Begini Cerita Kajari Jember Sebagai Penyintas Covid-19

264
Sembuh dari Covid-19 Prima Idwan Mariza makin giat gowes.

JEMBER, (Kabarjawatimur.com) – Salah seorang pejabat di Jember dinyatakan sembuh dari Covid-19. Kepala Kejaksaan Negeri Jember, Prima Idwan Mariza telah dinyatakan sembuh dari Covid-19. Sebagai penyintas dirinya membagikan kisahnya berjuang melawan virus corona selama sekitar 2 minggu.

Menurut Prima, kunci dari kesembuhannya adalah keyakinannya kepada Allah SWT akan menyembuhkannya.

“Kuncinya, 70 persen yakin Allah akan menyembuhkan kita. Lalu 30 persen sisanya baru obat-obatan dan dokter atau pendekatan medis. Berprasangka positif pada Allah, karena di balik kesulitan ada kemudahan, sesuai dalam QS Al-Insyirah ayat 6,” ujar Prima saat dikonfirmasi awak media, Senin (26/10/2020).

Langkah prima untuk membagikan kisahnya sembuh dari Covid tak lepas dari dorongan koleganya sesama jaksa, Didik Farhan Alisyahdi yang kini menjabat sebagai Kepala Pusat Data Statistik Kriminal dan Teknologi Informasi (Kapusdaskrimti) Kejagung.

Antara Prima dengan Didik punya kedekatan emosional karena pernah satu angkatan saat promosi eselon 3 pada tahun 2012. Selain itu, Prima didorong untuk berbagi kisah kesembuhan karena Didik punya pengalaman sedih terkait virus asal Tiongkok itu.

“Sepupu beliau, seorang notaris di Mojokerto tidak tertolong karena Covid-19. Beliau berharap saya berbagi cerita dan pengalaman untuk belajar melawan ganasnya virus Covid 19 ini,” jelas pria asal Sumatera Barat ini.

Putera dari Mardanas Safwan, Minang terkemuka ini menuturkan, awal dirinya terdeteksi Covid-19 pada 15 September 2020 lalu, berdasarkan hasil rapid test yang menunjukan dirinya reaktif.

“Tes ini menandakan bila seseorang terinfeksi virus, maka secara alami tubuh akan membentuk anti bodi,” tutur Prima.

Petugas dari Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Kabupaten Jember saat itu belum begitu yakin dengan hasil tersebut, karena hasilnya masih terlihat samar. Karena itulah keesokan ia tetap bekerja seperti biasa di kantor. Siang harinya tepatnya pada 16 September dilakukan pengambilan sampel darah kembali.

“Beberapa jam kemudian, petugas baru yakin dan saya tetap dinyatakan reaktif. Untuk itu langsung saya memutuskan melakukan isolasi mandiri di rumah jabatan,” jelas Prima.

Prima juga melaporkan hasil itu kepada Ketua Satgas Covid-19 Jember, yakni Bupati Faida.

Prima kemudian menjalani tes swab, sembari menunjuk Pelaksana Harian Kajari. Saat itu, juga seluruh pegawai Kejari Jember diminta untuk mengikuti rapid tes juga,dan yang reaktif langsung diminta Swab. Total, terdapat 66 pegawai Kejari Jember yang mengikuti rapid test, 9 orang dinyatakan reaktif.

Baca Juga  RAP Pembangunan Jembatan, Berikut Penjelasan Dana Dusun Jubellor

“Dari 9 orang yang reaktif itu, 5 orang diantaranya positif Covid 19 termasuk saya. Dengan adanya hasil ini, orang yang positif Covid melakukan isolasi mandiri. Kantor Kejaksaan Negeri Jember tutup selama tiga hari mulai Jumat untuk dilakukan penyemprotan disinfektan pada seluruh ruangan kantor,” jelas Prima.

Untuk diketahui juru bicara Satgas Covid-19 Pemkab Jember, Gatot Triyono masih enggan membuka keterangan tentang adanya klaster Covid-19 di Kejari Jember. Konfirmasi langsung justru datang dari Kejati Jawa Timur pada keesokan harinya, yakni Sabtu 20 September 2002.

“Saya membuat laporan kepada Pimpinan dengan petunjuk para pegawai melakukan aktivitas secara work from home (WFH), bekerja di rumah selama 14 hari, cukup sekitar 30 % saja yang di kantor, para pejabat struktural dan pegawai yang melakukan pekerjaan yang bersifat pelayanan kepada masyarakat,” jelas Prima.

Loading...

Prima termasuk pasien Covid-19 asimptomatik atau biasa disebut Orang Tanpa Gejala (OTG). Sebab, sejak dinyatakan positif Covid-19, Prima tidak merasakan gejala seperti demam, batuk, sesak nafas dan tanda-tanda umum lainnya.

Pada umumnya, pasien OTG lebih cepat penyembuhannya ketimbang yang memiliki penyakit bawaan (kormobid). Namun, kondisi ini tetap membuat perasaam Prima menjadi tidak nyaman.

“Ada stigma negatif bila terinfeksi Covid 19, terutama dari orang yang mempunyai pemahaman kurang terhadap penyakit ini. Perasaan tidak nyaman saya lawan dengan mempelajari secara lebih serius tentang Covid 19,” tutur Prima.

Dari beberapa referensi yang didapatkan Prima dari berbagai sumber, ada 3 faktor yang berperan terjadinya penyakit Covid 19 ini. Yakni inang (manusia itu sendiri); Agent/kuman; dan Environment/Lingkungan.

“Proses terjadinya penularan Covid 19 dipengaruhi oleh ketiga faktor diatas, yang saling berkait satu sama lain. Bila virusnya banyak dan ganas dapat menimbulkan gejala-gejala penyakit sebagaimana tersebut diatas seperti muncul batuk dan sesak nafas dan tanda-tanda umum lainnya apabila terinfeksi Covid 19, faktor manusia dipengaruhi oleh imunitas tubuh seseorang serta faktor lingkungan, bagaimana menjaga lingkungan agar tetap bersih dan sehat,” papar Prima.

Baca Juga  Bawa Ratusan Miras, Pasutri di Surabaya Berurusan dengan Polisi

Selama proses penyembuhan itu, Prima terus berupaya mendekatkan diri kepada Sang Pencipta dengan rajin beribadah, solat, membaca ayat suci Al Quran. Ia berpegang pada beberapa surat dalam Al-Quran yang menyatakan bahwa di balik kesulitan ada kemudahan. Juga perintah untuk bekerja keras bila telah selesai mengerjakan suatu pekerjaan.

Sejak dinyatakan positif Covid-19, Prima mengaku bersyukur telah mendapat perhatian dan dukungan moril dari keluarga dan koleganya. Jamu atau pengobatan herbal serta buah-buahan yang dikirim oleh berbagai pihak, dirasa Prima turut berperan signifikan dalam proses kesembuhannya ini. Ia mengaku tidak hafal jamu apa saja yang ia konsumsi selama proses penyembuhan itu.

Bahkan obat herbal yang dikonsumsi pria berhobi gowes ini sangat beragam.

“Herbalnya kelewat banyak mas, mungkin ada 10 jenis. Banyak yang kirim ke saya dengan harapan saya cepat sembuh. Baca Bismillah,” ujar Prima.

Selama menjalani isolasi diri di rumah, Prima juga giat berolahraga untuk menjaga kebugaran. Seisi rumah juga ia bersihkan secara mandiri sebagai salah satu aktivitas positif. Aktivitas positif lainnya juga dilakoni Prima seperti membaca buku, menonton film dan musik kesukaan sehingga menimbulkan rasa senang.

“Karena motivasi dari dalam diri untuk sembuh ini menjadi faktor utama. Harus yakin akan sembuh,” tegas Prima.

Kabar baik akhirnya diterimanya. Dari hasil tes swab terakhir menyatakan Prima negatif Covid-19. Atas hasil tersebut, Prima menaku sangat bersyukur.

“Banyak hikmah spiritual yang saya dapatkan. Dukungan keluarga dan teman-teman, dan semangat dalam diri untuk sembuh, menghindari stres, sangat membantu. Kita juga harus menerapkan protokol kesehatan yaitu dengan memakai masker, rajin mencuci tangan dengan sabun dan hand sanitizer, serta menjaga jarak, melakukan pengecekan suhu, kenali dan pahami penyakit Covid 19 secara benar,” pungkas Prima.

Bila mengacu pada Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Covid-19 yang dibuat Menkes pada 13 Juli 2020, pasien OTG tidak harus menjalani tes swab ulang, jika hasil dalam 10 hari setelah dinyatakan negatif, tidak muncul gejala.

Reporter: Rio

Loading...
Artikulli paraprakSelamat Atas Dilantiknya Roem Kono sebagai Duta Besar RI untuk Bosnia-Herzegovina
Artikulli tjetërWarga Sekitar Rel Ngagel Baru Komitmen Menangkan Eri-Armuji

Tinggalkan Balasan