Bos KSP Tinara Gelapkan Rp 270 Milyar, Kasusnya Diduga Mandek ?

153
Tim Kuasa Hukum korban

SURABAYA, (Kabarjawatimur.com) – Bos Koperasi Simpan Pinjam Tinara Banyuwangi yang terjerat kasus penipuan dan penggelapan masih belum sepenuhnya tuntas.

Para nasabah, masih menunggu tanggung jawab Linggawati Wijaya dan Budi Hartadi selaku pemilik Koperasi untuk mengembalikan uang mereka sebesar kurang lebih Rp. 270 Milyar.

Bahkan, Linggawati telah ditetapkan sebagai tersangka pada Oktober 2021, usai dilaporkan sembilan korbannya di Polda Jawa Timur pada 2020.

Sudah Tersangka, namun hingga kini Linggawati masih belum ditahan oleh kepolisian.

H. Abdul Malik, kuasa hukum para korban menyayangkan proses hukum kepada Linggawati dan suaminya selaku bos KSP Tinara yang dinilai lelet.

Bahkan, meski sudah ditetapkan tersangka, Linggawati masih dapat beraktifitas seperti biasa di luaran.

“Ini yang kami sayangkan. Tersangka ini menggelapkan ratusan milyar dana nasabahnya. Untuk jalan keluar negeri, beli rumah mewah. Sampai sekarang juga belum ditahan. Ada pasal pencucian uang yang dijeratkan, yang kami takutkan, tersangka ini menghilangkan barang bukti atau bahkan kabur melarikan diri. Polisi harus tegas,” kata Malik, Rabu (16/2/2022).

Baca Juga  Bertengkar, Suami Siri Tega Bunuh Istri lalu Rampas HP dan ATM Korban

Penetapan tersangka terhadap Linggawati, menurut Malik dinilai terlalu lama.

Kasus itu, dilaporkan pada 27 Februari 2020 dan baru akhir tahun 2021, polisi subdit Perbankan Ditreskrimsus Polda Jatim menetapkannya sebagai tersangka usai dikawal oleh Komisi III DPR RI.

“Ada peran bapak-bapak Komisi III DPR RI yang peduli dengan nasib nasabah ini. Akhirnya baru ditetapkan tersangka,” sebutnya.

Setelah selesai di kepolisian, kasus yang ditangani Malik mewakili sembilan nasabah dengan kerugian kurang lebih 14 Milyar harus mengalami hambatan kembali.

Loading...

Kali ini, Malik blak-blakan menyebut adanya oknum jaksa yang diduga bermain dengan seorang yang disebut-sebut sebagai makelar kasus.

Malik menyebut, oknum jaksa dari kejaksaan tinggi Jawa Timur berinisial RHB itu memberikan saran kepada seorang makelar kasus berinisial S yang membantu perkara tersangka Linggawati Wijaya.

“Oleh RHB, meminta tersangka untuk mendaftarkan gugatan perdata di PN Banyuwangi terkait kepemilikan Koperasi agar kasusnya dihentikan sementara oleh penyidik. Itu disampaikan RHB kepada S. Makelar kasus yang bantu tersangka ini,” sebut Malik.

Baca Juga  Warga Glenmore Kembali Soroti PT IGG

Bukan hanya itu, Malik yang geram lantaran kasus ini tak kunjung P21 memilih menyurati Presiden, Jaksa Agung, Menkopolhukam dan Jaksa Pengawas pusat berharap akan memberikan teguran dam supervisi atas kasus ini.

“Padahal kasus yang serupa dengan ini, yakni terdakwa Notaris Devi Chrisnawati yang mengajukan pailit sudah bisa inkrah dan sekarang ada dua sidang lagi di PN Surabaya yang dilaporkan oleh orang lain dan kejaksaan, dua-duanya di P21. Ini kan bisa jadi acuan,” terangnya.

Malik juga siap jika dikonfrontir oleh Kejagung atas apa yang sudah ia sampaikan.

“Saya siap. Akan memberitahu nama oknum jaksa dan markusnya. Ini kan jadi preseden buruk. Hukum jadi rusak dengan hal-hal seperti ini,” tandasnya.

Sementara itu, disinggung terkait pengawasan terhadap jaksa penuntut yang tengah menangani perkara tersebut, Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Timur, Haruna Mandar masih akan melakukan pengecekan terhadap kasus KSP Tinara yang ditangani oleh jaksa RBH.

“Nanti kami cek dulu ya,” singkat dia.(*)

Reporter: Eko

Loading...
Artikulli paraprakOmicron Ugal-Ugalan di Jember, Gereja dan Perkantoran disemprot Disinfektan
Artikulli tjetërTahunan Keruk Gunung Sadeng ‘Gratisan’, Pemkab Jember Evaluasi 16 Pengusaha Tambang

Tinggalkan Balasan