Bojonegoro(Kabarjawatimur.com) – Maraknya aktivitas pertambangan pasir oleh masyarakat yang berada di sekitar aliran Sungai Bengawan Solo khususnya yang terletak di Desa Mulyorejo Kecamatan Balen kembali beroperasi dan menimbulkan isu pertanyaan terkait perizinan yang berbau ilegal.

Warga desa sekitar bantaran sungai terpanjang di Pulau Jawa itu, mengaku resah oleh aktivitas para pekerja tambang pasir. Sebab, dikhawatirkan bisa menimbulkan dampak longsor maupun bahaya lain yang berbentuk bencana.

Bagaimana tidak? Pasir – pasir yang ada di kedalaman Bengawan, jika terus diambil untuk diangkat, diangkut, dan dijual, dapat memicu perpindahan letak topografi wilayah Bengawan.

“Kalo Penambangan Pasir di Desa Mulyorejo Kecamatan Balen ini kalau siang manual (keduk, Red) tapi kalau malam biasanya pakai diesel (mesin), ujar Salah satu warga yang tidak mau disebutkan Namanya.

Baca Juga  Bioskop Akan Dibuka, Satgas Covid-19 Pastikan Tetap Patuhi Prokes
Loading...

Selain dampak kebisingan yang di keluhkan warga sekitar, kegiatan ini juga berdampak pada aktivitas lalu lintas warga, apalagi Di musim yang tidak menentu seperti ini, kalau panas warga harus berperang dengan Debu dan kalau hujan jalananan Desa Becej akibat Aktifitas Kendaraan muatan pasir yang hilir mudik keluar masuk melewati Jalan Desa setempat.

Dengan adanya keluhan warga, tim awak media ini mencoba menelusuri lokasi penambangan pasir di Desa Mulyorejo Kecamatan balen, ternyata betul adanya Kegiatan tersebut memang ada dan situasinya sangat ramai dengan antrian Dump Truck.

Melihat kondisi seperti ini, apalagi ini keluhan warga masyarakat Desa Setempat, melalui media ini memohon agar pihak berwajib menertibkan Aktifitas Penambangan Pasir Di wilayah Desa Mulyorejo kecamatan Balen.

Baca Juga  Butuh Uang Bayar Hutang, Pemuda ini curi Motor Tetangga Sendiri

Gondrong

Loading...
Berita sebelumyaWanita Paruh Baya Tewas dalam Kamar Hotel di Surabaya
Berita berikutnyaTukang Jagal di Gresik Bunuh Selingkuhan Usai 7 Tahun Menjalin Asmara

Tinggalkan Balasan