Diduga Bolos, Puluhan Guru di Banyuwangi Beri Dukungan Terdakwa Cukur Murid Petal-petal

67
Puluhan Guru ketika di PN Banyuwangi, pada Selasa (5/11/2019).

BANYUWANGI, (Kabarjawatimur.com) – Sebagai bentuk soliditas dan solidaritas, puluhan guru dari berbagai sekolah di Banyuwangi diduga sengaja meninggalkan jam kelas untuk menghadiri persidangan lanjutan terdakwa kasus cukur petal-petal yang terjadi beberapa waktu lalu.

Para pendidik berjuluk pahlawan tanpa tanda jasa itu, secara berbondong-bondong mendatangi Pengadilan Negeri setempat, untuk memberikan dukungan kepada guru pelaku cukur rambut masal tersebut, pada Selasa (5/11/2019).

Namun, tindakan tersebut justru identik dengan tindakan tidak etik sebagai tenaga kerja profesional. Pasalnya, sebagai seorang pegawai negeri pada umumnya seharusnya memberikan kewajiban pemenuhan kebutuhan pendidikan kepada peserta didik.

Menanggapi aksi solidaritas yang menjurus kepada tindakan bolos kerja tersebut, Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi mengaku sehari sebelumnya telah menerima surat permohonan dispensasi dari Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Banyuwangi.

“Kita memang menerima surat dispensasi dari PGRI untuk bisa memberikan dukungan atas lanjutan sidang kasus yang menimpa salah satu guru di Blimbingsari,” kata Suratno, Sekretaris Dispendik Banyuwangi.

Baca Juga  Kandang Ayam di Tuban Terbakar, Pengusaha Merugi Milyaran Rupiah

Namun, pihak Dispendik sendiri mengaku belum memberikan rekomendasi atau surat balasan terhadap permohonan tersebut. Sangat disayangkan, meski tanpa mengantongi izin terlebih dahulu, puluhan guru tersebut tetap mendatangi persidangan dengan agenda pemeriksaan saksi-saksi di Pengadilan Negeri setempat.

Loading...

Adapun beberapa syarat yang hendaknya dipenuhi sebelum mendapatkan rekomendasi, dijelaskan Suratno antara lain, pertama tidak boleh mengganggu jam kerja. Kedua, tidak menggangu ketertiban umum. Terakhir, tetap menjaga kode etik sebagai tenaga pendidik.

“Kemarin itu saya nggak tanda tangan rekomendasi. Suratnya hanya masuk saja,” katanya.

Sebagai informasi dalam surat PGRI Banyuwangi bernomor 127/PK-PGRI/ORG/XI/2019 tanggal 4 November 2019, yang tertanda tangani oleh Ketua dan Sekretaris PGRI itu, berbunyi permohonan izin kepada Dispendik. Tertulis, memohonkan guru-guru di Kecamatan Blimbingsari untuk memberikan dukungan dalam sidang putusan guru atas nama Arya Abri Sanjaya di Pengadilan Negeri.

Baca Juga  Bertengkar, Suami Siri Tega Bunuh Istri lalu Rampas HP dan ATM Korban

“Surat izin, ya harus ada balasan to. Secara normatif, meskipun ada rekomendasi, secara ketentuan harus tetap diberlakukan,” jelasnya.

Adapun sanksi yang akan diberikan atau teguran terhadap guru yang mengikuti aksi ini, pihaknya terlebih dahulu bakal melakukan proses pendataan untuk keseluruhan peserta yang hadir.

“Lebih lanjut kami akan tanya siapa koordinatornya. Dibawah kendali Korwil Kepala SMP atau Kepala Sekolah, pasti kita akan memberikan pembinaan,” jelas Suratno.

Seperti diberitakan sebelumnya, aksi potong rambut petal-petal yang menimpa puluhan SDN 2 Patoman, Kecamatan Blimbingsari, Banyuwangi. Yakni saat pelaksanaan pelajaran ekstra kurikuler bela diri PSHT.

Sementara itu, Ketua PGRI Banyuwangi, Drs. H. Teguh Sumarno, MM, masih enggan dikonfirmasi. Pertanyaan wartawan melalui pesan Whatsapp hanya dibaca, tapi tidak dibalas. (*)

Reporter: Rochman

Loading...
Artikulli paraprakKeluarga Laka Lantas, Menunggu Kedatangan Jenazah Anggota Polres Jember
Artikulli tjetërSatu Pelaku Perampok Truks di Tol Romokalisari, Dibekuk

Tinggalkan Balasan