Aksi Demo Minta Arogansi Oknum TNI terhadap Jurnalis Diproses Hukum

38
Aksi demo mengecam oknum TNI yang melakukan penganiayaan jurnalis

SURABAYA (kabarjawatimur.com) Arogansi juga kekerasan yang dilakukan oleh oknum TNI terhadap jurnalis kembali terjadi. Nasib naas itu dialami seorang wartawan media Net TV kontributor Madiun, Soni Misdianto yang dihajar oleh oknum TNI AD Yonif 501 Raider saat melakukan tugas peliputan. Rekan se-profesi Soni melakukan aksi dan menuntut pihak yang bersangkutan di proses hukum sesuai dengan Undang-undang yang berlaku.

Kejadian itu bermula ketika Soni hendak melakukan peliputan terhadap rombongan konvoi Persatuan Pencak Silat Setia Hati Teratai (PSHT) yang hendak pulang setelah melakukan perayaan Suro Agung. Saat itu rombongan SH Teratai tersebut menabrak pengendara lain tepat di lampu merah perlimaan Keteaan Madiun.

Saat itu pula oknum anggota TNI AD Yonif 501 Raider Madiun dan menghajar rombongan PSHT tersebut, sontak Soni kemudian mengeluarkan kameranya dan melakukan peliputan atas kejadian itu sesuai dengan tugasnya. Namun ketika Soni melakukan peliputan, dari arah belakang tiba-tiba dipegang oleh salah seorang oknum anggota TNI AD Yonif 501 Raider Madiun dan kemudian dibawa ke Pos jaga.

Baca Juga  Mahasiswa UINSA Surabaya Belajar Transplantasi Terumbu Karang di Pantai GWD

Setelah sampai Pos itulah, kekerasan terhadap Soni dilakukan. Soni yang saat itu masih memakai helm dipukul dibagian kepala dengan sebatang besi, setelah itu mendapat pukulan di wajah dan tendangan dipantat. Bukan hanya itu, kamera Soni juga di rampas, dan memory card dirusak oleh oknum Anggota tersebut.

Loading...

Atas kejadian tersebut, Aliansi Jurnalis Korwil Surabaya dan beberapa wartawan menggelar aksi demo untuk menuntut dan mengecam aksi kekerasan yang dilakukan oleh oknum anggota TNI tersebut. Koordinator Aksi yang digelar di depan gedung Grahadi Surabaya, Hari Tambayong selaku wartawan kontributor RCTI mengatakan jika, aksi yang digelar, Senin (03/10/2016) ini merupakan bentuk solidaritas wartawan dan ungkapan protes terhadap seringnya profesi ini mendapat perlakuan kekerasan dari oknum-oknum aparat maupun instansi.

“Kami menuntut kasus ini agar diselesaikan secara hukum dan terbuka, karena perbuatan semacam ini tidak hanya sekali terjadi,” kata Hari di tengah aksi.

Senada dengan Hari Tambayong. Koordinator perwakilan dari Aliansi Jurnalis Independen Surabaya, Prasno Wardoyo juga menuntut agar kejadian kekerasan yang menimpa wartawan harus disikapi secara proporsional dan sesuai payung hukum yang berlaku.

Baca Juga  Lewat Pelatihan Handy Craft, Masyarakat Situbondo Serukan Sandiaga Nyapres

“Sudah jelas tertera di pasal 18 jo Undang-undang nomor 40 tahun 1999 tentang pers, jika siapapun yang melakukan pengahalangan secara sengaja terhadap wartawan, maka wajib hukumnya untuk diusut sesuai supremasi hukum yang berlaku, hal itu penting dilakukan, agar tidak lagi terjadi kasus serupa, mengingat hal semacam ini kurang ditangani secara serius, sehingga menjadi terus menerus terulang,” ujar Prasno Wardoyo,kepada kabarjawatimur. com.

Perlu diketahui, jika Panglima Kodam Brawijaya V, Mayjend TNI AD, I Made Sukadana sempat mengutarakan jika hal tersebut adalah kesalah pahaman dan akan diselesaikan secara damai. Aksi serupa juga terjadi berbagai daerah diseluruh Indonesia, seluruhnya menyuarakan juga menuntut agar pelaku pemukulan tersebut diadili agar kejadian serupa tidak terjadi lagi dan juga awak media mendapat kebebasan dalam menjalankan tugas sesuai dengan UU Dewan Pers.

Penulis : Ekoyono, Editor : Budi, Publisher : Gunawan

Loading...
Artikulli paraprakKorban Kanjeng Dimas Melapor ke Polres Pelabuhan Tanjung Perak
Artikulli tjetërMau Mancing Temukan Mayat

Tinggalkan Balasan