1.230 Fintech Ilegal Ditutup OJK

11

JEMBER, (Kabarjawatimur.com) – Bisnis finansial atau keuangan berbasis teknologi (fintech) saat ini marak. Terbukti hingga kini telah bermunculan ribuan perusahaan fintech ilegal maupun legal.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) ada sekitar 1230 Fintech (Financial technology) Ilegal di Indonesia. Saat ini ada seribu lebih jasa keuangan berbasis teknologi informatika ini telah ditutup Satgas Waspada Investasi OJK Pusat.

Tindakan tegas penutupan fintech ilegal itu dilakukan, karena pelaku bisnis keuangan ini telah banyak merugikan nasabah serta munculnya tindakan negatif terkait sikap penagihan yang dilakukan.

“Penutupan yang dilakukan ini, karena Fintech Ilegal itu telah banyak melakukan tindakan penagihan yang kurang baik,” kata Ketua Satgas Waspada Investasi OJK Tongam L Tobing saat dikonfirmasi wartawan pada kegiatan Pemaparan tentang Fintech Ilegal di salah satu Bioskop Jember, Selasa sore (27/8/2019).

Baca Juga  Selain Barbershop, Pria ini Juga Punya Kerja Sampingan

Menurut Tongam, para pelaku penagihan melakukan teror kepada nasabah dengan berbagai cara termasuk mengunggah di media sosial.

“Teror itu dilakukan kepada keluarga nasabah hingga ada yang di upload ke media sosial,” ungkapnya.

Loading...

Ia menjelaskan, berdasarkan aturan yang telah ditetapkan, Fintech tidak boleh melakukan penagihan yang bisa membuat konsumen tidak nyaman. “Aturan ini sudah dipatuhi oleh fintech legal yang terdaftar oleh OJK,” katanya.

Berdasarkan data OJK sampai saat ini hanya ada 127 perusahaan fintech yang dinyatakan legal. “Dengan per 7 Agustus ini, dengan 15 perusahaan baru,” sambungnya.

Namun meski demikian, Tongam, masih khawatir akan operasinya fintech ilegal tersebut. Pihaknya meminta masyarakat untuk tidak tergiur oleh tawaran yang menjanjikan. Maka perlu dilakukan pengecekan secara seksama terhadap fintech tersebut.

Baca Juga  Iseng Rekam Wanita Mandi, Pria di Surabaya Ditangkap Polisi

Lebih jauh Tongam menyampaikan, pihaknya menyarankan masyarakat untuk bijak dalam memanfaatan fasilitas dari Fintech ini. “Pinjam sesuai kebutuhan dan kemampuan, jangan meminjam jika tidak mampu membayar. Jadi cerdas dalam meminjam. Pinjam pada usaha-usaha produktif, bukan konsumtif, pahami resiko dan kewajiban, juga denda dan bunganya. Jangan sampai menyesal,” tandasnya.

Reporter: Rio
Editor: Rochman

Loading...
Artikulli paraprakSempat Viral Anak Tendang Orang Tua, sang Ibu Tutup Usia
Artikulli tjetërMuscab Pemuda Pancasila Banyuwangi, Zamroni Terpilih Jadi Ketua 

Tinggalkan Balasan