Demi Keselamatan, Ritual Adat Desa Aliyan Tetap Digelar Sederhana dan Prokes Lengkap

60
Kades Anton, Tiga Pilar, dan sesepuh adat Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi saat musyawarah.

BANYUWANGI, (Kabarjawatimur.com) – Anton Sujarwo, SE, Kepala Desa (Kades) Aliyan, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi bersama sesepuh adat membahas tentang selamatan desa.

Berdasar hasil musyawarah dan berbagai pertimbangan bersama sesepuh adat, tokoh masyarakat dan tiga pilar Desa Aliyan, ritual selamatan desa akhirnya tetap digelar. Ini dilakukan demi keselamatan bersama.

“Insyallah acara ritual adat selamatan desa tetap dilaksanakan. Tetapi secara sederhana dengan memperhatikan protokol kesehatan yang ketat,” kata Kepala Desa Aliyan, Anton Sujarwo kepada wartawan usai pertemuan bersama para sesepuh adat, Sabtu (14/8/2021).

Selamatan ini dilaksanakan lantaran setelah banyak warga Desa Aliyan yang mengalami kesurupan masal. Menurut Anton, jika ritual adat selamatan bersih desa di bulan Suro ini tetap harus dilaksanakan. Acara dilakukan pada Minggu (15/8/2021) mendatang.

Baca Juga:Warga Desa Aliyan Mendadak Kerasukan, Roh Leluhur: Minta Adat Tradisi Tetap Digelar

“Sebenarnya kami juga agak repot. Sekarang kondisi masih masa pandemi. Namun disisi lain ini merupakan adat istiadat dan tradisi desa kami. Dan kalau tidak dilaksanakan, kami khawatir lebih banyak lagi warga desa kami yang kesurupan,” ucap Anton.

Baca Juga  Danrem 082/CPYJ: Seorang Danramil Harus Kreatif dan Inovatif

Dan di Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi tradisi adat Keboan munculnya ada di dua tempat. Yaitu di Dusun Sukodono dan Dusun Cempokosari. Keduanya muncul bersamaan saat bulan Suro.

Sebelumnya warga Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi, gempar. Sejumlah warga mendadak kesurupan. Mereka menagih pelaksanaan tradisi Keboan, sebuah acara bersih desa turun temurun warisan leluhur Blambangan.

Loading...

Peristiwa ini terjadi pada Jumat pagi tadi (13/8/2021). Warga yang bertingkah aneh ini diyakini dirasuki roh leluhur, Buyut Wongso Kenongo.

“Pak lurah, slametan di mbah buyut tak enteni gak onok. Ayo pak lurah ndang dilaksanakno,(Pak Lurah, selamatan di Mbah Buyut, saya tunggu tidak ada. Ayo Pak Lurah, segera dilaksanakan)” ucap salah satu warga yang kesurupan.

Fenomena kesurupan massal diawal bulan Suro selalu terjadi setiap tahun. Dengan merasuk ke tubuh warga, para nenek moyang masyarakat suku Osing setempat menagih pelaksanaan tradisi Keboan.

“Leluhur kami, mbah Buyut Wongso Kenongo meminta tradisi Keboan tetap dilaksanakan walau dimasa pandemi. Bahkan, beliau meminta tahun ini dirayakan secara besar-besaran,” katanya

Baca Juga  Maksimalkan Kinerja, Pemdes Sranak Bojonegoro Lantik 2 Perades

Disebutkan, warga kesurupan hari ini bernama Saliin warga Dusun Cempokosari dan Tanoso Dusun Krajan. Pagi hari, tiba-tiba keduanya bertingkah tak biasa. Berperilaku seperti binatang kerbau pada umumnya.

Sambil didampingi sanak keluarga, awalnya mereka berlari ke rumah Jumhar, di Dusun Temurejo. Yang merupakan salah satu sesepuh sekaligus pawang Keboan. Selanjutnya warga kesurupan mendatangi kediaman Kades Anton Sujarwo. Menagih pelaksanaan selamatan bersih desa atau tradisi Keboan, demi keselamatan seluruh masyarakat.

Tradisi Keboan adalah selamatan bersih desa yang kental nuansa mistis. Dilaksanakan setiap bulan Suro oleh masyarakat suku Osing di Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi. Pada pelaksanaan, puluhan masyarakat setempat mendadak kesurupan massal.

Tradisi Keboan konon dilaksanakan sejak era kerajaan Blambangan warisan Buyut Wongso Kenongo, yang lokasi makam berada di Dusun Cempokosari, Desa Aliyan.

Ritual ini dilaksanakan sebagai bentuk ungkapan syukur atas rejeki hasil pertanian melimpah disepanjang tahun. Selain itu juga sebagai ritual tolak balak. (*)

Reporter: Rochman

Loading...
Berita sebelumyaHonda Scoopy Karyawan Pabrik Raib
Berita berikutnyaForkopimda Jatim Melaksanakan Video Virtual Ceremonial Pelepasan Ekspor Komoditas Pertanian

Tinggalkan Balasan