H. Abdillah Rafsanjani. FOTO: Istimewa

BANYUWANGI, (Kabarjawatimur.com) – Diduga ada praktek penghasutan massa dalam kasus perusakan di Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi. Karena perusakan yang diawali dengan aksi penghadangan kendaraan tersebut disinyalir dimotori oleh sejumlah oknum yang tidak memiliki legal standing.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Ketua Forum Suara Blambangan (Forsuba), H Abdillah Rafsanjani.

“Perlu diingat, penghadangan kendaraan dengan menghadirkan massa adalah bentuk pembangkangan terhadap Maklumat Kapolri terkait Covid-19,” ujarnya, pada Minggu (29/3/2020).

Abdillah Rafsanjani menjelaskan, virus Corona adalah bencana nasional, bahkan dunia. Dan yang berhak untuk menerapkan pemberlakukan keadaan darurat adalah negara. Maka harus dipahami oleh masyarakat, yang berhak untuk memberikan peringatan kepada siapa pun adalah aparat negara.

“Jadi terkait penghadangan armada kendaraan di Sumberagung, Pesanggaran, itu murni pidana. Aparat harus tegas jika tidak ingin kecolongan untuk wilayah lain,” tegasnya.

Abdillah menjabarkan beberapa indikasi pidana atau pelanggaran hukum dalam aksi penghadangan kendaraan di pertigaan Lowi, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Jumat lalu (27/3/2020).

Baca Juga  Apes, Sikat Tas Dalam Mobil Diteriaki Maling

Menurutnya, pertama, gerakan massa diduga kuat dilakukan tanpa pemberitahuan kepada instansi terkait.

“Dan imbas gerakan, kini ada pihak lain yang dirugikan, hanya saja pihak yang dirugikan harus lapor,” jelasnya.

Kedua, lanjutnya, gerakan mengumpulkan massa disaat situasi darurat Covid-19, jelas sebuah bentuk pembangkangan terhadap penegakan hukum dan rasa keamanan masyarakat.

Hal tersebut, kata Abdillah, dikhawatirkan justru kelompok massa ini yang justru akan menularkan virus Corona di wilayah Sumberagung.

Loading...

“Langkah preventif memang harus dilakukan oleh pihak kepolisian, kecuali situasi memaksa, Undang-Undang darurat harus ditegakan. Dan jika tidak ada kewenangan melakukan penegakan hukum, tapi berbuat dengan dalih menegakan hukum, itu namanya main hakim sendiri,” ujar Abdillah yang merupaksn sesepuh Gerakan Pemuda (GP) Ansor Banyuwangi dan mantan Panglima Pasukan Berani Mati era Gus Dur ini.

Yang perlu digaris bawahi, saat oknum tidak berwenang melakukan ajakan menghadang kendaraan dengan dalih mencegah penyebaran virus Corona, patut diduga itu adalah upaya penghasutan kepada masyarakat. Mengingat warga sudah cukup resah dengan penyebaran Covid-19. Dan ketika mendapat kabar tentang virus Corona, sudah tentu akan simpati dan ikut tergerak.

Baca Juga  Warga Jabon Dukung H Khulaim Junaidi Dorong Bangun SMAN di Jabon

“Patut diduga sebuah tindakan penghasutan, unsurnya, yang mengajak tidak memiliki legal standing, massa terprovokasi dan melakukan tindakan pidana, dilakukan dimuka umum, dilakukan secara massal dan ada kerugian materiil,” paparnya.

“Karena yang memiliki legal standing terait virus Corona ini adalah Dinas Kesehatan dan Kepolisian,” tambahnya.

Sekedar diketahui, pada Kamis malam (26/3/2020) hingga Jumat siang (27/3/2020) sekelompok massa melakukan penghadangan kendaraan di pertigaan Lowi, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi. Sebagai tindak lanjut Maklumat Kapolri, Polresta Banyuwangi, membubarkan kerumunan massa tersebut.

Namun, diduga tidak terima, massa berubah anarkis. Mereka melakukan pelemparan batu. Akibatnya 13 rumah warga, 2 mobil dan lebih dari 60 unit motor dikabarkan mengami kerusakan. Kasus ini sedang dalam penanganan petugas kepolisian. (*)

Reporter: Rochman

Loading...
Berita sebelumyaTokoh Aktivis Banyuwangi Minta Polisi Usut Tuntas Insiden Perusakan di Pesanggaran
Berita berikutnyaTak Mau Tetap Tinggal Dirumah, Ribuan Orang Diamankan Polisi

Tinggalkan Balasan