BANGKALAN, (Kabarjawatimur.com) – Komisi D DPRD Kabupaten Bangkalan memanggil Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat, pada Selasa (19/1) pagi.

Pemanggilan terhadap Dinkes, terkait laporan warga yang menduga ada mal praktik di salah satu rumah sakit (RS) swasta yang menyebabkan bayi laki-laki meninggal dunia.

Anggota Komisi D DPRD Bangkalan H. Subaidi, mengatakan, ada salah satu warga Desa Perreng Kecamatan Burneh yang mengadu bahwa, anaknya meninggal dunia beberapa hari setelah lahir sesar di Rumah Sakit (RS) Swasta.

Politisi Partai Hanura itu menyangkan penanganan yang buruk dari pihak RSIA dr. Syafi’ie. Sehingga, pihaknya memanggil pihak RS swasta dan Dinas Kesehatan untuk memberikan klarifikasi.

“Kalau sudah seperti ini siapa yang bertanggungjawab,” cetusnya usai pemanggilan.

Subaidi meminta Dinas Kesehatan untuk menutup aktivitas pelayanan persalinan dirumah sakit swasta tersebut. Sebab, pihaknya khawatir terulang kembali kejadian dugaan mal praktik itu.

“Tutup saja RS itu, jangan sampai ada korban lagi, harus ada pembinaan dulu dari Dinkes,” ujarnya.

Sementara, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bangkalan Sudiyo saat dipanggil Komisi D DPRD Bangkalan menyampaikan bahwa, pihaknya masih mengkaji perihal dugaan mal praktik di RSIA dr. Syafi’ie tersebut.

Baca Juga  Mobil Ringsek Tertimpa Pohon di Bangkalan

“Kami masih melakukan pengkajian dan analisa, kalau yang disampaikan dokter yang menagani masih rasional terkait dengan ke ilmuannya,” kata Yoyok sapaannya.

Yoyok menyampaikan, pihaknya juga akan melakukan perbandingan dengan beberapa penanganan lainnya, untuk mendapatkan titik terang terkait kasus tersebut.

“Kita juga akan telaah dulu, minggu depan kita dipanggil lagi untuk menghasilkan kesimpulan akhir,” tandasnya.

Diketahui, bayi laki-laki yang dilahirkan prematur oleh Siti Khadijah (35) di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) dr.Syafi’ie meninggal dunia.

Loading...

Bayi tersebut menghembuskan nafas terakhir setelah menjalani perawatan intensif di RSUD Syamrabu Bangkalan, pada Minggu 27 Desember 2020 lalu sekira pukul 18.30 WIB.

Informasi meninggalnya bayi lahir prematur itu disampaikan adik ipar pasien Moh. Rohim melalui keterangan tertulis.

Bayi lahir secara prematur itu dengan berat 1,8 kilogram, di RSIA dr. Syafi’ie jalan Letnan Singosastro Bangkalan pada Sabtu 26 Desember 2020. Praktis bayi laki-laki itu hanya menjalani perawatan medis selama satu hari.

Rohim sapaan akrabnya, mengungkapkan, pada tanggal 26 Desember 2020 Siti Khadijah hendak memeriksakan kondisi kandungannya kepada bidan desa.

Karena belum ada tanda-tanda melahirkan pasien menggunakan sepeda motor menuju tempat bidan desa bernama ibu Eko tersebut.

Baca Juga  Program CSR PHE-WMO Diklaim Bantu Kesejahteraan Masyarakat Bangkalan

Sesampai di bidan desa, pasien langsung disarankan untuk dibawa ke RSIA dr. Syafi’ie. Sampai di klinik itu Siti Khadijah langsung masuk ke ruang operasi tanpa melakukan USG kandungan.

“Pasien dirapid tes dulu, lalu dibawa ke ruang operasi sekira pukul 10.30 WIB,” cerita Rohim.

Berselang setengah jam, bayi sudah keluar dengan lahir prematur dengan berat 1,8 Kg. Berdasarkan hasil USG pada 16 Desember 2020 di RSIA dr. Syafi’ie diklaim bahwa berat badan bayi itu 2,8 Kg dan sudah waktunya lahir.

dr. Moh. Taufiq Syafiie yang menangani pasien, bahkan menyatakan bahwa bayi itu sudah aterm dan sudah siap dikeluarkan.

“Pada tanggal 16 Desember di USG hasilnya katanya sudah waktunya lahir, dan pada 26 Desember diambil tindakan operasi tanpa USG lagi,” kata Rohim.

Setelah lahir, kondisi bayi memang tidak normal, karena sempat anfal dan tidak bernafas cukup lama. Lalu bayi terlihat bernafas kembali.

“Lalu disarankan dokter untuk dirujuk ke RSUD, tapi tidak tertolong, bayi meninggal setelah dirawat beberapa jam,” pungkasnya.

Reporter: Rusdi

Loading...
Berita sebelumyaMaling Sepeda Angin Dibekuk Polisi Usai Beraksi
Berita berikutnyaKeren! Mahasiswi asal Sampang Juara 1 Tartilul Qur’an Tingkat Internasional

Tinggalkan Balasan