HKTI Minta Beras Impor dari Vietnam Tahun 2018 Tidak Digunakan di Banyuwangi

17
Ketua Dewan Pimpinan Kabupaten (DPK) HKTI Banyuwangi, Sonny Agus Setiawan (istimewa)

BANYUWANGI, (Kabarjawatimur.com) – Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) meminta dan berharap agar tidak menggunakan 3.000 ton beras Vietnam sisa impor 2018 untuk operasi pasar di Banyuwangi. Mengingat, jutaan kilogram beras tersebut telah berusia 3 tahun. Sedangkan produksi panen padi di Banyuwangi tahun ini diprediksi meningkat 22,8 persen.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, beras impor dari Vietnam tersebut tersimpan merata di gudang-gudang Bulog Banyuwangi. Hingga kini, masih tersimpan rapi menunggu instruksi dari pusat untuk dikeluarkan.

“Sebaiknya jangan menggunakan beras yang sisa impor itu ya untuk operasi pasar. Seperti informasi yang kami terima, beras tersebut tidak untuk diedarkan di Jawa. Termasuk Banyuwangi,” kata Ketua Dewan Pimpinan Kabupaten (DPK) HKTI Banyuwangi, Sonny Agus Setiawan, Sabtu (27/3/2021).

Dijelaskan Sonny, musim panen padi pada tahun ini di Banyuwangi sendiri diprediksi meningkat. Artinya, kata Sonny, dibandingkan menggunakan beras impor untuk operasi pasar, alangkah baiknya menggunakan beras dari musim panen raya saat ini. Langkah ini, dinilainya bisa membantu para petani untuk mengatasi jebloknya harga gabah.

“Beras kita di Banyuwangi sudah melimpah. Jadi operasi pasar tidak perlu menggunakan beras impor lah. Pakai saja beras sendiri, sekaligus bisa membantu petani,” katanya.

Mengenai kualitas sisa beras impor di Banyuwangi, Sonny pun turut berpendapat. Menurutnya, kualitas beras setelah penyimpanan selama 3 tahun pasti menurun.

“Beras kalau lama disimpan, pasti ada penurunan mutu. Meskipun diproses kembali dengan mengelupaskan kulit ari, namun baunya pasti apek,” kata Sonny.

Soal penundaan wacana impor beras, Sonny pun turut lega. Karena HKTI sendiri kurang sepakat dengan wacana mendatangkan beras asing. Terlebih jika dilakukan di musim panen raya saat ini. Menurutnya, wacana impor beras menjadi salah satu faktor psikologis yang mempengaruhi anjloknya harga gabah saat ini.

Baca Juga  Bertengkar, Suami Siri Tega Bunuh Istri lalu Rampas HP dan ATM Korban

“Kalau ditunda, para petani pastinya turut lega. Namun yang jelas, kami kurang bersepakat soal wacana impor beras ini. Terlebih di masa panen raya seperti ini,” jelas Sonny.

Diberitakan sebelumnya, sebanyak 3.000 ton beras dari Vietnam sisa impor pada tahun 2018 masih tersimpan di Banyuwangi. Beras-beras tersebut masih tersimpan secara rapi di gudang-gudang Bulog bersama tumpukan beras lokal Banyuwangi lainnya.

Kebutuhan pangan di Banyuwangi untuk 3 tahun kedepan juga dipastikan aman. Bulog telah memiliki stok beras sejumlah 14 ribu ton beras lokal. Jika ditotal dengan sisa impor, berarti ada 17 ribu ton beras yang tersimpan di Banyuwangi.

Loading...

Untuk 3.000 ton beras Vietnam sisa impor tahun 2018, Bulog sendiri masih menunggu instruksi pusat. Jika sewaktu-waktu dibutuhkan, beras-beras tersebut akan dikeluarkan. Tentunya dengan diproses ulang terlebih dahulu.

Disisi lain, wacana impor beras tersebut juga mempengaruhi psikologis harga gabah saat ini. Menyoal hal tersebut, HKTI juga menilai jebloknya harga gabah saat ini dipengaruhi oleh keterbatasan mesin pengering gabah di tempat penggilingan.

“Musim hujan dan panen raya menjadi satu paket yang sebabkan harga jual gabah rendah. Selain itu, minimnya mesin pengering di tempat-tempat penggilingan juga memperkuat faktor tersebut,” kata Sonny.

Sonny menilai, ada dua hal yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi fenomena tersebut. Pertama dengan menerapkan strategi tunda jual. Namun, strategi tersebut membutuhkan campur tangan pemerintah untuk mengkampanyekan sistem Resi Gudang.

Dijelaskan Sonny, pada kondisi seperti ini akan sulit mengontrol harga jual gabah. Ini karena, petani harus segera menjual panen mereka untuk persiapan modal masa tanam berikutnya.

Baca Juga  Pemotor Tiba Tiba Terjatuh dan Meninggal Dunia

“Sistem tunda jual ini bisa dilakukan, jika petani bisa menggunakan gabah mereka sebagai agunan. Karena mereka pasti butuh modal ulang untuk masa tanam setelah panen,” kata Sonny.

Solusi selanjutnya, yakni memfasilitasi tempat-tempat penggilingan padi di seluruh Kecamatan dengan fasilitas mesin pengering yang dapat diangsur.

“Atau bisa pemerintah melalui Kementerian Koperasi memberikan fasilitas kemudahan kredit berupa mesin oven untuk tempat-tempat penggilingan. Karena harganya ini lumayan mahal, mulai Rp 150 juta keatas,” katanya.

Dengan kondisi ini, menurut Sonny banyak tempat-tempat penggilingan padi menolak untuk menampung gabah dari petani. Ini karena, sistem pengeringan masih menggunakan sinar matahari. Sehingga di musim hujan saat ini, membutuhkan waktu lebih lama untuk mengeringkan gabah setelah panen.

“Keluhan petani ke kami, banyak tempat penggilingan yang tidak bisa menerima gabah mereka. Karena lahan pengeringan terbatas. Sedangkan gabah terus membeludak,” kata Sonny.

“Jika gabah dipaksa ditampung terlalu lama, maka pengusaha penggilingan yang rugi. Karena beras yang dihasilkan kurang baik. Warnanya kuning dan harga jualnya murah. Akhirnya terpaksa menolak gabah-gabah dari petani,” imbuhnya.

Untuk Bulog sendiri, kata Sonny, juga memiliki standarisasi tersendiri. Jika gabah memiliki kadar air yang tinggi maka Bulog juga tidak bisa menampung.

Dijelaskan Ketua DPK HKTI Banyuwangi tersebut, harga gabah di Banyuwangi saat ini pada kisaran Rp 4.000 hingga Rp 4.200. Sedangkan harga stabil sendiri di angka Rp 4.600 hingga Rp 4.800. Sedangkan produktivitas di tahun 2021 ini diprediksi meningkat sekitar 26,88 persen. (*)

Reporter: Rochman

Loading...
Artikulli paraprakDonor Darah Boleh Dilakukan Setelah Vaksin, Ini Syaratnya
Artikulli tjetërKapolda Kawal Langsung Kepulangan Ribuan Kader HMI Dari Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya

Tinggalkan Balasan