George Handiwiyanto
Ketua Hiperhu Kota Surabaya, George Handiwiyanto.

SURABAYA (Kabarjawatimur.com)
Pengusaha rekreasi dan hiburan umum Kota Surabaya berharap ada transparansi dalam penarikan royalti pada aturan baru Peraturan Pemerintah (PP) No 56 tentang Pengelolaan Royalti Hak Cipta Lagu dan Musik oleh Dirjen Kekayaan Intelektual Kemenkumham RI, sebelum diberlakukan pada 31 Maret 2023 mendatang.

Ketua Himpunan Pengusaha Rekreasi Hiburan Umum (Hiperhu) Kota Surabaya George Handiwiyanto mengatakan, saat ini dalam PP yang baru cara penarikan dan pembayaran hak royalti dan hak terkait masih tradisional. Hal itu harusnya sudah berubah dengan memanfaatkan teknologi informasi.

“LMKN yang sudah sesuai dengan Undang – undang ini harus dilakukan secara transparan. Selain itu, harus ada alat yang dipasang di seluruh tempat hiburan yang termonitor di pusat. Misalnya, memeriksa kira-kira berapa lagu milik pencipta yang dinyanyikan agar lebih jelas,” tegas George, Jumat (25/9/2021).

Menurutnya, kuncinya harus ada alat sehingga ada kepastian bahwa lagu dinyanyikan dan berapa kali dengan dipotong royalti akan ketemu hitungannya.

“Kalau sekarang kan enggak, borongan. Itu kan masih tradisional, sedangkan kita kan era teknologi sudah ada,” papar George.

Baca Juga  Pengedar 'Brewok' Dibekuk, Ditemukan 19 Gram Lebih Kristal Putih

Ia mengimbau kepada pemerintah, bahwa dalam waktu satu tahun ke depan setidaknya sudah ada alat yang akurasi, transparasi, dan akuntabelnya terbukti dan pasti. Sehingga harapan untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan para seniman dapat terwujud.

“Jadi harus benarr – benar tujuan seniman, Presiden, dan Negara itu untuk kesejahteraan di bidang ekonomi bisa betul-betul terwujud,” urainya.

Loading...

Sorotan itu bermula dari poin penarikan hak royalti dan hak terkait dimana aturannya ada yang dihitung berdasarkan per meter kubik. Sebab, jika hal ini terjadi sudah pasti akan memberatkan bagi pelaku usaha. Untuk itu, sebelum diberlakukan pada 31 Maret 2023, perlu dikaji ulang.

“Karena memang di luar negeri, hitungannya perlagu,misalnya ada musisi tampil di stadion terbuka atau tertutup, nyanyikan ini (salah satu lagu,red) mereka akan dikenakan biayanya , tapi disini hitungannya permeja, saya rasa ini kurang pas,” tandas George yang juga lawyer ini.

Pihaknya, tidak mempersoalkan penarikan royalti dan hak terkait, lantaran hal itu memang sudah seharusnya dibayarkan kepada pencita lagu dan pihak-pihak terkait lainnya. Namun untuk penghitungan di PP No 56 yang sudah disahkan tahun ini menurutnya perlu ada pengkajian ulang.

Baca Juga  Haus Inspirasi dan Kreatifitas, CBS Jalasenastri AAL Ikuti Pelatihan Keterampilan Sospeso Transparente

“Karena di setiap lagu memang ada hak eklusif, itulah yang mendapatkan royalti. Pemerintah kalau penarikan royalti diswastakan harus ada alat untuk memonitornya,sehingga bisa setiap saat pemilik lagu atau pencipta dan pihak terkait lainnya bisa memonitor,” pungkasnya.

Sebelumnya Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Direktorat Hak Cipta dan Desain Industri bekerja sama dengan Kemenkumham Jatim melaksanakan kegiatan konsultasi teknis pelaksanaan Peraturan Pemerintah No 56 tentang Pengelolaan Royalti di Hotel Vasa Surabaya, Kamis (23/9).

Kegiatan konsultasi teknis pelaksanaan PP No 56 tetang pengelolaan royalti ini menghadirkan pembicara dari Dosen Fakultas Hukum Universitas Padjajaran Tasya Safiranita, SH,MH, Direktur Penyidikan dan Penyelesaian Sengketa Anom Wibowo, dan Ketua Lembaga Manajemen Kolektif Nasional Yurod Saleh. (*)

Reporter : Gita Tamarin
Editor: Rizky Rahim

Loading...
Berita sebelumyaIni Pesan Gubernur AAL pada Taruna AAL yang Tengah Laksanakan Bakkual
Berita berikutnyaRatusan Prajurit TNI Datangi UDD PMI Karena Ini

Tinggalkan Balasan