin terasa magis.

Penulis : Roy Enhaer
Editor : Agus
Publisher : Gunawan

Loading...
Artikulli paraprakJalin Kebersamaan, Polrestabes Surabaya Gelar Olahraga Bersama
Artikulli tjetërPesona Danau Hijau Di Rowo Bayu Banyuwangi

Tinggalkan Balasan