BANGKALAN, (Kabarjawatimur.com) – Perkembangan investasi di Kabupaten Bangkalan beberapa tahun terakhir mulai menggeliat, sebagaimana dapat kita simak sepanjang akses jalan Suramadu-Burneh-Tanah Merah mulai menjamur usaha kuliner dalam menyambut wisatawan, baik lokal maupun domestik.

Disamping kuliner, ritel; mini swalayan pun ikut serta mewarnai ragam kota dzikir dan shalawat sebagaimana menggandrungi kota-kota lainnya.

Berdasarkan data dari Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM PTSP) nominal angka investasi hingga Juni 2019 telah mencapai Rp. 365.032.629.442 milyar rupiah. Angka tersebut naik dua kali lipat dari tahun sebelumnya yang berkisasr diangka Rp.144.400.780.000.

Kepala bidang pengendalian penanaman modal DPM PTSP Muhammad Hosun mengungkapkan meningkatnya investasi di Kabupaten Bangkalan disebabkan sistem perizinan yang makin gampang dan mudah.

‘’Pengajuan izin usaha menggunakan OSS (Online Single Submition), cukup daftar online nomor induk berusaha sudah bisa keluar,’’ terangnya.

Bak pisau bermata dua, aplikasi OSS mendukung iklim investasi melalui kemudahan investor dalam memenuhi dokumen syarat pendirian suatu usaha, namun di sisi lain pula lambat laun menjerat pelaku ekonomi lokal yang mayoritas modal pas-pasan dan usaha jalan di tempat, lebih parah gulung tikar.

Menurut Data dari DPM PTSP, jumlah retail modern yang memiliki izin hingga JULI tahun ini berjumlah 64 gerai. Kemudahan bertansaksi, ruang ber-Ac dan pelayanan nyaman dari pegawai retail modern menjadi alasan pembeli beralih dari kios atau toko konvensional dan pasar tradisional.

Baca Juga  Tingkatkan Pengawasan WNA, TIMPORA Surabaya Gelar Rapat Koordinasi

Ketua Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa DPRD Kabupaten Bangkalan Muhammad hotib mengungkapkan, perlu ketegasan Pemerintah Daerah dalam melakukan penataan tata letak dan zonasi prihal pasar modern dalam rangka melindungi koeksistensi pasar tradisional sebagai roda penggerak ekonomi lokal.

Loading...

Sebab menurut Hoteb, Perda Kab Bangkalan No. 5 Tahun 2016 Pasal 27 ayat (3) tentang perlindungan pasar tradisional menyebutkan jika Pendirian pusat pembelanjaan dan toko swalayan (pasar modern) wajib memperhitungkan kondisi sosial ekonomi masyarakat, keberadaan pasar rakyat, usaha kecil-menengah yang ada di wilayah bersangkutan serta memperhatikan jarak pendirian pusat pembelanjaan dan toko swalayan (pasar modern) dengan pasar rakyat yang telah ada sebelumnya, minimal radius 3 km.

‘’Jelas, keberpihakan Perda tersebut pada perlindungan usaha kecil-menengah, Jika kita tilik beberapa pasar modern, toko ritel, swalayan, mall dan jenis varietas toko modern lainnya, justru sebaliknya. Perda tersebut ompong, tidak mampu menekan bayang-bayang kuasa modernitas atas tradisionalism. Membiarkan siklus modal, barang dan jasa mayoritas berputar dalam satu haluan, siklus kuasa korporasi,’’ terangnya.

Baca Juga  Lacak HP Hasil Curian, Polisi Tangkap Pelakunya

Maka dari itu kata Hoteb menyatakan, Dalam rangka menyelamatkan eksistensi dan keberlangsungan pasar rakyat, keberpihakan Pemerintah Daerah secara rill dalam melakukan revitalisasi pasar tradisional melalui dukungan anggaran, Pengadaan, perbaikan, perawatan infrastruktur pendukung pasar sehingga Merubah wajah pasar tradisional yang kumuh, becek, bau, licin dan macet menjadi kokoh, bersih dan tertib.

‘’Perlindungan semata tidak cukup, sebagaimana bayi yang terlahir di kandung badan, tidak hanya butuh dekapan seorang ibu, lebih dari itu pula suapan makan dan minuman bergizi untuk memastikan tumbuh kembang yang sehat dan pintar,’’ imbuh.

Menanggapi hal itu, Kepala Bagian Perekonomian Setkab Joko Supriono mengungkpkan jika pertumbuhan ekonomi di Kabupaten yang saat ini menyentuh angka 5 persen terbilang stabil, tetapi dalam kajianya, iklim investasi di Kabupaten Bangkalan memang harus terus di dorong agar pertumbuhan ekonomi pun menguat.

‘’Setelah Suramadu di bangun, kita belum punya apa-apa. Di dalam masih kosong, meski kian tahun pendapatan asli daerah kita terus meningkat,’’ tuturnya.

Joko sapaan akrabnya menambahkan jika pemerintah sedang mengupayakan agar produk lokal dapat menembus standarisasi kemasan retail modern sehingga produk lokal unggulan dapat tersedia di gerai-gerai toko modern. (*)

Reporter: Eko

Loading...
Berita sebelumyaNyawa Maling ini Nyaris Melayang jika Polisi Lambat Datang
Berita berikutnyaPeringati HUT Lalu Lintas,Satlantas Polres Blitar Cek Kesehatan Geratis Awak Angkutan Umum

Tinggalkan Balasan