BI Menilai 35,29% Ponpes Punya Aset Besar

72
Inkubator Bisnis: Potensi kembangkan wirausaha pesantren mandiri dan menciptakan santripreneurship

SURABAYA (kabarjawatimur.com) – Pengembangan ekonomi dan keuangan syariah jadi fokus Bank Indonesia. Kesepakatan ini juga tertuang dalam penandatanganan kerjasama program inkubator bisnis pesantren berbasis syariah bersama 17 pondok pesantren di Jawa timur.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur, Benny Siswanto saat mengunjungi Pondok Pesantren Sunan Drajat menyampaikan potensi ekonomi yang dapat dioptimalkan di lingkungan pesantren dapat mendukung adanya peningkatan kesadaran, pengetahuan, dan motivasi para santri, alumni dan masyarakat,
baik yang berada lingkungan pondok pesantren maupun masyarakat umum, dalam berwirausaha.

“Kegiatan inkubator bisnis di ponpes ini BI bertujuan memperkuat koordinasi, komunikasi dan sinergisitas dalam melaksanakan program inkubator bisnis pesantren berbasis syariah. 6 (enam)Ponpes diantaranya (35,29%) dinilai sudah memiliki bisnis yang baik dengan aset yang besar” jelasnya, Jumat (14/10/2016).

Benny menambahkan, upaya membangun dan memperkuat basis jaringan dan keterkaitan bisnis antar pesantren juga diperlukan sinergitas saling mendukung. Terutama yang berada di Jawa Timur mampu berkontribusi mengembangkan rekomendasi kebijakan strategis kewirausahaan di pondok pesantren.

Baca Juga  Sosialisasi Pentingnya 1000 Hari Pertama Kehidupan, Bersama Dokter Anak dan Kominfo Bojonegoro

Sementara pimpinan pondok pesantren Sunan Drajat, KH. Abdul Ghofur mengaku kegiatan wirausaha yang sudah berjalan di pesantren setiap bulan membutuhkan pengeluaran sekitar Rp1 Milyar. Ini menandakan semua potensi usaha pesantren sangat pesat, baik usaha mikro sampai makro kebutuhan industri pabrikan bisa dihasilkan.

Loading...

“Putaran Rp1Milyar itu bisa dirinci mulai kebutuhan makanan, minuman dan kegiatan membuat bahan baku pupuk, kebutuhan air mineral, bahan baku pembuatan kaca sampai dengan kebutuhan infrastruktur seperti pengurukan untuk bangunan gedung dan jalan,” beber kyai nomer satu yang juga menyebut punya lahan sekitaran Ponpes Sunan Drajat seluas 140 hektare dan santri sebanyak 12 ribu.

Yang menarik, menurut KH Abdul Ghofur pengelolaan tenaga kerja dari pesantren lebih mudah ditata, asal ada yang tanggung jawab. Dukungan pemerintah setempat juga mendapat sinyal positif dari Wabup Lamongan, Hj Kartika Hidayati optimis kegiatan wirausaha pesantren juga turut mengurangi angka kemiskinan dan tingkat penganggguran Jatim.

Baca Juga  Aksi ke Empat Korban Cewek, Jambret ini Dibekuk

“Saat ini angka kemiskinan Kabupaten Lamongan sudah di angka 15%. Dan langkah peningkatan UKM berbasis syariah juga sekaligus upaya menciptakan santripreneur baru,” terangnya.

Faktor penting lain, sebut Kartika ekonomi syariah adalah bagian dari kebijakan finance menuju pengembangan bisnis baru melalui serangkaian bimbingan, pelatihan, jaringan profesional, dan bantuan dalam mengelola sekaligus memfasilitasi perolehan sumber keuangan di wilayah pesantren.

Penulis : Jefri Yulianto
Editor : Budi
Publisher: Gunawan

Loading...
Artikulli paraprakIbu Anak Kompak Ikut Pelatihan BacaCepat
Artikulli tjetërMaling Naas, Tertangkap Curi Laptop Babak Belur Dimassa

Tinggalkan Balasan