Bank Indonesia Pertahankan Reverse Repo Rate, Selama Wabah Covid-19

Direktur Bank Indonesia

SURABAYA, (Kabarjawatimur.com) – Bank Indonesia masih mempertahankan Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 4,50%, suku bunga Deposit Facility sebesar 3,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 5,25%, selama 7 hari. Keputusan tersebut tertuang pada rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 13-14 April 2020.

Keputusan yang diambil merupakan pertimbangan perlunya menjaga stabilitas eksternal di tengah ketidak pastian pasar keuangan global yang saat ini masih relatif tinggi, meskipun Bank Indonesia tetap melihat adanya ruang penurunan suku bunga dengan rendahnya tekanan inflasi dan perlunya mendorong pertumbuhan ekonomi.

Langkah yang diambil berfungsi sebagai stabilisasi dan penguatan nilai tukar Rupiah, Bank Indonesia meningkatkan intensitas kebijakan triple intervention baik melalui spot, Domestic Non-deliverable Forward (DNDF), maupun pembelian SBN dari pasar sekunder.

Juga untuk mendukung upaya pemulihan ekonomi nasional dari dampak COVID-19, Bank Indonesia akan meningkatkan pelonggaran moneter melalui instrumen kuantitas (quantitative easing).

Dilanjutkan manajemen likuiditas perbankan dan sehubungan dengan penurunan GWM Rupiah tersebut, Bank Indonesia menaikkan Rasio Penyangga Likuiditas Makroprudensial (PLM) sebesar 200 bps untuk Bank Umum Konvensional dan sebesar 50 bps untuk Bank Umum Syariah/Unit Usaha Syariah, mulai berlaku 1 Mei 2020.
Kenaikan PLM tersebut wajib dipenuhi melalui pembelian SUN/SBSN yang akan diterbitkan oleh Pemerintah di pasar perdana.

Loading...

Dan juga semakin memperluas penggunaan transaksi pembayaran secara nontunai dalam memitigasi dampak COVID-19, Bank Indonesia meningkatkan berbagai instrumen kebijakan sistem pembayaran.

Di tengah wabah pandemi Covid-19 kelancaran sistem pembayaran baik tunai maupun non tunai masih terjaga. Posisi uang Karta yang diedarkan masih tumbuh sekitar 7,53 persen dan terjadi peningkatan transaksi digital.
Sementara itu transaksi non tunai menggunakan ATM, Kartu Debit, Kartu Kredit, dan Uang Elektronik pada Februari 2020 terlihat menurun sejalan dengan terjadinya penurunan aktivitas ekonomi.

Namun demikian, pembayaran masyarakat menggunakan transaksi digital pada Maret 2020 diprakirakan meningkat sejalan kenaikan kebutuhan transaksi ekonomi dan keuangan digital (EKD) di periode pembatasan mobilitas masyarakat.

Hal tersebut diutarakan oleh Perry Warjiyo selaku Gubernur Bank Indonesia. Pihaknya mengapresiasi berbagai upaya yang dilakukan oleh pelaku EKD untuk mendorong penggunaan pembayaran nontunai.

“Termasuk mendukung program pemerintah dalam menyalurkan dana bantuan sosial melalui pembayaran nontunai,” ujarnya.

Upaya yang ditempuh pelaku EKD ini tidak hanya mendukung akitivitas ekonomi sehari-hari tetapi juga meningkatkan efisiensi perekonomian. Ke depan, Bank Indonesia bersama PJSP akan terus memperkuat transformasi digital untuk ekonomi Indonesia melalui penerapan Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia 2025, termasuk peningkatan akseptasi QRIS secara meluas di merchant UMKM dan pasar tradisional, lembaga pendidikan, lembaga sosial dan tempat ibadah.

Reporter: Rusmiyanto

Loading...
Berita sebelumyaPolisi Tutup Sepanjang Jalan Pandegiling Surabaya
Berita berikutnyaAntrian SIM Mengular Diluar Gedung, ini Penjelasan Polisi

Tinggalkan Balasan