Cerita Sopir Truk di Banyuwangi Alih Profesi Bikin ‘Bonsai Kelapa Cantik’, Akibat Covid-19

12741
Wayan Sujana ketika memamerkan hasil bonsai kelapa di depan rumahnya.

BANYUWANGI, (Kabarjawatimur.com) – Penyebaran virus corona atau covid-19 di seluruh dunia sangat terdampak pada perekonomian. Termasuk, di Banyuwangi, Jawa Timur.

Ya, Wayan Sujana (55) warga Dusun Gedung Sumur, Desa Kedung Gebang, Kecamatan Tegaldlimo, Banyuwangi ini sebelum masa pandemi covid-19, dirinya berprofesi seorang sopir truk. Namun, kini untuk menghidupi keluarganya dia terasa terdampak. Maka dari itu dia beralih profesi sebagai petani ‘Bonsai Kelapa Cantik’. Apa itu ?

Bonsai kelapa ini bukanlah bonsai pohon pada umumnya. Melainkan bonsai pohon kelapa yang disulap cantik. Wayan, sapaan akrabnya memilih kelapa untuk dijadikan bonsai juga bukan tanpa alasan.

Perawatannya, lanjut Wayan, tidak begitu rumit. Selain unik, bonsai ini memiliki nilai seni yang cukup tinggi. Ide ini, oleh Wayan didapat ilmu dari Pulau Bali, lantaran bonsai ini laris banyak di gandrungi, apalagi nilai jualnya hingga jutaan rupiah.

“Jadi saya iseng-iseng karena sejak ada corona, jadi sopir seperti saya ini sepi  kiriman, jadi enggak ada kegiatan. Dan di sekitar rumah banyak pohon kelapa, saya coba jadikan bonsai. Eh, ternyata bisa,” ucap Wayan, pada Minggu (31/5/2020).

Butuh ketelatenan agar bonsai tidak mudah mati di masa pembibitan. Bibit bonsai ini berasal dari buah kelapa yang sudah tua dan mengering. Namun, jika dibiarkan, tunas di dalam buah kelapa yang sudah berwarna coklat ini akan muncul dengan sendirinya.

Baca Juga  Masa Karantina Ponpes Berakhir, Pemkab Banyuwangi: Terima Kasih Semuanya

“Nah, kalau sudah muncul tunas sepanjang 5 centimeter di pucuk buah, barulah ijuk kelapa ini kita kupas sampai kelihatan akarnya dan terlihat batok kelapanya. Nanti batok kelapa dan akar itu kita biarkan di atas botol berisi air agar akarnya halusnya bisa tumbuh ke bawah ke dalam botol berisi air. Proses ini adalah proses pertama mengkerdilkan pohon kelapa,” cetus Wayan.

Bonsai kelapa dipajang didepan rumah Wayan Sujana

Selama proses pengkerdilan ini, bibit bonsai kelapa cukup dibiarkan saja hingga satu bulan lamanya. Namun, agar bibit tak mati, batok kelapa harus sering disiram air agar tetap terlihat basah.

Loading...

Jadi, masih Wayan, akarnya dibiarkan tumbuh memanjang ke bawah. jika akar sudah sampai dasar botol air mineral, baru batok kelapa ini kita angkat lalu kita pindah ke media tanah dengan pot bunga dan jadilah bonsai pohon kelapa.

“Kalau sudah berusia enam bulan tampilan bonsai nya semakin cantik. Jika biasanya pohon kelapa bisa tumbuh bisa sampai puluhan meter, karena dibonsai tingginya nanti paling hanya mencapai 30 centimeter saja,” ujar Wayan.

Baca Juga  Masa Karantina Usai, 171 Santri Dinyatakan Sembuh
Bonsai kelapa karya Wayan Sujana

Kemudian, agar bonsai kelapa ini tumbuh dengan subur dan kerdil secara maksimal, Wayan juga rutin melakukan perawatan dengan selalu mengupas daun pohon yang mengering dan tak lupa selalu menyiramnya dengan air setiap hari

Dalam seminggu sekali media tanahnya juga harus rutin diberi obat menggunakan penyedap rasa masakan (vetsin), agar bonsai tetap tumbuh subur.

“Kalau di Bali bonsainya bagus-bagus, batok kelapanya kadang malah dibiarkan dan divernis, dan itu menambah nilai jual karena nilai seninya lebih tinggi,” jelasnya.

Sekedar diketahui, Wayan adalah seorang sopir truk Fuso yang biasa mengirim barang ke Surabaya, Bali. Dia sangat optimis dengan usaha pertanian yang digelutinya ini bisa mengatasi dampak covid-19.

Dalam satu pot bonsai, Wayan mematok harga Rp 300 ribu. Dia juga mengajak kepada masyarakat lainnya untuk tetap semangat survive, meski ekonomi sedang sulit.

“Mari kita berfikir kreatif dan tak hanya berpangku tangan kepada pemerintah saja,” pungkasnya. (*)

Reporter: Rochman

Loading...

Tinggalkan Balasan