SURABAYA (Kabarjawatimur.com)
Rencana penggantian nama Jalan Bung Tomo, lalu dipindahkan menjadi nama jalan dikawasan Pakal, tidak saja ditolak oleh warga Surabaya. Kalangan DPRD Surabaya, juga menolak rencana yang akan dilakukan Pemkot Surabaya itu.

Ketua DPRD Kota Surabaya Ir
Armuji MH dengan tegas menolak rencana penggantian tersebut. Mirisnya, pemindahan nama pahlawan itu, untuk nama jalan di kawasan tempat pembuangan akhir (TPA).

Menurut Armuji, hal itu sangat tidak etis, dan dinilai tidak menghargai jasa pahlawan yang sudah banyak berjuang untuk Kota Surabaya.

Bung Tomo
Ketua DPRD Surabaya Ir Armuji bersama para pegiat sejarah berziarah ke Makam Bung Tomo di daerah Ngagel.

“Itu sama saja tidak menghargai jasa pahlawan. Kita tahu sendiri di Pakal, itu daerah tambak-tambak. Di situ, juga ada tempat pembuangan sampah. Masa nama seorang pahlawan diletakkan di daerah pinggiran dekat dengan lokasi pembuangan sampah,” ujar Armuji berapi-api, Senin (15/7), usai sidak di lokasi jalan dan makam  Bung Tomo di kawasan Kelurahan Ngagel, Kecamatan Wonokromo.

Politisi PDI Perjuangan ini mengatakan, Pemkot Surabaya seringkali membuat hal-hal yang mengagetkan masyarakat. Bahkan menurutnya juga kerap
tidak melihat aspek historis yang ada.

“Semua orang sudah tahu kalau sepanjang jalan di daerah Ngagel itu bernama Jalan Bung Tomo. Apalagi di kawasan itu ada Makam Bung Tomo juga,” sambung mantan Ketua Fraksi PDIP DPRD Kota Surabaya ini.

Armuji mengatakan, kalau memang ingin membuat nama jalan di daerah Gelora Bung Tomo Pakal, seharusnya tidak mengganti yang ada. Menurut dia bisa menggunakan alternatif nama lain.

Baca Juga  Unit Resmob Tuban Ringkus Empat Pelaku Penggeroyokan

“Misalnya jalan Gelora Bung Tomo atau nama tokoh yang terkenal di kawasan itu, kan bisa saja. Tidak harus memindahkan nama jalan yang sudah paten,” jlentreh Ketua Asosiasi Dewan Kota Se-Indonesia ini.

Ia berharap agar Pemkot Surabaya tidak mencederai masyarakat untuk yang kesekian kalinya dengan mengganti nama jalan. Ia meminta pemkot melihat keberadaan yang lebih dulu antara makam Bung Tomo dengan Gelora Bung Tomo di Pakal.

Loading...

“Contohnya Jalan Gunungsari menjadi Prabu Siliwangi dan Dinoyo menjadi Sunda. ini Surabaya, bukan kota lain. Jadi tidak bisa seenaknya mengganti nama jalan yang tidak sisi historinya,” tegas Armuji.

Sementara itu, masyarakat yang tergabung dalam kelompok Pecinta Sejarah dan Perkembangan Kota Surabaya, Senin (15/7), mendatangi gedung DPRD Kota Surabaya.

Mereka bermaksud menyampaikan
penolakan terhadap rencana Pemkot
intah Kota Surabaya untuk mengganti
nama jalan Bung Tomo.

“Kami menolak rencana Pemkot Surabaya yang ingin melukir nama
Jalan Bung Tomo di daerah Pakal atau
di depan Gelora Bung Tomo,” ujar Kuncarsono Prasetyo, Koordinator
Pecinta Sejarah dan Perkembangan Kota Surabaya.

Kuncar mengaku penolakan ini di-
dasari oleh latar belakang sejarah pene-
tapan jalan itu. Menurut dia, meskipun saat itu Bung Tomo belum ditetapkan sebagai pahlawan nasional oleh pemerintah pusat, namun dianggap sebagai pahlawan bagi warga Surabaya.

Baca Juga  Curi Motor Bawa Mobil, Pelakunya Ternyata Residivis

“Saat ini anak-anak muda Surabaya mendesak Pemkot Surabaya mengganti nama Jalan Kencana (sebelumnya, red) menjadi Jalan Bung Tomo pada 2002.
Kemudian pada 2008 beliau ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Sejak saat
itu nama Jalan Bung Tomo diadopsi pada banyak kota,” ujar dia.

Terpisah, Dedi Endarto, seorang budayawan yang juga kerabat keluarga Bung Tomo mengatakan, empat hari yang lalu ia sudah mengabarkan hal ini kepada pihak keluarga di Jakarta.

“Mereka sangat terkejut lantaran ada perasaan traumatik peristiwa runtuhnya radio Bung Tomo di Jalan Mawar. Saat itu kami merahasiakan kejadian tersebut kepada Almarhum Sulistina Sutomo.

Karena ada desakan dari masyarakat akhirnya Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini meminta maaf dan berjanji mengakuisisi akan membangun ulang radio tersebut, tapi sampai hari ini belum ada realisasi,” papar dia.

“Pihak keluarga sudah menggelar rapat dan menyuruh saya untuk menghadap Pak Armuji. Pihak keluarga minta agar Pemkot Surabaya bisa menjaga Makam Bung Tomo,” imbuh dia.

Usai menerima pengaduan, Ketua
DPRD Surabaya Armuji bersama sekelompok masyarakat tersebut menggelar sidak (inspeksi mendadak) ke Jalan Bung Tomo dan ke Makam Bung Tomo.

Teks foto: Armuji bersama komunitas pegiat sejarah dan perkembangan Kota Surabaya menunjuk plang papan nama Jalan Bung Tomo yang sudah dikenal di kawasan Kelurahan Ngagel, Wonokromo.

Reporter : Boy
Editor : Rizky Rahim

Loading...
Berita sebelumyaGempa Bali Mengejutkan Warga Jember
Berita berikutnyaKabakorwil III Jatim Terima Pataka Destana Tsunami

Tinggalkan Balasan