Gapero: Awal 2017 PMK 147 Tangkal Produktivitas Rokok ilegal

46
Ketua Gapero Surabaya, Hj Sulami Bahar saat jelaskan penerbitan PMK 147 yang diberlakukan awal tahun 2017

SURABAYA (kabarjawatimur.com) – Soal Peraturan Menteri Keuangan (PMK) atas kenaikan tarif cukai hasil tembakau Rp 10, per batang yang diberlakukan pemerintah mulai 01 Januari 2017.Gabungan Perusahaan Rokok (Gapero) perwakilan Surabaya menilai sudah sesuai dan berlandas keadilan, sekaligus upaya tangkal produktivitas serta cegah peredaran rokok ilegal.

“Ya, aturan baru yang dimaksud ialah Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 147/PMK.010/2016 tentang Perubahan Ketiga Atas Peraturan Menteri Keuangan No. 179/PMK.011/2012 tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau, yang efektif berlaku mulai 1 Januari 2017. Regulasi ini juga bagian dari target jangka menengah berlaku tiga tahun sekali.” ungkap Ketua Gapero Surabaya, Sulami Bahar, di Surabaya, Rabu (19/10/2016).

Disebutkan juga untuk batasan produksi masing-masing SKT (Sigaret Kretek Tangan) dan SKM (Sigaret Kretek mesin) terklasifikasi menurut golongan sebagai berikut;

Baca Juga  Merasa Terjebak, Ketua MUI Balongpanggang Turut Hadiri Pernikahan Manusia dengan Domba
Tabel sumber Gapero Surabaya terkait rencana penerbitan (PMK) No. 147/PMK.010/2016 tentang Perubahan Ketiga Atas Peraturan Menteri Keuangan No. 179/PMK.011/2012 tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau.
Tabel sumber Gapero Surabaya terkait rencana penerbitan (PMK) No. 147/PMK.010/2016 tentang Perubahan Ketiga Atas Peraturan Menteri Keuangan No. 179/PMK.011/2012 tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau.

SKT golongan kecil, produksinya mulai 50 juta batang menjadi 350 juta batang. Lalu SKT golongan 3A, produksinya 350 juta batang menjadi 500 juta batang. Sebelumnya produksi golongan 3A hanya 10 juta sampai 500 juta batang.

Loading...

Perubahan PMK ini, menurut Sulami sekaligus memberikan kesempatan bagi industri rokok kecil bisa masuk mengisi ceruk yang kosong. Akibat dari penerapan PMK ini, justru bisa mendorong kenaikan industri legal bisa lebih ditingkatkan dan tepis adanya peredaran rokok ilegal.

“Saat ini jumlah pabrik SKM maupun SKT yang masih bertahan sekitar 400 pabrik di Jatim. Dan imbas dari PMK ini diharapkan bisa memperluas produksi industri rokok terjadi kenaikan 30%,” paparnya.

Baca Juga  Pemotor di Surabaya Tewas Terlibat Laka Kontra Sedan

Sedangkan untuk golongan 3B, sambungnya dapat jatah 50 juta batang dari 10 juta batang. Sebab SKT pada golongan 3B pasarnya kecil, berkisar 5%. Kendati kinerja industri pabrik rokok kretek tahun ini sempat turun 7% di Jatim. Rokok kretek harus tetap dikenal karna sudah jadi budaya bangsa.

Faktor yang mempengaruhi disebabkan banyak hal diantaranya perubahan regulasi, kemampuan daya beli, cuaca dan beralih ke rokok mild. Untuk itu, Gapero juga telah diskusi usulan agar ada perda tersendiri yang mengatur soal regulasi pertembakauan di Jawa timur. Misalnya, terkait kemitraan, tata niaga dan rantai distribusi serta perlindungan petani ketika gagal panen.

Penulis : Jefri Yulianto
Editor : Budi
Publisher: Gunawan

Loading...
Artikulli paraprakMandor Pabrik Tewas Tergencet Mesin
Artikulli tjetërKenalan Lewat FB, Lalu Embat Motor Korban

Tinggalkan Balasan