Ending Lagu ‘Corona’, Label Siap Cabut Re-Upload di Medsos

52
Artis Alvi Ananta bersama perwakilan Keluarga Migran Indonesia (KAMI) simbolis berjabat tangan (Foto:Dok.Kabarjawatimur.com)

BANYUWANGI, (Kabarjawatimur.com) – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Banyuwangi, akhirnya memfasilitasi dan meluruskan terkait polemik lagu ‘Corona’ (Comunitas Rondo Merana) yang dinyanyikan oleh artis berparas cantik, Alvi Ananta.

Dalam mediasi tersebut, Presedium Keluarga Migran Indonesia (KAMI) Jawa Timur, Krisna Adi mewakili Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang berada diluar negeri menuntut pihak Management Alvi Ananta dan label Samudra Record untuk meminta maaf secara terbuka, serta menghapus konten video ‘Corona’ dari YouTube beserta video Re-Uploadnya di media sosial.

“Alhamdulillah tadi sudah clear dan tuntutan kami kepada mereka (Management Samudra Record, red) disanggupi,” tegas Krisna Adi usai audiensi di Kantor Dispar Banyuwangi, pada Kamis (5/3/2020).

Krisna Adi berharap kepada teman-teman Pekerja Migran Indonesia di luar negeri untuk tidak mempermasalahkan lagi. Dan, lanjut Krisna Adi, masalah ini cukup sampai disini, seperti yang diinginkan yakni Banyuwangi damai.

Baca Juga  KAI Lakukan Sosialisasi Keselamatan di Perlintasan Sebidang Serentak di wilayah Daop 9
Dinas Pariwisata dan Budaya menggelar mediasi. (foto:Dok.Kabarjawatimur.com)

Sementara itu, Management Samudra Record, Angga Samudra menyampaikan permohonan maaf kepada semua pihak yang merasa kecewa dan tersinggung dengan polemik video ‘Corona’. Menurutnya, lagu ini bertujuan agar masyarakat tidak terlalu tegang atas merambahnya virus corona saat ini.

Loading...

“Kami merilis tidak ada niatan melecehkan ataupun menyudutkan pihak-pihak tertentu, hanya semata mata untuk membuat hiburan, mungkin dengan judul ‘corona’,” jelas Angga.

“Tadi mediasi berjalan dengan lancar. Intinya berakhir damai dan sama-sama bisa memaklumi. Dan ini menjadikan pelajaran buat kita kedepannya,” tambahnya.

Kepala Disbudpar Banyuwangi, MY Bramuda menjelaskan, atas permasalahan ini, Disbudpar berencana akan membuat sebuah lembaga yakni ‘Klinik Musik’.

Disbudpar, kata Baramuda, nantinya akan bekerja sama dengan Dewan Kesenian Blambangan (DKB) untuk mensosialisasikannya.

Baca Juga  Blusukan ke Cluring, Ipuk Sampaikan Program Tabungan Pelajar dan Peningkatan Insentif GTT

“Klinik musik atau lagu tersebut bukan lembaga sensor. Tetapi seniman yang berkreasi dibidang seni dan musik ini sebelum di publish nantinya akan dikonsultasikan dahulu,” ujarnya.

Hal itu, menurut Bramuda, teknisnya sebelum karya dari pencipta itu di publish, maka syair-syair hasil karya seniman itu harus masuk ke ‘Klinik Musik’ dengan cara dipahami syairnya. Tujuannya agar tidak menimbulkan dampak kepada pihak lain yang dirugikan.

“Ini juga membawa legalitas dan direkomendasi oleh banyak pihak. Termasuk dikuratori oleh DKB,” pungkasnya.

Sekedar diketahui, lagu tersebut pertama kali di-posting pada 27 Februari 2020. Namun sekitar kurang dari 48 jam berselang, video lagu tersebut kemudian dihapus. Bahkan, dalam waktu dekat label akan merilis lagu baru untuk mengobati kekecewaan para pihak yang merasa dirugikan. (*)

Reporter: Rochman

Loading...

Tinggalkan Balasan