12 Hari Operasi Pekat, 132 Orang Diamankan Polisi Banyuwangi

17
Operasi Pekat Semeru 2022 Polresta Banyuwangi berhasil mengungkap berbagai kasus.

BANYUWANGI, (Kabarjawatimur.com) – Dalam Operasi Pekat Semeru 2022 Polresta Banyuwangi berhasil mengungkap berbagai kasus.

Sejauh ini, ungkap kasus Operasi Pekat Semeru 2022 tersebut untuk meminimalisir tindakan kriminalitas di wilayah Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

Operasi Pekat Semeru 2022 ini, Polresta Banyuwangi menerima sebanyak 125 laporan Polisi yang terdiri dari laporan ke Polresta hingga di Polsek Jajaran.

Adapun rincian kasus Operasi Pekat Semeru 2022 yang menjadil laporan adalah kasus perjudian 20 laporan, prostitusi 1 laporan, pornografi 5 laporan, premanisme 17 laporan, penyalahgunaan narkoba 45 laporan, dan miras 37 laporan.

Kapolresta Banyuwangi AKBP Deddy Foury Millewa melalui Wakapolresta Banyuwangi AKBP Didik Harianto mengatakan, dari 125 laporan tersebut, aparat Kepolisian Polresta Banyuwangi berhasil mengamankan 132 tersangka.

Dalam kasus perjudian sendiri ada 24 tersangka. Kemudian, prostitusi 1 tersangka. Selanjutnya, pornografi 5 tersangka. Lalu, premanisme 18 tersangka. Penyalahgunaan 47 tersangka. Dan, miras 37 tersangka.

Operasi Pekat Semeru dengan sasaran handak (bahan peledak atau mercon), Narkoba, premanisme, prostitusi, pornografi, judi, Miras, petugas atau oknum aparat yang menjadi becking tindak pidana),” ujar Wakapolresta Banyuwangi, pada Senin 20 Juni 2022.

Baca Juga  Suparmin Ajak Warga Banyuwangi Waspada Isu Tak Jelas

AKBP Didik menerangkan bahwa perkara Prostitusi, modus operandinya adalah para pelaku mengirimkan beberapa foto perempuan/wanita melaluai media sosial Whatsapp dan menyepakati harga dan lokasi pertemuan.

Loading...

Sedangkan perkara pornografi para pelaku menyebarkan dan membagikan foto atau vidio yang mengandung konten kesusilaan, dengan cara menyebarkan melalui media sosial (Twitter).

Jajaran Satreskrim juga berhasil mengamankan 18 (delapan belas) orang pelaku aksi pungutan liar (Pungli) dengan menyuruh preman yang melakukan tindakan kriminal di lapangan. Seperti mencuri, merampas handphone, memeras, dan melakukan pengrusakan.

“Untuk perkara Prostitusi kami sangkakan dengan pasal 296 KUH Pidana dan/atau pasal 27 ayat 1 juncto pasal 45 ayat 1 undang-undang nomor 19 tahun 2016 tentang perubahan atas undang-undang nomor 11 tahun 2008 dan/atau pasal 2 ayat 1 nomor 21 tahun 2017 tentang pemberantasan tindak pidana perdagangan orang dengan pidana penjara paling lama 6 tahun dan/atau denda paling banyak Rp1 miliar,” papar Wakapolresta.

Baca Juga  Wanita Tergeletak, Shelter Stasiun Kertomenanggal Mendadak Ramai

Sedangkan perkara pornografi Polresta Banyuwangi menggunakan pasal 4 ayat (1) UU RI No. 44 tahun 2008 tentang Pornografi dan/atau pasal 27 ayat (1) UU RI No.19 tahun 2016 tentang perubahan atas UU No.11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dapat dipidana penjara paling singkat 6 bulan dan paling lama 12 tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp250 juta dan paling banyak Rp. 6 miliar.

AKBP Didik menegaskan bahwa pihaknya melakukan upaya maksimal dengan mengerahkan semua sumber daya yang ada baik di tingkat Polresta maupun Polsek Jajaran dan melalui Tim Opsnal Resmob yang bertugas di lapangan untuk melakukan penegakkan hukum secara tegas dan terukur kepada para pelaku tindak kejahatan yang berdampak meresahkan dan merugikan masyarakat. (*)

Reporter: Rochman

Loading...
Artikulli paraprakRibuan Santri di Malang Yakin UMKM Keislaman Mandiri
Artikulli tjetërIkuti Porprov Jatim, Atlet Bangkalan Disiapkan Bonus Rp 1 Miliar

Tinggalkan Balasan