Akomodir Tuntutan Warga Mengare, JIIPE Gresik Minta Jeda Waktu 3 Hari

0
Warga tiga desa di Mengare Komplek saat melakukan audiensi dengan perwakilan JIIPE Gresik.

GRESIK, (Kabarjawatimur.com) – Puluhan warga Mengare Komplek (Watuagung. Tajungwidoro, dan Kramat) Kecamatan Bungah, Kabupetan Gresik, menggelar audiensi dengan pihak Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE) di balai desa Watuagung, Senin (13/6/2022).

Dalam audiensi itu, warga menyampaikan tiga poin tuntutan. Diantaranya perbaikan kerusakan alam atau normalisasi dampak adanya reklamasi, penyerapan tenaga kerja lebih diprioritaskan bagi warga ring satu, dan penyaluran Corporate Sosial Responsibility (CSR) lebih optimal.

“Kami meminta pertanggungjawaban pengelola JIIPE untuk memperbaiki tanggul tambak yang jebol dan terjadiya pendangkalan laut akibat adanya reklamasi,” ungkap Kepala Desa Tajungwidoro Mastain usai audiensi.

Hal senada diutarakan oleh salah seorang warga Abdul Amin. Dia berkata banjir rob memang sudah ada sejak puluhan tahun lalu. Bahkan sebelum JIIPE berdiri di Gresik. Namun, dampaknya tidak sampai ada tambak jebol

“Sejak ada reklamasi JIIPE ketika banjir rob banyak tambak yang jebol, dan terlihat seperti lautan. Jumlahnya mencapai ratusan hektar,” ujarnya.

Baca Juga  Sambil Bawa Kambing, Aliansi WC Gresik Desak Oknum DPRD Terlibat Pernikahan Nyeleneh Ditindak Tegas

Selain itu, tuntutan warga Mengare selanjutnya adalah penyerapan tenaga kerja yang selama ini tidak jelas. Banyak warga Mengare yang melamar kerja di lingkungan JIIPE tidak diterima dengan alasan tidak ada lowongan.

“Harus ada mekanisme yang jelas dalam penyerapan tenaga kerja. Sehingga alurnya jelas kemana warga akan mencari pekerjaan,” imbuhnya

Kemudian terkait penyaluran CSR yang selama ini dinilai minim dan tidak jelas. Ke depan warga meminta penyaluran CSR untuk Mengare Komplek lebih diprioritaskan.

Loading...

“Kami meminta ketiga tuntutan itu disetujui dan direalisasikan. kalau tidak warga Mengare akan turun jalan,” paparnya.

Menanggapi tuntutan warga, perwakilan JIIPE, Mifti Haris menyatakan akan menyampaikan aspirasi tersebut kepada pimpinannya. Oleh karena itu, pihaknya meminta jeda waktu tiga hari untuk memberikan jawaban atas tuntutan tersebut

“Setelah audiensi ini saya akan langsung menyampaikan hasil audiensi ke pimpinan. Tapi kami minta waktu tiga hari untuk memberikan jawaban,” ujar Mifti.

Baca Juga  Berangkatkan Calon Jemaah Haji, Bupati Titip Doa Untuk Lamongan

Dia membeberkan, terkait adanya tuntutan warga untuk dilakukan normalisasi kali dan perbaikan tanggul tambak yang jebol, pihaknya berpendapat perlu ada pemetaan terlebih dahulu untuk menentukan prioritas penanganannya.

“Harus dipetakan dulu, lokasi mana yang harus dikerjakan dulu. Tentu harus dilakukan bersama-sama dengan masyarakat,” kata Mifti

Mifti membantah bahwa reklamasi bukan menjadi penyebab jebolnya tambak diwilayah Mengare. Semua murni faktor alam. Hal itu juga terjadi di beberapa wilayah di Indonesia.

“Seperti di Surabaya, Semarang dan daerah lain juga mengalami banjir akibat air laut naik atau banjir rob. Jadi murni karena faktor alam,” ujar Mifti.

Soal penyerapan tenaga kerja, Mifti menyebut, sudah sering menyampaikan ke perusahaan yang beroperasi di kawasan JIIPE. Penyerapan tenaga kerja untuk memprioritaskan masyarakat Gresik. Khususnya yang berada di sekitar perusahaan.

“Termasuk penyaluran CSR terus kami lakukan sesuai dengan kemampuan perusahaan,” pungkasnya. (*)

Reporter : Azharil Farich

Loading...
Artikulli paraprakRaih Elektabilitas Tinggi, Erick Thohir Sosok Baru Terkuat di Bursa Pilpres 2024

Tinggalkan Balasan