Emak-emak saat mendatangi Mapolresta Banyuwangi. (FOTO:istimewa)

BANYUWANGI, (Kabarjawatimur.com) – Puluhan emak-emak di Banyuwangi, Jawa Timur mendatangi Mapolresta Banyuwangi. Ya, mereka mengaku menjadi korban arisan index yang diduga bodong.

Emak-emak yang kebanyakan adalah ibu rumah tangga itu melaporkan pengelola arisan berinisial NI (30) warga Desa Tamansuruh, Kecamatan Glagah dengan harapan tunggakan hutang arisan yang sudah jatuh tempo senilai sekitar Rp. 700 juta bisa segera terbayarkan.

“Kita ini kesini karena ingin melaporkan arisan bodong, indek investasi taharah (Tabungan Haji dan Umrah) dan jual beli juga yang belum terbayarkan oleh NI. Kalau ditotal kerugianya sekitar 700 juta,” kata Karmila peserta arisan, pada Jum’at (17/9/2021) malam.

Sebelum mendatangi Mapolresta, puluhan ibu-ibu tersebut menduduki rumah NI, Jumat (17/9/2021) sore. Kedatangannya untuk menagih janji pembayaran arisan yang sudah jatuh tempo.

“Jumlah peserta sekitar 70 sampai 100 orang. Kerugiannya bereda-beda, mulai dari 1 hingga Rp. 70 juta per orang,” imbuhnya.

Namun, upayanya sia-sia, tunggakan pembayaran pokok dan bunga arisan yang totalnya sekitar Rp. 700 juta tersebut tak kunjung dibayar oleh NI.

Namun, mereka hanya diberi janji, dan akhirnya memilih mendatangi Mapolresta Banyuwangi untuk melakukan pengaduan dan pelaporan, sekaligus membawa NI ke kantor polisi.

Baca Juga  Imigrasi Surabaya Komitmen Bangun Iklim Investasi Asing Kondusif

“Karena sudah melebihi jangka waktu yang sudah ditentukan. Kita juga sudah pernah ke rumahnya buat perjanjian selama enam bulan. Sekarang sudah lebih enam bulan tidak terselesaikan juga. Jadi kita kesini ingin melaporkan NI ke Pak polisi. Biar Pak polisi yang menyelesaikan,” tambah Karmila.

Jalur hukum sengaja ditempuh oleh emak-emak lantaran pengelola arisan diduga bodong yang sempat menghilang ke Jakarta tersebut dianggap tak memiliki itikad baik.

Loading...

Arisan yang dijalankan NI memang menggiurkan, dengan deposito Rp. 1 juta saja, para peserta dijanjikan mendapatkan keuntungan 100 hingga 200 ribu rupiah dalam kurun waktu 10 hari.

Namun, beberapa bulan terakhir, pencairan arisan macet. Bahkan uang setoran pokok arisan pun raib.

“Harapannya uang itu cair, apalagi sekarang PPKM seperti ini. Pokoknya gimana caranya uang itu harus cair,” jelas Triani Sulistyowati, peserta arisan lainnya.

Menurut pengakuan sejumlah member arisan yang jumlahnya lebih dari 100 orang tersebut tak hanya dari Banyuwangi saja melainkan juga dari luar kota dan luar Pulau. Seperti dari Yogyakarta, Sidoarjo, Jakarta, Pulau Madura hingga Bali.

Baca Juga  Pelepasan Komandan Puslatpurmar TNI AL 7 Lampon Diiringi Tari Gandrung Banyuwangi

Saat ini pelaporan dugaan arisan bodong tersebut masih ditangani oleh tim Satreskrim Polresta Banyuwangi. Sejumlah pelapor juga masih menjalani pemeriksaan. Penyidik juga akan memeriksa pengelola arisan diduga bodong sebagai terlapor.

“Sementara kita masih menerima laporannya dan akan kita selidiki terkait dengan laporan ini,” jelas Kasat Reskrim Polresta Banyuwangi, AKP Mustijat Priyambodo.

Kasat Reskrim berharap, munculnya kembali kasus arisan diduga bodong di Banyuwangi ini bisa menjadi pembelajaran bagi masyarakat, agar tak mudah tergiur dengan iming-iming keuntungan besar dengan cara instan.

Terlebih, setoran uang arisan tidak dibarengi dengan pembuktian hitam di atas putih.

“Imbuan kepada masyarakat di masa pandemi di Polresta Banyuwangi ini sudah terjadi ke dua kali terkait dengan penawaran investasi. Masyarakat agar jangan mudah tergur penawaran ataupun dengan modus bunga yang tinggi dan menggiurkan. Jadi masyarakat harus tetap waspada,” pungkas AKP Mustijat Priyambodo. (*)

Reporter: Rochman

Loading...
Berita sebelumyaMaling di Jembatan Suroboyo Ditangkap, 1 Lainnya Kabur
Berita berikutnyaPria ini Diamankan Tim Opsnal Reskrim, ini Kesalahannya

Tinggalkan Balasan