DPRD Segera Bahas Sinkronisasi Data Stunting Kabupaten Bojonegoro

92

Bojonegoro, (kabarjawatimur.com) – Sebagai bagian dari ikhtiar bersama untuk melakukan konfirmasi, sinkronisasi, dan sinergitas aksi percepatan penanggulangan stunting di Kabupaten Bojonegoro, dengan pelibatan peran Stakeholder dan Shareholder. Data prevalensi stunting perlu sinkronisasi secara serius. Karena tanpa data valid, program kerja bisa jadi kurang tepat sasaran.

Sekretaris Komisi C DPRD Bojonegoro Ahmad Supriyanto mengungkapkan, bahwa data prevalensi stunting memang kurang sinkron. Pihaknya fokus merampungkan raperda laporan pertanggungjawaban (LPj) Bupati 2021.

“Setelah raperda LPj Bupati rampung, sesegera mungkin kami akan mengajak seluruh OPD terkait seperti dinkes, DP3AKB, bappeda, dan lainnya untuk
membahas sinkronisasi data prevalensi stunting,” ungkapnya.

Menurutnya, seluruh OPD terkait perlu duduk satu meja agar data prevalensi stunting benar-benar valid dan bisa dipertanggungjawabkan.

Baca Juga  RAP Pembangunan Jembatan, Berikut Penjelasan Dana Dusun Jubellor

“Semuanya harus duduk satu meja agar sinkron dan valid,” ucapnya.

Loading...

Dia menjelaskan, pihaknya belum mendapat data prevalensi stunting 2022. Data sebelumnya prevalensi stunting pada 2021 ada 4.227 kasus atau 5,71 persen dan pada 2020 ada 5.192 kasus atau 6, 87 persen.

“Upaya percepatan penurunan Stunting saat ini domain-nya dinas pemberdayaan perempuan perlindungan anak dan keluarga berencana (DP3AKB).” jelasnya

Dosen Universitas Alma Ata Yogyakarta , Arif Sabta Aji (salah satu ahli gizi) mengatakan, bahwa data prevalensi stunting sebaiknya mengacu pada hasil SSGI (Studi Status Gizi Indonesia). Karena SSGI bisa dibilang pihak ketiga minim tendensi kepentingan.

“Secara nasional dibentuk tim percepatan penurunan stunting (TPPS) juga diatur Perpres Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting. Sebelumnya, leading sector penurunan stunting yaitu Bappenas, sedangkan sekarang, Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).” bebernya.” terangnya.

Baca Juga  Kardus Vapor Bawa Sopir ini ke Penjara

“Penyebab utama stunting ialah pola asuh. Tidak Semua orang dengan kondisi sosial ekonomi kurang mampu berdampak anak kena stunting,” tambahnya.(*)

Reporter: Aziz.

Loading...
Artikulli paraprakTom liwafa Hadiri HUT Bhayangkara 76 di Polrestabes Surabaya
Artikulli tjetërJanjian dengan Wanita Idaman Dapat Bogem Mentah Tiga Pemuda

Tinggalkan Balasan